alexametrics

Mengabdi dengan Lego Lilo

Sakina Rosellasari, Kepala Disnakertrans Jawa Tengah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Meski belum lama menjabat sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari telah melakukan banyak gebrakan. Terutama di sektor pelayanan publik. Pasalnya pandemi menjadi momen tepat untuk beradaptasi pada pelayanan virtual.

Mulai dari e-makaryo untuk menjembatani para tenaga kerja mencari lowongan kerja hingga Sistem Informasi Keselamatan dan Keseharan Kerja (SIK 3) untuk mempersingkat perizinan bagi perusahaan dan meminimalkan gratifikasi. “Pokoknya fokus utama saya ya terus meningkatkan pelayanan,” ujarnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Semarang.

Di samping itu, Sakina juga menginisiasi Podcast Nggoreng Bakwan akronim Ngobrol Bareng Bab Gawean. Setiap dua minggu sekali pihaknya mengundang stakeholder secara bergantian untuk menjadi pembicara tamu.

Mulai dari dirinya sendiri, pengelola BLK dan Balatkop, youtuber, hingga Menteri Ketenagakerjaan RI Ida Fauziyah pernah mengisi. Sosialisasi lebih mudah diterima dengan cara tersebut. “Cara kita mengenalkan program ke masyarakat kan juga perlu beradaptasi, tim kreator kita pun bisa mengikuti,” imbuhnya.

Baca juga:  Berharap Gubernur Ganjar Inisiasi Balai Damai

Diceritakan tantangan terberat selama menjabat kepala dinas sejak 20 Januari 2020 lalu ialah menurunkan tingkat pengangguran terbuka di Jateng. Saat ini tercatat di angka 5,95 persen atau lebih dari 1,13 juta orang.

Meskipun tahun sebelumnya berada di posisi 6,48 persen, menurutnya, ini masih menjadi tugas besar baginya. Ia masih terus mengembangkan platform e-makaryo untuk mengoptimalkan link and match antara pengguna atau perusahaan dengan tenaga kerja.

Pada puncaknya, tahun ini Ia mengantarkan Disnakertrans meraih prestasi Ketenagakerjaan di tingkat nasional. Antara lain penghargaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terbaik. Lalu penghargaan Pembina Paramakarya Produktivitas.

Tak jarang ibu dari dua anak itu bekerja di akhir pekan. Urusannya seperti tak ada habisnya. Namun itulah jalan yang dipilih untuk mengabdikan diri kepada negeri. Sejak dulu ibunya berharap agar Sakina menjadi perempuan mandiri dan sukses meniti karir. “Mengabdi itu harus lego lilo,” ungkapnya.

Baca juga:  Hendrix Setiawan: Mulai dari Nol, Terus Belajar dan Belajar

Totalitasnya dalam bekerja kerap berbuah manis. Ia dua kali mendapat beasiswa untuk menempuh studi pascasarjana saat menjadi ASN. Pertama, beasiswa dari Pemprov Jateng untuk menempuh pendidikan S2 Ekonomika di UGM Yogyakarta pada 1999. Kedua, beasiswa Asian Development Bank (ADB) untuk S2 di Kasetsart University, Thailand. Tepat setelah lulus dari UGM pada 2001, ia mengikuti seleksi beasiswa ADB dan lolos. Akhir 2001 ia terbang ke Thailand meneruskan studi.

Menurutnya, menjadi ASN tak berarti menutup kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri. Akan selalu ada kesempatan terbuka bagi mereka yang pandai memanfaatkna peluang.

Sakina pun tak pernah ragu untuk mencoba. Karena manusia tak pernah tahu jalan yang digariskan Tuhan. Ia mengaku sangat bersyukur pernah menerima pengalaman berharga yang mengantarkan dirinya ke sejauh ini.

Baca juga:  Zaenuri Siroj: Menulis Buku Mengubah Hidup

Diakui support system terbesar datang dari keluarga. Ia tak pernah diprotes sekali pun soal karir yang dijalani. Terlebih saat ini kedua buah hatinya telah beranjak dewasa. Anak pertama telah bekerja di Jakarta. Sedangkan yang bungsu duduk di bangku SMA. (taf/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya