alexametrics

Oktaviani Annisa Khasan, Bukan Prestasi, Tapi Bangga Berproses

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BAGI Oktaviani Annisa Khasan, tak mimpi yang sempurna, tetapi akan selalu ada proses yang membahagiakan. “The power of believe,” tandas mahasiswa Unissula Satra Inggris yang akrab disapa Tata ini.

Gadis kelahiran Tegal, 17 Oktober 2002 ini, sudah mengantongi beragam kejuaraan. Seperti Duta Felari PPI Dunia (Duta Pelajar Dunia), juara 1 Lomba Cerpen tingkat Nasional, Juara 3 Wasbang National Competition.

Bahkan, Tata pernah menjadi MC dan moderator di English Basic Training 2021, MC di pembukaan Komunitas Intuisikita bersama warga, moderator di Felari Talk, dan pembicara di Live Unissula dengan tema “Peran Penting Pendidikan dan Literasi sebagai Elemen Penguatan Karakter.”

Baginya hobi harus menghasilkan karya. Kegabutan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Iapun menulis sebuah buku dari kumpulan cerpen ketika ia lomba. Selain itu, ia berjualan hijab secara online.

Baca juga:  Presentasikan Warna Kejujuran, Boks Konstitusi, dan Briket Eceng Gondok.

Tata juga aktif di berbagai organisasi, seperti BEM FBIK Unissula, Sultan Agung English Club, Slawi English Talk sebagai ketua, Komunitas Intuisikita dan Relawan Mengajar di sebuah Panti Asuhan Genuksari.

“Sejujurnya saya tidak terlalu bangga dengan hasil prestasi ini. Saya tidak pernah menjadikannya sebagai patokan keberhasilan saya. Mungkin itu hanya sebagai jembatan saya hingga menjadi seperti sekarang yang dikenal banyak orang,” kata Tata.

Tata justru bangga dengan proses yang dilaluinya. Karena untuk berproses hingga sekarang, tidaklah mudah baginya, jatuh bangun, sedih senang, terpuruk, dan bangkit lagi. “Itulah yang membuat saya bangga, karena perjuangan untuk menjadi sekarang itu tidak mudah,” ujar gadis yang pernah mondok di Brebes ini.

Baca juga:  Di Tengah Keterbatasan, SDN Bintoro 1 Konsisten Menjaga Prestasi

Ia berharap menjadi orang yang lebih baik lagi, bermanfaat, berguna, bisa membantu banyak orang. Impiannya bisa terwujud satu persatu. Ia mempunyai impian untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri.

“Ikhlas bukan berarti melepas total impian. Dari dulu saya tidak ada niatan untuk melanjutkan studi di Indonesia, karena saya ingin mengembangkan diri di luar negeri. Tetapi takdir berkata lain, orang tua saya belum ridho,” katanya. (fgr/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya