alexametrics

Bangunan La Constante et Fidele Dulu Gedung Tempat Pemuja Setan, Kini Jadi Pertokoan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Loji La Constante et Fidele atau Gedung Setan dulu cukup dikenal di Kota Semarang. Lokasinya di sudut antara Jalan Imam Bonjol dan Jalan Indraprasta,  Kota Semarang. Namun bangunan tua itu kini sudah hilang. Berganti dengan deretan rumah dan toko (ruko). Salah satunya Toko Alat Kesehatan Arnaz De Lourdes.

Gedung La Constante et Fidele didirikan pada 1801. Bangunan ini dahulu sering dijadikan sebagai markas penganut aliran sesat, sehingga disebut dengan nama Gedong Setan. La Constante Et Fidele kini tinggal kenangan karena sudah dibongkar pada 1976, dan lahannya dijadikan lokasi pusat pertokoan.

Seperti dilansir Ramesan.com, bangunan ini dahulu digunakan untuk berkumpulnya beberapa orang yang tergabung dalam salah satu sekte organisasi Freemason, yakni Vrijemetselarij.

Freemason adalah sebuah organisasi persaudaraan yang berdiri antara akhir abad XVI hingga awal abad XVII. Dilansir Semarangkota.com, dahulu memang banyak anggota Vrijmetselarij yang tinggal di wilayah Hindia-Belanda (kini Indonesia), termasuk di Kota Semarang.

Baca juga:  Bundaran Bubakan Semarang Dulu Stasiun dan Terminal Jurnatan, Kini Jadi Musem Kota Lama

Dikabarkan Wowasiknya.com, dahulu bangunan ini memang digunakan para anggota sekte itu untuk melakukan kegiatan tak lazim. Salah satu kebiasaan mereka adalah pemanggilan roh untuk diajak berkomunikasi.

Karena kebiasaan itu dianggap aneh, sebagian masyarakat menyebut Le Constante Et Fidele dengan nama Gedung Setan. Sayangnya bangunan yang megah bersejarah dan dengan nilai artistik tinggi di Kota Semarang itu kini sudah tak berbekas. Persis di bekas gedung itu kini menjadi Toko Alat Kesehatan Arnaz De Lourdes.

Ya, gedung tinggi besar bercat putih seperti halnya bangunan-bangunan peninggalan Belanda lainnya itu sekarang telah berubah menjadi ruko-ruko. Yang tersisa hanyalah cerita turun temurun tentang gedung yang pernah ada di kawasan Pendrikan, Semarang Tengah itu.

Didik, 72, warga Pendrikan Lor mengatakan, sejak zaman kemerdekaan bangunan La Constante et Fidele menjadi salah satu warisan Belanda yang dijadikan sebagai gedung sitaan.  Gedung itu pernah sebagai kantor kejaksaan. Selain itu, di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan yang menjadi tempat tinggal para tentara.

Baca juga:  Pengakuan Cewek Open BO di Semarang, Pernah Dibooking Pasutri untuk Layani Threesome

“Di sini sebenarnya dulu banyak bangunan bersejarah, Mas. Tapi sekarang sudah berganti semua,” ceritanya.

Ia menceritakan, sesuai namanya, Gedung Setan dulu dikenal angker. Bahkan, sampai sekarang pun bekas gedung tua itu masih wingit.

Diceritakan, di Gedung Setan, warga kerap diperlihatkan sosok laki-laki tinggi dan berjenggot. “Waktu saya kecil atau sekitar 60 tahun yang lalu, saya sering dipesani orang tua saya agar tidak pergi ke situ (Gedung Setan). Karena ada setannya. Yaudah saya manut, tidak main ke situ,” ceritanya.

Setelah dibangun ruko pun, pernah beredar cerita seorang petugas kebersihan bangunan tersebut yang mengaku sering merasakan pengalaman mistis, seperti melihat hantu suster ngesot, hantu kuda, hantu mesin ketik, dan hantu tentara baris. Konon, hantu suster ngesot adalah seorang suster yang diperkosa dan dibantai oleh tentara Jepang.

Baca juga:  Nenek 70 Tahun di Cepiring Tewas dengan Luka Tusuk dan Bacokan

Didik menambahkan, dulu di sekitar Gedung Setan ada sungai yang airnya sangat jernih. Namanya Kali Karetan. “Sesudah main, biasa saya dan teman-teman mandi di kali itu, Mas. Kalinya istimewa. Airnya bening. Kami juga mengambil buah-buahan di sekitar. Tapi, sekarang semuanya sudah lenyap,” kenangnya.

Hal itu dibenarkan warga lain, Sigit, 74. Ia mengaku, di sepanjang Kali Karetan dulu banyak dipakai cuci mobil dan truk. “Airnya ya dari situ, karena bersih,” akunya.

Sigit juga mengakui keangkeran Gedung Setan. Bahkan, saat bangunan itu diratakan, lalu dibangun ruko, sempat ada pekerja bangunan yang terjatuh hingga meninggal. “Pokoknya, angker itu, Mas,” ujarnya.

Saat bus kota masih marak di Kota Semarang, lanjut Sigit, rata-rata penumpang jika turun di kawasan tersebut bilang ke kernet dan sopirnya mau turun di Gedung Setan. “Turun mana? Turun di Gedung Setan pasti tahu,” ceritanya. (fgr/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya