alexametrics

Bendungan Pleret Semarang Dijaga Dua Naga

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Dibalik Kemegahan dan keindahan Bendungan Pleret ternyata menyimpan kisah mistis. Di lokasi tersebut kerap muncul sosok dua naga.

Bendungan Pleret merupakan peninggalan Belanda. Sebelum menjadi proyek besar di Kota Semarang, merupakan dam dari Goa Kreo di Banjir Kanal Barat. Waktu itu untuk tadah hujan, pembangunannya satu tahun dua bulan. Orang tua pasti mengetahui jika di Pleret view bagus. Tapi, menyimpan banyak kisah misteri.

“Di bendungan juga ada sosok Ki Pamling yang memberi peringatan masyarakat untuk berhati-hati di sekitar Bendungan Pleret,” kata Praktisi Spiritual Budaya Mbah Bejo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain itu, di tengah bendungan terdapat pemecah ombak. Dulunya sangar. Setiap ada banjir, atau malapetaka lainnya seperti orang yang tenggelam, di tengah pecah ombak ada orang yang tidak dikenal. “Namun, orang-orang situ pasti tahu mau ada sesuatu yang akan terjadi. Sampai sekarang pun masih ada. Namanya itu Ki Pamling,” tuturnya.

Baca juga:  Gadis Kecil Berpakaian Khas Belanda Berdiri di Halaman Gedung

Di dekat Bendungan terdapat terowongan yang dulunya letaknya menuju ke arah Polrestabes. Digunakan untuk pembuangan air. Di situ ada dua naga yang besar yang sering menampakkan sosoknya. “Itu sebenarnya pulau kecil yang dihuni banyak makhluk metafisik, sehingga kita bagusin saja dam tersebut,” katanya.

Hampir setiap tahun selalu ada orang tenggelam di Bendungan Pleret. Itu diyakini karena kurang memperhatikan bendungan. Selain itu, ada bendungan yang tertua di dekat Pleret yang belum diperbarui. Bendungan tersebut merupakan pengairan buka tutup peninggalan Belanda.

Diceritakan terdapat sinkronisasi Pleret dan Tugu Muda. Tugu Muda sebagai tempat pertempuran lima hari Semarang, sedangkan Pleret sebagai tempat persembunyian yang lewatnya di gorong-gorong. “Dulunya dr. Kariadi diracun, dan saya menemukan bangkernya yang ada di Rumah Sakit Kariadi,” tuturnya.

Baca juga:  Kerap Muncul Pocong dan Kuntilanak di Sendang Gede Pucung Banyumanik

Mbah Bejo mewanti-wanti masyarakat selalu berhati-hati dan jangan terlena kalau main di situ. Selain itu, para pemuda banyak yang berduaan akan terjadi pemutusan hubungan hati. “Apalagi di dam tidak lama kemudian orang pacaran langsung putus. Maka sekarang sepi untuk anak muda,” ungkapnya.

Sudah dua tahun ini Mbah Bejo melakukan Jamasan Tugu Muda setiap Suro. Menyambung ke Pleret karena Pleret dulunya gorong-gorong di depan Polrestabes yang sekarang Taman Kasmaran ada aliran masuknya ke Pleret. “Tentara Semarang dulunya lewatnya gorong-gorong itu,” tambahnya. (fgr/fth)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya