alexametrics

Hentikan Penggunaan Sumur Artetis, Maksimalkan Penggunaan PDAM

Penurunan Tanah di Kota Semarang Mengkhawatirkan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Eksploitasi air tanah secara besar-besaran, terutama di Semarang Utara dan Timur menyebabkan terjadinya penurunan tanah. Untuk mengantisipasinya, perlu memaksimalkan penggunaan PDAM. Berikut bincang-bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang Adennyar Wycaksono dengan Politikus Partai Gerindra Kota Semarang, Joko Santoso.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang saat ini sedang fokus mengentaskan persoalan banjir. Tapi adakah persoalan lain yang butuh perhatian khusus juga?
Banjir memang menjadi salah satu momok tersendiri di Semarang, meskipun luasan banjir sudah bisa ditekan. Namun yang perlu diperhatikan adalah masalah penurunan tanah. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satu penyebab banjir sendiri adalah penurunan permukaan tanah.

Seberapa parah penurunan permukaan tanah di Kota Semarang?
Cukup parah, setiap tahunnya paling tidak turun 10 sampai 20 sentimeter, terutama di bagian Semarang Utara dan Selatan. Nah buktinya ada di Kali Semarang, disitu sudah terlihat penurunan tanahnya.

Baca juga:  Pastikan Tak Ada Pemungutan Uang Gedung dan Seragam

Apa penyebab dari penurunan tanah ini?
Salah satu penyebabnya adalah eksploitasi air tanah yang besar-besaran. Misalnya sumur artetis. Sebenarnya sudah ada aturan dari Pemrintah Provinsi (Pemprov) Jateng, terkait sumur artetis ini. Namun Pemkot Semarang sebenarnya bisa melakukan kontrol secara langsung.

Wilayah mana yang perlu dilakukan pengawasan?
Saya melihat ada kelompok masyarakat yang masih membangun sumur artetis, misalnya di Semarang Barat, Utara, Genuk dan lainnya. Harusnya dibatasi penggunaannya sehingga penurunan muka tanah bisa ditekan.

Kalau sudah menurun seperti ini, apa solusinya?
Solusinya adalah masyarakat bisa mengurangi ekploitasi penggunaan air tanah. Caranya dengan menggunakan air PDAM. Apalagi saat ini PDAM Semarang Barat dikebut, tentu cakupan area PDAM akan lebih besar. (*/ida)

Baca juga:  Ahli Petanian Harus Masuk Balai Bukan Kantor

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya