alexametrics

Ngumriyatul Khasanah, Aktualisasi Diri lewat Batik

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Ngumriyatul Khasanah adalah pemilik UMKM Batik Yunha Magelang. Mahasiswi ISI Jogjakarta jurusan fashion dan batik ini menekuni dunia batik saat kuliah. Awalnya, Umri –sapaan akrabnya– fokus pada fashion lantaran sebelumnya memiliki latar belakang pendidikan di SMK jurusan fashion. Ia juga telah mengikuti pelatihan fashion teknologi di BLK Semarang.

Setelah mengenal batik melalui perkuliahan, ia langsung jatuh cinta. Terutama makna filosofis yang terdapat pada setiap corak batik. Di samping itu, aroma lilin malam dirasa candu membuatnya senang mencanting.“Sejak itu, saya lebih tertarik pada batik,” tutur Umri kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Semasa kuliah, ia menghabiskan waktunya untuk merampungkan penugasan yang sebagian besar merupakan praktik. Sisanya, ia menggarap pesanan jahit pakaian dan menjalankan sewa kebaya.
Pada 2020, ia mulai bergabung dengan Dinas Koperasi Kabupaten Magelang dan aktif pada pameran UMKM produk lokal. Bahkan saat pameran pertamanya, salah satu dari tiga karya miliknya laku terjual hingga Rp2 juta.

Baca juga:  Bira Farida Mengaku Suka Ngomong di Depan Orang

Selanjutnya, ia mulai mengikuti pameran tingkat provinsi di hotel-hotel. Lalu menjadi peserta pelatihan batik sampai tingkat mahir di Balatkop UMKM Jateng. Umri semakin optimistis untuk terus mengembangkan usaha batiknya.

“Sekarang batik nggak bisa dianggap barang kuno atau tua. Karena banyak pakaian ready to wear berbahan batik, lurik, yang bisa tampil di Indonesia Fashion Week, dan pameran berkelas lainnya,” jelas perempuan asal Magelang ini.

Di samping fokus mengembangkan bisnis dan menjaga warisan budaya, baginya membatik merupakan wadah aktualisasi diri. Dengan membatik, ia dapat mengekspresikan sebuah rasa dan isi hati. Bahkan karakter seseorang tercermin dari hasil batiknya.

Kecintaannya pada batik ini salah satunya terinspirasi dari dosennya, Bayu Arya, yang dinilai memiliki banyak karya batik indah dan menarik. Umri terdorong untuk terus belajar. Hingga sekarang ia masih mencoba bereksperimen dengan warna dan mengembangkan motif. “Saya penginnya membuat batik khas daerah saya yang filosofis,” katanya.

Baca juga:  Lulus Kuliah Berkat Jualan Pisang

Perjalanan Umri dalam dunia batik, diakui, seperti takdir. Bahwa semestalah yang menuntunnya sejak masih kecil. Saat SD, dia menjadi salah satu siswi dari empat peserta ekskul batik. Pun saat SMK, dia bertemu kembali dengan mapel batik. Lalu bertemu dengan sang inspirator yang juga dosennya. (taf/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya