alexametrics

Hargai Profesi Perawat, Jangan Samakan Baby Sitter

Kasus Kekerasan pada Profesi Perawat Masih Tinggi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Banyak kasus kekerasan pada profesi perawat. Terutama dalam dua bulan ini, ada tiga kasus yang dilaporkan. Mulai kasus penganiayaan, yaitu perawat ditampar pasien hingga kasus hangat penolakan jenazah perawat terjangkit covid-19. Berikut bincang-bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang Maria Novena dengan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah Edy Wuryanto.

Sejauhmana tingginya kasus penganiayaan hingga pelecehan perawat?
Selama ini masyarakat masih melihat profesi perawat itu sebagai pembantu dalam tanda kutip, bahkan disamakan dengan baby sitter. Sehingga hal kecil pun diserahkan kepada perawat. Bahkan, jika tidak sesuai dengan keinginan garda depan tim medis, yang disalahkan pasti bagian perawatan. Ini yang salah. Di dalam undang-undang sudah tertulis rapi, dengan hak dan kewajiban perawat. Sehingga masyarakat harus pahami ini.

Baca juga:  Cegah Siswa Anarkis dengan Pendidikan Karakter

Dengan viralnya beberapa kejadian, bagaimana animo generasi muda untuk menempuh pendidikan perawat?
Hingga saat ini semua masih baik. Tidak ada hambatan. Semua sudah sesuai hukum yang berlaku. Justru di akhir tahun 2019 hingga 2020, peminat menjadi perawat semakin tinggi. Disamping memang profesi tersebut sangat dibutuhkan.

Para pelaku penganiayaan dan penolakan jenazah perawat yang diproses hukum, apakah turut mempengaruhi pelayanan kesehatan?
Saya pastikan dan saya jamin, kasus-kasus yang masuk di ranah hukum tidak akan mengganggu pelayanan kesehatan pada masing-masing daerah. Seperti yang di Ungaran hingga Kota Semarang. Justru jika ada perawat yang tidak melayani pasien dengan baik dan sesuai prosedur, masyarakat bisa melaporkan kepada kami. Sudah pasti akan ada pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR), sehingga tidak lagi menjadi perawat.

Baca juga:  Pengembang Wajib Berikan Fasum Makam

Imbauan untuk masyarakat terkait profesi perawat?
Saya mengingatkan jangan memandang perawat sebagai profesi rendah. Perawat sama halnya dengan dokter. Masyarakat jangan meluapkan emosi, jika ada yang kurang di instansi kesehatan. Dengan begitu, generasi muda tak takut bercita-cita menjadi perawat. Apalagi saat pandemi covid-19, para perawat berada di garda depan. Ayolah, semuanya bersinergi. (*/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya