alexametrics

Digitalisasi Koperasi Itu Penting

Digitalisasi Koperasi Terhambat, 60 Persen Anggota Generasi Tua

Artikel Lain

RADARSEMARANG.id, Meski koperasi sangat tangguh sebagai soko guru bangsa, tetap harus mengikuti perkembangan zaman yang serba digital. Berikut bincang-bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang Alvi Nur Janah dengan Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kota Semarang Walid.

Bagaimana pengembangan koperasi Kota Semarang agar disukai kaum milenial?

Saat ini, Dekopinda bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Dinkop-UMKM) untuk mengembangkan digitalisasi koperasi dan usaha mikro. Salah satunya dengan mengembangkan Gerai Kopi dan Mi. Itu adalah gerakan terintegrasi koperasi dan usaha mikro di Kota Semarang. Digitalisasi yang dimaksud yakni pendataan tunggal perkembangan dan pengembangan koperasi dan usaha mikro. Orientasinya, untuk menyongsong kegiatan Gerai Kopi dan Mi agar tetap produktif. Keduanya berjalan. Pendataannya jumlah koperasi dan usaha mikro lebih up to date. Harapannya koperasi sebagai soko guru bisa membantu dalam hal pendanaan serta usaha mikro tidak kesulitan memasarkan produknya.

Baca juga:  Berdayakan Kaum Muda Milenial Minimal Miliki 500 Followers

Langkah apa yang sudah dilakukan?

Ini pemikiran lama sebetulnya. Gerai Kopi dan Mi ini sebagai wadah gerakan koperasi digital. Memudahkan dalam usaha, koordinasi, dan publikasi. Maka kami bangun website Dekopinda Kota Semarang. Wujudnya kami menguatkan koperasinya. Misalnya, anggota memiliki usaha. Kemarin yang sudah berjalan yakni di Gunungpati. Ada usaha dawet telo. Kami disana melakukan safari koperasi dan UMKM ke-16 kecamatan di Kota Semarang. Sasaran kami, di setiap kelurahan harus ada UMKM. Saat ini jumlah koperasi 697 unit, yang tergabung di Dekopinda berjumlah 378 unit.

Apa saja kendala yang ditemukan di lapangan?

Pelaku gerakan koperasi ternyata kebanyakan orang tua. Kalau pengurus koperasinya milenial, mungkin akan lancar. Dengan era sekarang, usaha akan tetap jalan. Usaha 24 jam tidak masalah. Tidak punya kantor, namun maksimalkan media sosial. Namun memang dibutuhkan ilmu dan proses yang tidak mudah. Karena hampir 60 persen itu anggota koperasi itu orang tua. Sehingga segi komunikasi belum bisa maksimal.

Baca juga:  Sasar Anak Jalanan, Gencarkan Razia Tengah Malam

Adakah koperasi yang sudah digital?

Ada anggota Dekopinda yang sudah bertransformasi ke digital. Persentase yang menggunakan sudah 40 persen. Artinya sudah digunakan, walaupun tidak penuh. Misalnya di Koperasi Handayani, manajemen sudah menerapkan. Sistem simpan pinjam sudah menggunakan akuntabilitas. Bisa mengecek transaksi pakai handphone. Unit Handayani Mark dan jasa rekanan sudah digital. Keanggotaan pun sudah menggunakan digital. Yang belum, adalah kartu anggota belum bisa terhubung dengan perbankan. Sebab masih ditimbang-timbang perihal keamanan.

Apa langkah ke depan yang akan dilakukan?

Kota Semarang ini sebagai salah satu barometer nasional. Masih banyak teman generasi tua yang susah melakukan transformasi digitalisasi. Harus ada regenerasi dengan kaum milenial. Harus cepat berkiprah memberikan kesempatan kepada kaum milenial. Sehingga cita-cita Bung Hatta menjadi soko guru perekonomian bangsa. Kaum milenial diharapkan menjadi garda terdepan dalan transformasi besar-besaran. Dekopinda berharap, ratusan koperasi itu segera terhubung dengan digital. Sehingga identitas keanggotaan bisa terintegrasi dengan multisektor. (*/ida)

Baca juga:  Terkendala Regulasi, Tak Bisa Serta Merta Jatuhkan Sanksi

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya