alexametrics

Ida Uswatun Khasanah Bedah Pluralisme Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, IDA Uswatun Khasanah terpikat isu pluralisme sejak tahun 2018. Tepatnya sejak ia mendapat matakuliah Pluralisme dan Multikulturalisme. Mendapat tugas kuliah untuk membuat film pendek, ia memutuskan mengangkat tentang keragaman agama di Semarang. Hal itu membuatnya semakin tertarik dan tergerak untuk memperdalam wacana pluralisme.

“Proses pengerjaan film pendek itu mempertemukan saya dengan tokoh agama serta orang-orang yang menurut saya hebat. Mereka menginspirasi saya perihal toleransi beragama,” kata dara kelahiran Jakarta ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ida semakin menyelami pluralisme. Ia memperluas jaringan, mencari kelompok dan komunitas-komunitas yang aktif bergerak di isu pluralisme. Usahanya tak sia-sia. Ia berhasil terkoneksi dengan komunitas Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang.

Baca juga:  Juara MTQ Berkat Gemblengan Ayah

Terkoneksi dengan Pelita, membuat wawasan pluralisme Ida makin luas. Ia makin dapat melihat secara langsung kasus-kasus tentang keberagamaan di Semarang. “Dari sana saya melihat isu-isu keberagamaan di Semarang penting dituliskan. Meskipun saya sadar, itu akan sensitif karena membahas soal agama. Tapi akhirnya saya mantapkan hati untuk melakukan penelitian dan mengangkat isu itu jadi skripsi,” beber alumni Antropologi Sosial Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Karena berangkat dari ketertarikan, proses pengerjaan skripsi ia lakukan dengan kesungguhan. Ia bahkan menyempatkan mengikuti Pondok Damai yang diinisiasi Pelita, kegiatan semacam kemah tiga hari dua malam yang pesertanya dari berbagai agama dan kepercayaan.

“Kesempatan itu saya gunakan sebagai observasi partisipatoris dari skripsi saya. Skripsi saya beri judul Mempertemukan Kesamaaan di dalam Perbedaan (Studi Atas Peran Aktif Pemuda di Komunitas Persaudaraan Lintas Agama Semarang),” tutur dara 24 tahun ini.

Baca juga:  Siti Nur Aisyah, Kuliah di Dua Universitas

Ida tak menyangka ternyata skripsinya diperhatikan Pelita. Ia mendapat permintaan untuk membedah skripsinya di Universitas Katholik (Unika) Soegijapranata Semarang pada Januari 2020 lalu. “Tak menyangka sekaligus deg-degan. Apalagi yang datang dalam diskusi itu dari berbagai kelompok dan komunitas seperti Pelita, EIN Institute, Elsa Semarang, dan lainnya. Dosen-dosen Unika juga menyimak. Saya sempat grogi tapi akhirnya bisa menguasai diri di hadapan mereka,” ungkap Ida.

Bagi Ida, pengalaman pengerjaan skripsinya bukan hanya pengalaman akademis, tetapi juga pengalaman yang merefleksi wawasan kebangsaannya. “Dari pengalaman itu, saya menjadi sadar bahwa perbedaan mestinya bukan untuk diperdebatkan. Dalam konteks Indonesia, keberagaman dan perbedaan itulah identitas negeri ini,” tutupnya. (nra/ida)

Baca juga:  Vega Vebriana, Lebih Suka di Belakang Layar

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya