alexametrics

Lakukan Recovery Psikologis Kader agar Tetap Optimistis

Bangun Demokrasi Lokal, Kawal Politik Santri dan Kiai

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pilkada Demak 9 Desember lalu merupakan bagian dari upaya membangun proses demokrasi di level lokal. Salah satu partai yang turut berkiprah adalah Partai Gerindra Kabupaten Demak. Sejak awal, partai ini getol menyuarakan agar di Demak tidak terjadi paslon tunggal atau melawan kotak kosong. Karena itulah, Partai Gerindra bersama Partai Nasdem berkesempatan mengusung Mugiyono-Muhammad Badruddin (Mugi-Hebad). Meski pada akhirnya kalah dengan paslon Eistianah-KH Ali Makhsun (Eisti-Alim) dengan selisih suara sekitar 15 persen atau 86 ribuan suara. Berikut bincang bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang di Demak, Wahib Pribadi dengan Ketua DPC Partai Gerindra Demak, H Masykuri.

Paslon Mugi-Hebad kalah dalam pilkada Demak. Bagaimana pandangan anda selaku ketua tim pemenangan sekaligus Ketua DPC Partai Gerindra Demak?
Dalam proses demokrasi itu, kalah menang adalah hal biasa. Artinya, bukan masalah kalah atau menangnya itu. Tetapi bagaimana demokrasi ini bisa dibangun dengan baik. Kita harus tahu bahwa siapapun yang bisa tertawa, maka dialah yang sesungguhnya bisa merasakan kemenangan. Terlebih, karena memang bisa memiliki pemimpin terbaik. Soal hasil pilkada, sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Dan, pemimpin yang terpilih adalah yang dikehendaki rakyat. Karena itu, bukan kita yang menghendaki. Calon kami Mugi-Hebad memang akhirnya tidak hebad. Tapi, itulah fenomena politik dalam proses demokrasi yang sehat.

Baca juga:  Mulai Menabung untuk Anggaran Pemilihan Gubernur

Meski kalah, sebenarnya apa yang menjadi target dalam pilkada tersebut?
Sebenarnya kami ingin bagaimana demokrasi lokal ini bisa berjalan dengan baik. Sekaligus ikut mengawal politik santri dan kiai dalam proses Pilkada. Harapannya, bisa berkhidmah dalam membangun Demak sebagai Kota Wali. Karena itu, kita temani kelompok-kelompok santri dan kiai ini bagaimana bisa berkhidmah tersebut.

Pilkada 9 Desember sudah berlalu. Apa yang akan dilakukan pasca Pilkada ini?
Kami tatap masa depan yang lebih baik. Bagaimana kita bisa melangkah pada 2021. Tidak perlu meratapi nasib. Yang penting bagaimana sudah berikhtiar yang terbaik untuk mewujudkan proses demokrasi yang sehat. Yang perlu diingat adalah, apa yang menurut kita baik, tapi belum tentu menurut Tuhan baik. Karena itu, kita tidak boleh pesimistis. Kita harus optimistis. Apapun yang terjadi, Eisti-Alim adalah pilihan terbaik Allah SWT.

Baca juga:  Perlu Kedewasaan dan Jangan Saling Menyalahkan

Apakah akan menjadi partai oposisi?
Kita tidak akan oposisi. Tapi, bagaimana bisa menjadi penyeimbang. Yang menjadi problem ketika kita menjadi penyeimbang adalah satu grup iramanya memang harus sama. Hanya saja, hal yang seperti itu kadang tidak bisa seirama. Ya, pada intinya kalau ada kebijakan pemerintah yang kurang pas, kami kritisi. Sebaliknya, jika kebijakan pemerintah itu baik untuk masyarakat ya kami dukung. Kami dampingi orang-orang yang terpinggirkan. Kami temani kelompok santri dan kiai agar bisa berkhidmah.

Bagaimana dengan kondisi psikologis kader partai pasca pilkada ini?
Ya, kami lakukan recovery psikologis kader agar tetap optimistis. Bagaimana bisa tetap mengawal kebijakan pemerintah nanti, sekaligus bisa mengkritisi. Yang penting tetap pada koridor akhlak yang baik. (*/ida)

Baca juga:  Butuh Kebijakan Pembelajaran Tatap Muka untuk Memperbaiki Kualitas

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya