alexametrics

Eksistensi GRIS Digantikan Mal Paragon

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Orang Semarang, utamanya generasi baby boomers tentu tau GRIS (Gedung Rakyat Indonesia Semarang). Salah satu gedung bioskop yang paling eksis di masanya. Namun, 14 tahun lalu bangunan bersejarah itu diruntuhkan. Berganti gedung modern 13 lantai bernama Mal Paragon.

GRIS berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Gedung ini berada di kawasan Bojong (sekarang Jalan Pemuda Semarang). Meski sudah menjadi pusat perbelanjaan modern, namun kenangan GRIS masih ada.

Seperti Achmad Arief, warga Sekayu RT 2 RW 1 Kecamatan Semarang Tengah ini. Ia masih ingat betul sejarah GRIS. Konon Semarang menjadi pusat peradaban. Banyak perdagangan palawija yang masuk melewati Pelabuhan Tanjung Emas. Seperti Portugis, Cina, India, dan lainnya.

Baca juga:  Waduh! Banyak Pedagang Pasar Pagi Kaliwungu Punya Lebih dari Satu Lapak

“Pelabuhan Tanjung Emas menjadi pelabuhan paling ramai di Pulau Jawa,” ujar Arief.

Ia menambahkan, GRIS dulunya adalah gedung Harmoni Belanda (Societeit Harmonie). Bangunan ini, digunakan sebagai tempat berkumpulmya orang-orang Belanda. Orang pribumi membeli GRIS untuk dijadikan sebagai gedung bioskop. Dibentuklah panitia Fond GRIS.

“Jadi GRIS ini dulu diurus oleh yayasan, disampingnya juga ada gedung wayang orang. Namanya Ngesti Pandowo,” jelasnya.

Pementasan bioskop dibagi tiga sesi, dimulai pukul 17.00 hingga pukul 23.00. Tahun 1950 hingga 1970 adalah masa kejayaan GRIS. Pemutaran film tidak hanya lokal tapi juga film barat. Selain sebagai gedung bioskop. GRIS biasa digunakan untuk acara resepsi, perpustakaan rakyat, kampus akademi Bahasa, dan lainnya. Gedung GRIS dan Ngesti Pandowo berdampingan. Keduanya berjalan bersama. Bahkan Ngesti Pandowo juga telah melahirkan artis-artis terkenal seperti Tukul Arwana.

Baca juga:  PDAM Kendal Responsif Tangani Covid-19

“Setiap hari pasti akan ada pertunjukan wayang orang di GRIS, yang menjual karcisnya warga sini. Namanya Putra Sekayu Club, dibentuk tahun 1951. Sampai sekarang orang-orangnya masih ada, termasuk saya” ujar pria 75 tahun ini.

Namun pada tahun 1970-an, GRIS mulai sepi pengunjung. Peradaban semakin maju. Orang-orang yang biasanya main di theater mulai meninggalkan Semarang.

“Tahun 2008 GRIS dibongkar dan dibangun Mal Paragon. Ngesti Pandowo dipindah ke Taman Budaya Raden Saleh (TBRS),” ujarnya. (cr4/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya