alexametrics

Kepala Desa Harus Beradaptasi dengan Teknologi

Bincang Peranan BUMDes bagi Desa dengan Heru Purwantoro

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi salah satu upaya untuk menggerakkan ekonomi desa. Kepala desa harus bisa memanfaatkan BUMDes demi kemajuan warganya. Berikut bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang Maria Novena dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Kabupaten Semarang Heru Purwantoro.

Bagaimana peranan kepala desa bagi kemajuan desa?
Keberhasilan desa itu ya ditentukan oleh kepala desa masing-masing dan warganya. Penjaringan kades tahap awal sekarang dites oleh lembaga independen. Bisa perguruan tinggi. Pada 2017 ini kami sudah bekerjasama dengan Undip, Unnes, Undaris, dan Udinus. Kemampuan dasar 60 persen, komputer 40 persen. Ini menjadi fondasi kades yang nantinya terpilih tidak lagi gaptek. Harus bisa beradaptasi dengan iklim dan teknologi yang berkembang.

Baca juga:  Berhasil Selamatkan Keuangan Negara Rp 33.927 Milir

Bagaimana efisiensi BUMDes digunakan?
BUMDes itu kan tidak bisa kalau tidak ada pihak ketiga. Harus ada perencanaan yang matang. Di Kabupaten Semarang sendiri sektor untuk membangun desa memang banyak. Pertanian, perkebunan, perikanan, sampai pada wisata. Seperti dibeberapa desa, BUMDes untuk pengadaan alat berat sawah. Ini sudah berjalan dari 208 udah separo lebih mereka bijak dalam penggunaan.

Dari 208 desa di Kabupaten Semarang, berapa yang sudah siap menjadi desa maju?
Dari data kami 208 desa, sudah 135 desa yang memanfaatkan BUMDes dan hasilnya ada. Kriteria desa pun ada empat dasar, tumbuh, kembang, maju. Yang maju ini bisa dikatakan berhasil dengan inovasi sendiri. Seperti contohnya Jatirunggo, Jambu, Bendono. Ini yang sudah tidak lagi meminta modal dari Bumdes. ”

Baca juga:  Januari Revitalisasi Kota Lama Dilakukan Lagi

Di masa pandemi saat ini, bagaimana kondisi desa dan BUMDes?
Saat ini surat edaran terkait penggunaan dana desa memang berubah. Dana desa saat ini masih difokuskan untuk membantu warga yang terdampak. Sehingga memang dana untuk pengembangan kemasyarakatan sedang ditunda. Dalam bentuk bantuan langsung tunai yang masing-masing keluarga mendapat Rp 600 ribu selama tiga bulan. Berkaitan dengan kegiatan BUMDes memang belum kami sarankan. Tetapi jika memang masih dimungkinkan desa memiliki dana sendiri untuk mengembangkan potensi desa tersebut, ya tidak apa-apa.

Bagaimana penanggulangan kecemburuan warga yang tidak mendapat bantuan langsung tunai dari dana desa?
Ini persoalan yang selalu terjadi ketika ada bansos atau bantuan tunai. Di mana saja pasti seperti itu. Tetapi kami bisa jamin dan pastikan yang mendapatkan bantuan langsung tunai dari dana desa merupakan warga yang memang betul-betul terdampak. Datanya yang masuk di kami, kami cek ulang. Karena prinsipnya kami tidak mau salah sasaran. Ini sudah berjalan di tahap ketiga, dua ribu lebih (penerima) sudah tersebar.

Baca juga:  Penanganan Aset Perlu Badan Terlatih

Apa imbauan untuk kepada desa dan masyarakat Kabupaten Semarang
Untuk kepala desa pastinya harus tegas, bijaksana dan inovatif. Inovatif ini yang bisa membuat desa memiliki wajah baru. Banyak anak muda di masing-masing desa, libatkan mereka. Saya yakin pemikiran anak muda zaman sekarang itu bagus, keren lah. Jangan terpatok dengan hal itu-itu saja. (*/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya