alexametrics

Afidatul Aliyah, Mengabdi ke Masyarakat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Afidatul Aliyah, muslimah penghafal Alquran kini sibuk mengajar setiap hari. Saat pagi, ia mengajar PAUD. Saat siang dan sore, ia mengajar Alquran di TPQ Assalam dengan menerapkan metode Qiroati. TPQ yang dirintis sejak masa lajangnya itu kini memiliki 125 santri, dan 40 alumni Qiroati.

“TPQ saya rintis mulai 2010, tapi 2015 ganti metode Qiroati. Karena menurut saya jauh lebih bagus dan kurilumnya jelas,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Qiroati bukanlah sembarang metode mengaji. Untuk dapat mengajar dengan metode tersebut, guru harus lulus ujian dan memiliki sertifikat. Dalam membaca huruf hijaiyah, metode tersebut keras menerapkan teknik mecucu, mangap, meringis atau identik dengan 3M. Dengan 3M para santri melantunkan bacaan Alquran lebih jelas.

Baca juga:  Manfaatkan Teknologi Beton untuk Infrastruktur Perdesaan

Selain itu, ia mengajarkan ilmu tajwid hingga ghorib, doa harian, dan membiasakan hafalan juz 30. Semua dilakukan dengan sangat tertib dan ketat. Saat selesai mengaji jilid enam, para santri wajib mengikuti ujian. Seluruh materi diujikan. Sehingga persiapannya pun tak main-main. Salah panjang pendek dalam menghafalkan surat akan diminta untuk mengulang. Setelah lulus, anak-anak diapresiasi dengan wisuda bersama.

“Mengajar anak ibaratnya seperti mengisi gelas kosong. Jadi, saat kita mengenalkan Tuhan sesuai ilmu taklim itu kan sangat mulia, pahalanya pun nggak usah ditanya,” imbuh perempuan kelahiran 1991 itu.

Ketertarikannya untuk mengajar anak-anak muncul saat remaja. Semasa SMP, ia kerap mengikuti ayahnya mengajar ngaji, dan sering kali ikut membantu. Seiring berjalannya waktu, ia semakin sadar mengajar anak-anak seperti membangun pondasi kehidupan. Tanpa ragu, ia bertekad merintis TPQ sambil menyelesaikan hafalannya seusai SMA.

Baca juga:  Jessica Mengidap Penyakit Langka

Tak hanya anak-anak, sejauh ini Fida-sapaan akrabnya– juga mengajar mengaji orang dewasa. Ia sangat mengapresiasi anak muda yang tak gengsi belajar mengaji di zaman milenial ini. Begitu pun ibu-ibu yang baru mau memulai mengaji Alquran dengan metode Qiroati. “Sulit memang, tapi tak ada kata terlambat atau terlalu tua untuk belajar mengaji,” katanya.

Kini, ibu muda tersebut tengah menyusun metode pembelajaran anak untuk menulis alphabet, dan aksara Jawa. Ia berharap suatu saat dapat menerbitkan bukunya sendiri meski hanya dalam skala kecil. (cr1/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya