alexametrics

Bisnis Hampers di Tengah Pandemi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 bagi segelintir orang tak selamanya merugikan. Termasuk bagi Qonitah Yolanda, yang baru memulai bisnis hampers sebulan terakhir. Berawal dari keisengan, ia justru mengaku ketagihan.

“Baru sebulan ini. Awalnya iseng, lama-lama jadi ketagihan. Karena kakak juga kebetulan bisnis suvenir, jadi dapat idenya dari situ. Instagramnya di @sebuahbingkisanbycony,”kata dara kelahiran April 1998 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Cony –sapaan akrabnya– mengaku dibantu ibundanya dalam berbisnis. Diakuinya, hampers berbeda dengan suvenir. Suvenir lebih mengarah kepada pernak-pernik pernikahan. Sedangkan hampers seperti hantaran dengan budget yang terjangkau.

“Kalau suvenir biasanya buat nikahan dan tidak dibungkus kado. Kalo hampers isinya macam-macam. Hampers buatanku mulai dari harga Rp 30 ribu-Rp 300 ribu. Lebih ke low budget bisa untuk hampers kado, wisuda, lebaran, dan tunangan,”imbuh gadis asli Semarang ini.

Baca juga:  Galang Modal Usaha Lewat Crowdfunding, Bagi Hasil Tiap Enam Bulan

Hampers yang dijual dengan berbagai ukuran. Mulai dari ukuran kecil hingga sedang. Tempatnya juga sama, biasa ia buat dengan bentuk boks dan menggunakan besek.

“Ukurannya mulai dari 15×15 sentimeter, ada yang 22×22 dan juga ukuran 25×25 sentimeter. Hampers yang aku buat itu sering berisi make up, tas, hijab, wine sampai hampers cookies,”tutur gadis berzodiak Aries ini.

Cony bersyukur, di tengah pandemi dirinya masih bisa berkarya. Meski tidak banyak, asalkan telaten dan pandai melihat peluang. Seperti lebaran waktu lalu, bisnis kecil-kecilannya bisa dibilang menguntungkan.

“Kebetulan waktu lebaran kemarin aku jual seminggu dapat 50 hampers. Permintaan teman-teman juga banyak. Rata-rata aku buat sesuai pesanan, nanti harganya disesuaikan dengan isi hampers,”paparnya.

Baca juga:  Sebulan Lakukan Riset, Pilih Gunakan Kemasan Botol Kaca

Ia juga tak mau hanya berpangku tangan. Meski di tengah pandemi, ia ingin produktif berkarya dan berusaha mandiri. Konsep yang diusung adalah mampu mengombinasikan jenis dan kualitas produk dalam hampersnya. Setiap minggu ia berusaha selalu melakukan inovasi.

“Aku selalu berusaha jeli melihat peluang. Selain hampers, aku juga berjualan jajanan zaman dahulu. Seperti choky-choky dan nyam-nyam. Itu makanan generasi 90-an yang pasti orang suka. Makanya aku berani untuk memulai bisnis ini,”ujar gadis yang kuliah S1 Manajemen Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini. (avi/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya