alexametrics

Malisa Falasifah, Bangga Ikut Seleksi Mawapres Nasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Malisa Falasifah lahir dan sempat tinggal selama 16 tahun di Serawak, Malaysia. Namun mahasiswi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang ini bangga menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Di kampusnya, ia termasuk mahasiswi berprestasi. Ia pernah meraih juara lomba debat Bahasa Inggris, menulis esai psikologi, serta karyanya lolos di sejumlah jurnal akreditasi.

“Pada tahun 2020 lalu, saya menjadi juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mawapres), dan mewakili Unissula di tingkat nasional. Sebelum itu, tahun 2018 lalu, saya mengikuti konferensi internasional Youth Model Nation (Ayimun) di Thailand,” jelas gadis yang akrab disapa Malisa ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengaku, tidak menyangka meraih juara 1 Mawapres. Bahkan mewakili Unissula di tingkat nasional. “Tahun sebelumnya, saya juga pernah ikut lomba debat sampai tingkat nasional,” kata dara 22 tahun ini.

Baca juga:  Roswalina Fega Arum Sari, Pantang Bersantai di Usia Muda

Di tingkat nasional, seleksi administrasi diikuti sedikitnya 500 peserta dari kampus se-Indonesia. Dari jumlah itu, yang lolos tes selanjutnya sekitar 100 peserta. Berbagai tes dijalani secara online. Berkat kegigihannya, ia lolos tes di tingkat nasional, walaupun presentasi karya tulisnya tidak masuk 10 besar.

“Menurutku, itu sudah cukup membanggakan bisa sampai tahap tes, dan bersaing dengan mawapres-mawapres dari kampus-kampus lainnya di seluruh Indonesia,” kata putri pasangan Heny Setiady dan Latifah ini.

Saat ini, Malisa sedang menyiapkan diri untuk melanjutkan kuliah S2, seperti persiapan berkas, kemampuan bahasa, dan proposal thesis. “Rencananya saya ingin melanjutkan program S2 di Indonesia, Malaysia, ataupun Australia,” kata gadis yang pernah tinggal di pesantren mahasiswa Unissula ini.

Baca juga:  Rofiqotul Fitria, Ingin Bermanfaat, Rela Jadi Guru di Usia Muda

Selain itu, ia juga menjadi sukarelawan tenaga pengajar di tempat tinggalnya sekarang, Desa Ketitang Kidul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan untuk belajar mengaji dan Bahasa Inggris setiap sore di akhir pekan. “Karena pandemi Covid-19, jadinya tidak terlalu banyak. Sekitar lima sampai tujuh anak, itupun tetangga terdekat saja,” ujarnya. (cr6/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya