alexametrics

Angin Menyapu Wajah, Mendadak Perut Mual

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pada malam satu Sura, banyak warga kungkum di sungai dekat tugu Soeharto. Mencari keberkahan, jodoh maupun rezeki juga kewibawaan. Bahkan melakoni persyaratan ilmu tertentu. Keberadaan tugu itu dikaitkan dengan hal-hal gaib.

Tugu Soeharto berdiri kokoh di Kelurahan Bendan Duwur, Gajahmungkur. Tingginya delapan meter. Lokasinya persis berada di samping jembatan yang memisahkan Kelurahan Sampangan dan Kalipancur.

Sebuah sungai besar hasil pertemuan Kali Garang dan Kali Kreo mengalir di sampingnya. Untuk sampai ke lokasi, kendaraan bisa dititipkan di rumah warga. Dilanjut dengan berjalan kaki melewati tanggul.

Tatkala wartawan Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke lokasi Selasa (9/3/2021) petang, kondisi di sekitar tugu dipenuhi rumput liar. Tidak terawat. Cat tugu yang berwarna putih sudah kusam dan mengelupas. Bahkan kondisi sekitarnya yang sudah dicor juga rusak. Penuh lumpur.

Menjelang petang wartawan koran ini sampai di lokasi. Waktu petang atau surup dalam bahasa Jawa, sengaja dipilih lantaran berdasarkan cerita yang beredar, saat surup adalah pintu-pintu gaib mulai terbuka. Saat makhluk dari bangsa lain mulai melakukan aktifitasnya.

Baca juga:  Bikin Deg-Deg-Serr, Ada Penampakan Wanita Berbaju Putih di Hutan Tinjomoyo

Pelan tapi pasti, matahari perlahan hilang disambut kegelapan malam. Suara azan yang sempat bersahutan kini kembali sunyi. Kendati di atas jembatan banyak kendaraan berseliweran, di bawah sini, tepat disamping tugu, semua suara terdengar samar. Hanya suara aliran sungai yang terdengar.

Dua puluh menit tidak terjadi apa-apa. Lima menit berikutnya hal-hal aneh mulai dirasakan wartawan koran ini. Kendati tidak ada penampakan, wartawan merasa aneh dengan angin yang berhembus.

Tumbuhan ilalang di sekitar tampak tenang tak bergerak, padahal terasa sekali angin menerpa wajah. Setelahnya, kepala jadi pusing. Pandangan mulai buram, perut serasa mual. Ingin memuntahkan isinya.

Astaghfirullah,” wartawan koran ini beristighfar, membaca ayat suci apa saja yang sekiranya bisa meredakan situasi.

Baca juga:  Kerap Tercium Bau Anyir dan Rintihan Orang Kesakitan

Karena sendirian, wartawan ini bergegas menjauh dari tugu untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan. Sialnya, jalan yang buru-buru membuat sepatu malah keplentong lumpur di sekitar tugu. “Asem..asem,” gerutu si wartawan.

Setelah menjauh dari tugu, wartawan menghampiri dua warga yang sedang ngobrol di samping tanggul. “Sampeyan kalau mau ke sana waktunya kurang pas Mas. Di sini itu baru ramai saat malam satu Sura saja,” ujar Jawir warga setempat.

Ia menuturkan pada malam satu Sura banyak orang berdatangan ke tugu untuk berendam mengais keberkahan, mendapat rezeki, jodoh, kewibawaan. Juga melakoni persyaratan ilmu tertentu, dan sekadar ngumbah gaman. “Biasanya itu menjadi tontonan tersendiri bagi warga sini,” imbuhnya.

Berdasarkan cerita yang beredar, cikal bakal berdirinya tugu ini tidak terlepas dari nama Soeharto. Konon, ketika masih berpangkat mayor yang bertugas di Semarang, Soeharto menjadi daftar orang yang paling dicari Belanda. Kondisi tersebut membuatnya terancam, hingga pada suatu waktu ia mencoba lari. Sembunyi dengan kungkum atau berendam di sungai tersebut. Sebagai bentuk syukur, dibangunlah tugu tersebut.

Baca juga:  Hilangnya Sepasang Pengantin yang Tak Pernah Kembali

Versi lain mengatakan, itu terkait dengan ilmu kejawen yang dimiliki Soeharto. Untuk mencapai tahapan spiritual tertentu, ia kungkum di sungai tersebut. Kemudian orang-orang mulai menganggap tempat tersebut sakral dan dibangunlah tugu. “Itu semua hanya cerita. Orang yang tahu kejadian sebenarnya juga sudah meninggal semua. Kembali ke masing-masing diri saja. Kalau percaya hal gaib ya silakan. Kalau tidak juga ndak apa-apa,” ujar Mbah Mo, warga sekitar.

Mbah Mo mengatakan selama bercocok tanam di sekitar tugu, tidak pernah merasakan hal-hal aneh. Semua memang kembali pada kepercayaan masing-masing. (cr2/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya