alexametrics

Ajeng Ratnasari Poernomo, Hobi Main Teater, Ingin Punya Sanggar Seni

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MENGALIR darah seni dari kedua orang tua, tak bisa dinafikan oleh Ajeng Ratnasari Poernomo. Meski sedari kecil merasa tidak tertarik pada seni, bahkan merasa tak memiliki bakat apapun, ketika besar kecintaan pada seni muncul begitu saja.

Bagaimana tidak, sang ayah adalah seorang sutradara yang pandai membuat puisi dan ibu seorang penari Jawa. Meski begitu, kedua orang tuanya tak pernah memaksa Ajeng untuk mengikuti jejaknya.

“Dari kecil itu aku nggak tahu bakatku apa. Musik, aku buta nada. Kalau untuk naripun aku nggak bisa seluwes ibu,” akunya.

Namun berawal dari keisengan mencoba belajar sewaktu berada di bangku kuliah, justru membuat Ajeng kini tak bisa lepas dari dunia pertunjukan dan seni peran. Baginya teater merupakan bagian dari dirinya.

Baca juga:  Hanifah Nur Rizqi, Belajar Disiplin dari Paduan Suara

Padahal, kata Ajeng, teater merupakan kesenian yang kompleks. Di dalamnya banyak hal yang perlu dipelajari seperti musik, tari, menulis naskah, dan belajar manajemen pertunjukan.

Banyak ilmu kehidupan yang ia dapatkan setelah terjun ke dunia seni teater, seperti cara mengolah rasa, mengontrol emosi, hingga memahami sifat seseorang.

“Setelah makin masuk, kok aku banget. Jadi semakin menikmati setiap prosesnya,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang

Ketika disinggung mengenai caranya berlatih, dara asal Depok ini mengaku ketika dulu mengikuti teater kampus dinilai militan dalam berlatih. Ia dan teman-temannya bisa menghabiskan 10 hingga 12 jam untuk berlatih.

“Latihannya itu militan banget, Mas. Kita itu tiap hari latihan. Bisa dari pagi sampai dini hari. Apalagi kalau mau ada pertunjukan, bisa lebih keras lagi latihannya,” paparnya.

Baca juga:  Selvi Trinawati Pandowo, Dari Cosplay ke Streamer

Sebelum menggeluti dunia seni peran ia juga pernah menjadi presenter radio dan berita saat berada di bangku kuliah. Ia mengaku kewalahan dalam urusan membagi waktu karena kesibukannya itu. Namun ia berterima kasih dengan keputusannya itu. Sebab kini Ajeng merasa menjadi pribadi yang lebih kuat.

Gadis kelahiran 4 September 1996 ini memiliki sejumlah prestasi yang membanggakan. Seperti menjuarai lomba penulisan naskah tingkat Jawa Tengah, menjuarai lomba film sebagai sutradara penulis naskah terbaik, dan dinobatkan sebagai 50 aktris terbaik tingkat nasional oleh Kemendikbud.

Pengalaman yang tak bisa dilupakan adalah saat menjadi sutradara di Pentas Kampung. Karena tujuan dia dalam mendalami dunia seni tertuang semua di dalam pementasan itu. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat seperti karang taruna, anak-anak kecil, hingga ibu-ibu yang ada di kampung tersebut untuk mengambil bagian dalam pertunjukan itu.

Baca juga:  Maulida Masrurotul Azizah, Traveling Jadi Obat Penenang Diri

“Aku ngerasa puas banget waktu itu, bisa mengenalkan seni pertunjukan atau teater ke mereka,” kenangnya

Meski kini ia tengah disibukkan dengan pekerjaannya sebagai staf kreatif Bank Jateng, tak membuat anak kedua dari tiga bersaudara ini lupa akan seni yang membesarkan namanya. Bahkan ia berencana membuat sekolah dan sanggar seni bersama temannya yang akan diberi nama “Dalemdiajeng”.

“Aku ingin terus konsisten di bidang seni. Karena aku suka sama anak kecil ya. Jadi dengan adanya sanggar atau sekolah, aku bisa mengajarkan ilmu yang aku punya ke adik-adik generasi di bawahku,” harapnya. (cr6/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya