alexametrics

Pembelajaran Daring Punya Banyak Kelemahan

Bincang Pendidikan dengan Anang Budi Utomo

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran dalam jaringan (daring) rawan menimbulkan kebosanan. Tingkat produktivitas siswa cenderung menurun. Tenaga pendidik sebagai ujung tombak harus memutar otak agar pembelajaran kreatif efektif dan menyenangkan bisa terwujud. Berikut bincang-bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang Alvi Nur Janah dengan Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo.

Bagaimana sudut pandang Anda terhadap model pembelajaran daring?

Pembelajaran dalam jaringan (daring) masih tetap berjalan. Proses pembelajaran tahun lalu berjalan normal, sekarang harus physical distancing. Normalnya dalam satu kelas, harus diisi oleh puluhan siswa. Katakan lah bagi siswa SD hingga SMP kuota normal sebanyak 25-28 siswa. Jenjang SMA bertambah menjadi 32-36 siswa. Namun kondisi sekarang tidak bisa dipaksakan. Siswa masih tetap dan harus belajar di rumah. Meski daring, pyhsical distancing tetap dijalankan.

Baca juga:  Terkendala Anggaran, Perbaikan SD Berjalan Lambat

Seberapa efektifkah pembelajaran daring di tengah pandemi?

Memang dengan model daring ada kelemahan. Terutama bagi siswa yang mendengarkan materi secara terbatas. Jika guru tidak kreatif, yang terjadi tugas siswa menjadi menumpuk. Sehingga kata kuncinya, harus secara daring namun kreatif. Bagi jenjang rendah seperti TK dan SD kadang kerepotan. Apalagi untuk orang tua dan pengasuh mau tidak mau harus siap. Meskipun lewat daring, kurikulum harus sesuai situasi dan kurikulum yang berlaku. Intinya tidak membebani siswa ketika di rumah.

Apa saja kendala yang ditemui ketika model pembelajaran daring?

Jaringan internet. Aksesbilitas secara daring dan tatap muka berbeda. Akses daring belum sepenuhnya mampu 100 persen. Bisa dikatakan hanya kisaran 40-60 persen bisa mengakses secara baik. Tentu banyak faktor, pertama mengenai jenis spesifikasi ponsel atau gawai. Kedua, tentunya nanti berimbas ke jaringan atau kuota internet. Ketiga, tentu biaya yang dikeluarkan tidak murah. Ketiga faktor tersebut jika tidak dipecahkan akan berimbas pada kesalahan informasi antara siswa dan guru.

Baca juga:  Lakukan Recovery Psikologis Kader agar Tetap Optimistis

Langkah apa yang bisa dilakukan?

Sistemnya dibenahi. Ini kita meminta Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk rapat minggu depan. Agendanya adalah evaluasi dan mendengarkan jajak pendapat dan masukan. Dari pakar, dan disdik perihal pendapat menyoal pembelajaran metode daring di tengah pandemi. Utamanya materi yang disampaikan secara video conference (vidcon). Kita memang meminta kepada dinas pendidikan untuk mengadakan pelatihan kepada tenaga pendidik. Supaya anak tidak bosan dan suntuk.

Apa harapan terkait model pembelajaran saat ini di tengah pandemi?

Guru sebagai aktor. Bagaimana ia bisa menguasai materi. Guru harus modern dan tidak gaptek. Kita minta disdik untuk mengontrol dan mengawasi. Bila perlu mengawasi Bimbingan Teknis (Bimtek). Toh, PPDB saat ini sedang berjalan. Demi menyambut ajaran baru, kompetensi guru juga wajib ditingkatkan. Bila perlu, guru segera memberikan pemetaan rinci kepada siswa. Perihal akses internet agar tidak mengganggu jalannya pembelajaran. Untuk itu, kita rapatkan dengan disdik. Dinas Pendidikan Kota Semarang segera lakukan bimtek untuk daring ini. (*/ton)

Baca juga:  Undip Terima 13.198 Mahasiswa Baru

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya