alexametrics

Bendem Bergidik saat Menyebut Nama Mbah Kartubi

Mengulik Kisah Jembatan Plengkung Karangdowo

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Jembatan Plengkung benar-benar tak terjangkau mata malam itu. Tak ada satu pun penerangan yang menyorot. Suasananya begitu lengang. Waktu menunjukkan pukul 22.15. Wartawan koran ini sudah setengah jam duduk di areal taman kecil dekat jembatan. Tidak seorang pun melintas. Hanya suara arus sungai, gerimis, dan serangga yang menemani dinginnya Jumat (19/2/2021) malam itu.

Wartawan koran ini ditemani Riziq, 23, warga Capgawen Selatan, Kedungwuni, yang juga penasaran dengan cerita-cerita mistis Jembatan Plengkung di Desa Karangdowo.”Dingin,” kata Riziq sambil menarik penutup kepala sampai menutupi telinganya.

Pencahayaan tempat koran ini duduk hanya tertolong lampu dari teras rumah-rumah warga. Jembatan Plengkung bukan akses kendaraan. Tapi untuk saluran irigasi. Hulunya dari bendungan Pesantren Kletak, Wonopringgo. Muaranya ke utara. Mengaliri sawah-sawah sampai ke wilayah Kecamatan Tirto. Dibangun sejak zaman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Di atas Sungai Sengkarang. Salah satu sungai inti di Kabupaten Pekalongan.

Tiga puluh menit nongkrong, tidak ada hal-hal aneh. Wartawan koran ini mencoba mengambil gambar dengan bantuan lampu sepeda motor, namun tak efektif. Hasil foto tetap tak maksimal. Gelap. Kemudian memutuskan meninggalkan lokasi.”Besok pagi saja ke sini lagi,” kata Riziq.

Bersama Riziq, wartawan koran ini akhirnya mencari warung untuk membeli minuman. Dalam perjalanan, bertemu dua orang warga yang tengah duduk di teras rumah.

Baca juga:  PSIS Semarang Sudah Agendakan Tiga Uji Coba, Catat Tanggalnya!

Mereka Ibnu Khotam dan Bendem. “Di jembatan itu sudah pernah dipasang penerangan, tapi tidak lama pasti mati,” kata Bendem sambil mengubah posisi duduk dan mengibaskan sarungnya.

Bendem hafal betul kisah Jembatan Plengkung. Karena memang asli warga setempat. Mengutip cerita dari kakeknya, Jembatan Plengkung dibangun hanya dalam waktu semalam. Berkat kehebatan tokoh Den Bagus Songeb. “Karena kehebatan seorang Den Bagus Songeb,” kata pria yang rambutnya sudah penuh uban ini.

Den Bagus Songeb, kata Bendem, adalah alim ulama. Sementara Songeb salah satu leluhur Desa Karangdowo. “Mungkin nama aslinya Syuaib, tapi karena lidah orang sini jadi Songeb,” jelasnya.

Ketika itu, lanjut Bendem, Belanda sudah memaksa. Sangking cintanya dengan warga, Songeb menggunakan karomahnya agar orang-orang tidak menderita. Songeb memerintahkan semua warga tidur semalam. Setelah bangun, jembatan itu sudah jadi.

“Tetapi ketika bangun tidur, semua orang merasakan capek. Badan seperti baru saja bekerja berat,” tuturnya sambil menghembuskan asap rokok.

Kata Bendem, itu karena sebenarnya orang-orang ikut bekerja membangun jembatan. Namun bukan raga mereka yang bekerja, melainkan sukma. “Mungkin rasanya hanya tidur semalam. Padahal sangat lama sampai jembatan itu jadi,” ucapnya.

Baca juga:  Pemkot Semarang Gandeng Seniman Bangun Identitas Semarang
Jembatan Plengkung, Desa Karangdowo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Foto diambil pada Sabtu (20/2/2021). (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kehebatan Den Bagus Songeb tak sampai di sana. Bendem menuturkan, Songeb juga mengundang jin dari Baghdad, Irak, untuk menjaga jembatan. Namanya Mbah Kartubi.  “Saya merinding. Lihat ini!” kata Bendem menjeda cerita sambil menunjukkan lengannya.

Bendem mengaku pernah berjumpa dengan Jin Kartubi secara tak sengaja. Seingatnya itu terjadi tahun 90-an. Saat itu, malam-malam, Bendem sedang ngubuk (mencari ikan wader kawin, yang lebih mudah ditangkap karena pasti naik ke permukaan pinggir sungai). Ia menyisir parit dari Rengas hingga Karangdowo. Sampai di irigasi Jembatan Plengkung, ia mendapati apa yang ia cari. Setelah hendak menjaring, ia melihat telapak kaki manusia.

“Besar sekali. Penglihatan saya arahkan ke atas, ternyata kaki. Sampai ke atas, ternyata Mbah Kartubi sedang duduk di lengkungan jembatan,” tutur Bendem. Kali ini suaranya ngos-ngosan. Bibirnya bergetar.

Saat itu ia kaget. Tapi tidak lari. Namun tak berani menatap ke atas. Kemudian pergi meninggalkan lokasi.  Berjalan agak cepat. “Karena sebelumnya saya sudah diberitahu orang tua soal Mbah Kartubi. Dia baik. Tidak mengganggu. Kalau anak muda sekarang bilang, ‘tidak resek’,” katanya.

Mbah Kartubi memang diundang Den Bagus Songeb untuk menjaga Jembatan Plengkung dari tangan-tangan tak bertanggung jawab. Sebab, jembatan ini akan mengairi sawah-sawah anak cucu Den Bagus Songeb. “Kata kakek dan buyut saya seperti itu. Makanya kami harus bisa hidup berdampingan dengan Mbah Kartubi,” ucapnya.

Baca juga:  Bikin Merinding! Ada Pendampakan Wanita Bergaun Merah di Lantai Dua Gedung Marba Kota Lama Semarang

Tentang Mbah Kartubi juga disampaikan Roni, warga yang tinggal di rumah paling dekat dengan jembatan. Roni adalah cucu H Wahyudi, sesepuh setempat yang mengetahui detail tentang Jembatan Plengkung. Wahyudi sudah meninggal tiga bulan lalu. “Kata kakek, tempat Mbah Kartubi yakni di lengkungan jembatan. Duduk di sana,” kata Roni Sabtu (20/2/2021).

Ia sendiri belum pernah melihat Mbah Kartubi. Namun pernah suatu ketika ia mimpi bertemu perempuan di belakang rumahnya. “Perempuan itu nyuruh saya membersihkan sampah di belakang rumah. Pesannya baik, biar sampah tidak masuk sungai,” ujarnya.

Faizin, adik ipar Roni, juga pernah mengalami keanehan. Pernah suatu malam mendengar suara gamelan dari seberang jembatan. Ia keluar, tetapi tidak ada apa-apa. Ia malah menjumpai seorang pedagang jenang melintas dari arah jembatan.

“Saya tanya dari mana? Dia jawab, habis jualan di pertunjukan wayang. Saya tanya lagi, di mana ada wayang? Katanya itu di seberang jembatan. Tapi saya betul-betul tidak melihat. Tidak ada riuh apa pun di sana. Akhirnya saya masuk rumah lagi tanpa peduli pedagang jenang itu,” ungkapnya. (nra/zal)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya