alexametrics

Disnakan Gandeng Kepolisian Sweeping Penjual Hewan Kurban

Tingkatkan Kewaspadaan Memilih Hewan Kurban

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pengawasan lalulintas hewan kurban menjadi perhatian Pemprov Jateng. Terutama dalam menjaga kesehatan masyarakat. Berikut wawancara wartawan Jawa Pos Radar Semarang Eko Wahyu Budiyanto dengan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakan) Jawa Tengah Lalu M Syafriadi.

Penyakit hewan yang bisa menular ke manusia dan perlu diwaspadai menjelang Idul Adha, apa sajakah?
Salah satu virus yang perlu diwaspadai adalah zoonosis. Terutama virus antraks. Ini virus mematikan, ditularkan oleh hewan kepada manusia. Bahkan, antraks masih menjadi penyakit endemis di Indonesia. Sebagaimana situs resmi Kementerian Kesehatan, ditemukan 16 kasus antraks kulit di Kulonprogo dan 1 suspek di Sleman pada 2016 sampai awal Januari 2017 lalu. Seluruh kasus yang dilaporkan sudah teratasi. Hingga saat ini, sudah tidak ditemukan kasus baru. Meski begitu, masyarakat perlu mewaspadai penularan antraks. Antara lain penularannya melalui luka terbuka di kulit dan saluran pernapasan.

Baca juga:  Boleh Bayar Zakat Fitrah Tanpa Ijab Kabul

Bagaimana memastikan hewan kurban tersebut bebas dari virus mematikan?
Kami meminta masyarakat untuk berhati-hati dalam membeli hewan kurban. Pastikan hewan yang akan dibeli dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Disnakan Jateng berencana menggandeng pihak kepolisian untuk melakukan sweeping di sejumlah titik penjual hewan kurban. Jika ditemukan hewan tanpa SKKH, akan langsung ditindak.
Sebenarnya aturan SKKH untuk hewan kurban sudah lama. Hanya saja, masih sekadar sosialisasi. Namun tahun ini yang melanggar akan ditindak dan ada sanksinya. SKKH tersebut bisa diurus di dokter hewan berwenang di masing-masing kabupaten/kota. Pengurusannya mudah. Ini memastikan agar hewan kurban benar-benar sehat dan berkualitas. Tidak membawa penyakit menular.

Apa yang perlu dilakukan para peternak sebelum menjual hewan kurban?
Sebelum dijual, para peternak wajib memberikan obat cacing hati kepada hewan kurban. Pemberian obat cacing ini paling cepat sebulan sebelum disembelih. Karena itulah kami mengingatkan peternak yang melakukan sistem pemeliharaan tradisional, yaitu membiarkan ternaknya mencari pakan sendiri. Hal itu memudahkan ternak terinfestasi cacing dibandingkan sapi yang dipelihara secara modern.
Jenis cacing yang banyak menginfeksi sapi secara berurutan yaitu cacing gilig, cacing daun dan cacing pita. Cacing gilig paling banyak ditemui kasusnya karena cuaca Indonesia yang beriklim tropis dengan kelembaban tinggi.

Baca juga:  Butuh Peran Masyarakat dan Stakeholder Majukan Olahraga Semarang

Bagaimana menghindari penularan covid–19, saat membeli hewan kurban?
Dengan mengurangi kerumunan di tempat penjualan hewan kurban. Kami sudah mengeluarkan surat edaran yang meminta penjual atau pembeli dari luar kota, menunjukkan surat bebas covid-19. Entah dari atau ke zona merah, kuning, bahkan hijau.
Selain itu, kami sarankan agar masyarakat membeli kambing, kerbau, sapi, atau domba, lewat daring. Kami tetap ingatkan ada standar protokol kesehatan yang harus dipatuhi saat proses transaksi hewan kurban antara penjual dan pembeli. Untuk meminimalisasi risiko, ya beli online saja.

Rekomendasi apa untuk masyarakat dalam penyembelihan hewan kurban?
Kami mengimbau masyarakat agar dapat melakukan pemotongan hewan kurban di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Saat ini di Jawa Tengah, ada 79 RPH tersebar di semua kabupaten/kota. Mengenai kapasitas pemotongan, bisa mencapai 50 ekor setiap RPH.

Baca juga:  Jangan Pakai Masker saat Bersepeda

Kami mewanti-wanti penjual dan pembeli untuk tidak memilih sapi betina untuk dijadikan hewan kurban. Sebab, saat ini populasi sapi di Jateng hanya 1,9 juta ekor. Padahal, target pemerintah untuk mencapai swasembada daging pada 2026 mendatang. Sementara kambing dan domba lebih dari 5 juta ekor. Biasanya, setiap tahun 40 persen dari populasi itu untuk kurban. (*/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya