alexametrics

Anak-Anak Lebih Rentan Kena Covid-19, Belum Terbangun Kesadaran dengan Baik

Belum Saatnya Sekolah Tatap Muka

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran tatap muka dikhawatirkan memicu klaster baru penyebaran Covid-19. Berikut Bincang-Bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang Miftahul A’la dengan Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto.

Bagaimana menyikapi kebijakan pembelajaran tatap muka di era Covid-19 saat ini?
Saya kira belum saatnya untuk menerapkan sistem tersebut. Pemprov Jateng maupun pemerintah daerah harusnya menghentikan atau stop pembelajaran tatap muka di semua sekolah. Sebab, banyak masyarakat yang masih abai pada protokol kesehatan. Kebiasaan masyarakat itu diikuti anak-anak atau siswa selama sekolah. Munculnya klaster baru penyebaran Covid 19 di sekolah, tak ada pilihan selain menghentikan pembelajaran tatap muka karena jika tidak anak yang jadi korban.

Baca juga:  Dampaknya Kecil bagi Jasa Tata Rias, Dokumentasi, dan Dekorasi

Dimana saja klaster yang disebabkan pendidikan tatap muka?
Di Jateng ada di Kabupaten Tegal dan Pati. Di Pati, sebanyak 35 santri di salah satu pesantren terkonfirmasi positif Covid-19 setelah dilakukan test swab. Di Kabupaten Tegal, satu siswa dinyatakan positif Covid-19 dan 29 orang disebut memiliki kontak eratnya di SD Bogares Kidul 02, Kecamatan Pangkah. Selain itu di Tulungagung (Jatim), Kalbar, Sumedang (Jabar).
Kondisi ini harus menjadi pertimbangan, apalagi anak-anak lebih rentan jika tidak mengikuti protokol kesehatan. Jika pembelajaran tatap muka itu masih dilakukan, meski di zona hijau, tetap membahayakan kesehatan anak. Bahkan, dengan minimnya kesadaran masyarakat dan pemerintah, maka zona hijau justru bisa menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

Baca juga:  SMKN 7 Semarang Siapkan Tiga Konsep PPJ

Seberapa efektif pembelajaran daring untuk anak-anak?
Pembelajaran daring memang tak ideal dan tak seefektif saat tatap muka. Namun melihat kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, pembelajaran daring tetap menjadi solusi terbaik. Dengan catatan, ada terobosan dan inovasi kebijakan. Hal itu wajib, jika melihat proses pembelajaran daring di berbagai daerah di Jateng.
Anak-anak lebih rentan dan tentu saja kesadarannya belum terbangun dengan baik. Sehingga mau tak mau mereka harus dilindungi mengingat anak aset bangsa. Jika kondisi belum benar-benar aman, sebaiknya belajar di rumah saja.

Bagaimana mengoptimalkan pembelajaran daring?
Saya telah mengusulkan masing-masing siswa memperoleh gadget dan gratis kuota internet. Setelah dikalkulasi, dana BOS mampu mencukupi kebutuhan anggaran. Misalnya, jika sebelumnya seragam sekolah ditanggung pemerintah, maka saat ini bisa saja dialihkan dulu untuk sarana prasarana (sarpras) tadi (gadget). Program-program lain yang dirasa bisa dialihkan, seperti boarding school dan pengadaan komputer bisa dialihkan dulu.
Sementara itu, kuota internet juga diberikan pemerintah. Apalagi anggaran yang dimiliki juga sangat besar, maka penggunaannya harus tepat sasaran dan gadget tersebut harus sudah di-setting hanya digunakan dalam pembelajaran. Gadget tak bisa digunakan untuk game online. Browsing pun hanya dibatasi web tertentu. Jadi tetap dalam pengawasan, tetapi proses belajar tetap berjalan. (*/ida)

Baca juga:  DLH Segera Siapkan Tempat Sampah di Tingkat Kelurahan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya