alexametrics

Gangguan Jiwa Sering Dianggap Kena Guna-Guna

Bincang Kesehatan Jiwa dengan Sambodo Sriadi Pinilih

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Banyak mitos tentang penyebab gangguan jiwa. Akhirnya penderita tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jiwa masih rendah. Berikut bincang-bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang Puput Puspitasari dengan Pengurus Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Magelang Sambodo Sriadi Pinilih.

Apakah kesadaran kesehatan jiwa di masyarakat masih kurang ?
Dibandingkan periode tahun sebelumnya, ada peningkatan. Memang tidak dipungkiri masih adanya beberapa kasus yang butuh advokasi. Namun ada kecenderungan menurun kasusnya. Dan bila ada, kasusnya pun lebih cepat tertangani karena sudah ada perlindungan hukum yang jelas tentang Kesehatan Jiwa (UU nomor 18 Tahun 2014). Namun kembali pada masalah budaya/mitos/stigma masyarakat yang menjadi tantangannya, karena tidak mudah mengubah persepsi seseorang tentang kesehatan jiwa dengan cepat.

Apa akibat bila kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jiwa kurang ?
Pastinya akan rawan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Misalnya dikucilkan, persekusi, diskriminasi, dan segala bentuk pengabaian pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Padahal sesuai dalam UU nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, ODGJ masuk kategori Disabilitas Mental sehingga seharusnya mendapatkan perlindungan, fasilitasi oleh negara dan hak yang sama dengan penyandang disabilitas jenis lainnya.

Baca juga:  Kekhawatiran Berlebihan semakin Menghambat Produktivitas

Contoh kasus ?
Contoh kasusnya seperti ada ODGJ yang di-PHK karena mengalami gangguan kesehatan jiwa. ODGJ usia sekolah yang kemudian diminta untuk mengundurkan diri dari sekolah, karena dianggap akan mempengaruhi reputasi atau prestasi sekolah. ODGJ yang harus dikurung atau dipasung oleh keluarganya atas permintaan warga karena dianggap mengganggu/membayahakan. Kasus penelataran karena keluarga malu atau tidak sanggup lagi merawat ODGJ. Dan masih banyak lagi, belum termasuk bullying atau eksploitasi ODGJ di media sosial yang tentunya makin rumit pengendaliannya.

Apa mitos-mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat terhadap gangguan kesehatan jiwa pada seseorang ?
Mitosnya, gangguan jiwa disebabkan karena faktor keturunan, kutukan karena kesalahan nenek moyangnya, dianggap aib. Adanya anggapan pasti akan meresahkan seperti mengamuk atau melukai orang lain, dan paling seringnya mitos yang ada adalah gangguan jiwa karena kerasukan setan/jin sehingga dianggap tidak mempan pengobatan medis. Dianggap kalau diberi obat kimia nanti malah merusak organ tubuh, sehingga makin kuat ganggguan jiwanya, itu mitosnya. Dan pemahaman keliru ini tidak pandang bulu terjadi pada masyarakat pendidikan rendah atau ekonomi lemah. Karena sangat personal kalau berkaitan stigma ini. Bahkan orang terpelajar, ekonomi mapan bahkan memiliki jabatan pun ada yang masih mempercayai mitos-mitos ini.
Apa yang harus dilakukan masyarakat untuk mendeteksi dini adanya gangguan kesehatan jiwa ?
Secara umum masyarakat harus cerdas untuk mencari informasi yang resmi dan ilmiah dari sumber yang terpercaya tentang kesehatan jiwa. Secara khusus, harapannya di tiap desa, Kader Kesehatan ditambahkan pengetahuan dan keterampilan tentang kesehatan jiwa, mulai dari cara mengenali tanda seseorang mengalami masalah kejiwaan, ke mana harus melapor atau mendiskusikan penanganannya dan bersinergi dengan puskesmas memberikan pendampingan bagi warganya yang ada di wilayahnya itu.

Baca juga:  Siapkan Padat Karya Tunai Destinasi Tempat Wisata

Apa manfaat jika gangguan kesehatan jiwa ditangani secara dini ?
Masyarakat yang sehat akan tetap sehat, masyarakat yang berisiko mengalami gangguan kesehatan jiwa akan menjadi sehat dan mencegah positif gangguan jiwa, serta masyarakat yang sudah mengalami gangguan jiwa akan mandiri dan kembali produktif. Sehingga harapannya bisa kembali ke lingkungannya dengan nyaman baik bagi dirinya, keluarganya dan lingkungannya.

Apa saran bagi masyarakat ?
Manfaatkanlah fasilitas belajar yang banyak di sekitar kita. Memanfaatkan layanan kesehatan yang ada di wilayah tempat tinggalnya bukan hanya saat mengalami gangguan kesehatan fisik saja tapi juga saat ada keluhan-keluhan kesehatan jiwa. Tidak harus menunggu kasus gangguan jiwa terjadi pada kita atau keluarga kita duluan. Ada atau tidak ada masalah kesehatan jiwa yang terjadi, kita harus bersiap diri dan menjaga diri dengan baik. Manfaatkan komunitas atau kelompok relawan social pendamping kesehatan yang ada diwilayah anda. Karena menjaga kesehatan fisik saja tidak cukup, harus lengkap sehat jiwa dan raga. Prinsip yang harus dipegang adalah without mental health there can be no true physical health. (*/ton)

Baca juga:  Retno Wulandari, Dalami Psikologi, Jadi Teman Curhat

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya