alexametrics

Nur Halimah, Sempat Takut Jadi Sipir Penjara

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Menjadi petugas Bimbingan Kerja (Bimker) di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Semarang merupakan suatu kebanggaan bagi Nur Halimah. Ia mengaku memetik banyak pengalaman hidup selama melayani warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau yang akrab disapa narapidana (napi).

Menurutnya, ada kepuasan tersendiri ketika berhasil membuat para napi berkarya. Ia senang bisa bermanfaat untuk orang lain. Kendati demikian, ia mengakui membimbing mereka bukan hal yang mudah. Perlu kesabaran dan keuletan, apalagi dengan latar belakang dan masa lalu berbeda yang terindikasi buruk. Namun, hal ini tidak menjadi soal penting. Ia tetap semangat melakoni kewajibannya membimbing para napi.

Adapun tantangannya membimbing mereka, yakni ketika menempatkan WBP memilihkan Bimker. Ada yang minta pokja ini-itu, tapi sudah penuh. Oleh karenanya, ia mesti harus pintar memilah dan supaya napi mau manut dan tidak berujung masalah.

Baca juga:  Syifa Fachriah, Impikan Seni Peran sejak Kecil

“Kalau sudah berjalan ya biasa. Apalagi kalau sudah melihat mereka berprestasi dan berkarya ada kepuasan tersendiri, ya bangga,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sebelum menjadi petugas Bimker, wanita 27 tahun ini menjajal dulu menjadi sipir penjara alias penjaga tahanan. Sesuai formasi PNS yang ia lamar. Halimah mengaku saat awal menjadi petugas tahanan sempat takut. Bahkan menangis. Ia takut dan membayangkan hal-hal buruk. Saat-saat pertama pun, ia juga takut mengajak ngobrol napi. Namun semakin lama, justru merasa mereka seperti keluarga dan teman. “Pas dijalani enak. Ternyata tidak menyeramkan seperti yang saya bayangkan,” katanya.

Halimah resmi dilantik menjadi abdi negara pada Desember 2017. Meski jurusan kuliahnya Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Satya Wacana (UKSW) Salatiga, namun hal ini tak menghalanginya bertugas menjaga para napi. Sama sekali bukan persoalan.

Baca juga:  Lily Thania Innezaputri, Suka Objek Wisata Alam

“Pertama kerja langsung di LPP Semarang atau Lapas Wanita Bulu. Kebetulan gak ada formasi PGSD, yang bisa dimasukin penjaga tahanan,” jelasnya.

Halimah berpesan, jangan memandang napi sebelah mata. WBP memang bersalah, tapi mereka juga bisa menghasilkan karya yang tak kalah dengan orang di luaran sana. Sebagai pembimbing napi, ia mengetahui sendiri keseharian mereka untuk berusaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik agar ketika kembali ke masyarakat sudah menjadi orang yang taat.

“Napi juga memiliki sisi positif. Saya pun bangga dan bersyukur bisa andil mengubah mereka menjadi lebih baik,” katanya. (ifa/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya