alexametrics

Hendrix Setiawan: Mulai dari Nol, Terus Belajar dan Belajar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Berada di pucuk pimpinan BLU Trans Semarang sebelumnya tidak ada di benak Hendrix Setiawan. Namun semua berubah ketika Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menunjuknya sebagai nahkoda baru layanan transportasi milik Pemkot Semarang ini pada akhir 2019.

Pria asal Pati ini sebelumnya merintis karier dari nol dengan basic lulusan DIII Teknik Elektro Undip. ia mulai mengabdi sebagai aparatur sipil negara (ASN) pada 2010 lalu sebagai teknisi penerangan jalan umum (PJU) di Dinas Penerangan Jalan dan Pengelolaan Reklame (PJPR) atau saat ini telah berganti menjadi Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang.

“Sebagai teknisi kerjanya manjat, menggali tanah, memperbaiki lampu memasang tiang dan lainnya,” kata Hendrix sembari sorot matanya berkaca-kaca.

Empat tahun menjadi teknisi, akhirnya pada 2014 ia pindah ke bagian Protokol Pemkot hingga sekitar tiga tahun. Selanjutnya pada 2017 hingga 2019 dipercaya sebagai ajudan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi sebelum bergabung di Trans Semarang.

“Banyak kesan ya, dulu waktu jadi teknisi kan teknologi belum lengkap, ganti lampu atau perbaikan ya pakai tangga bambu. Paling berkesan ketika mengganti lampu Tugu Muda, harus nyambung tiga tangga. Saat angin kencang, tangganya kayak geter gitu ya deg-degan sih,” ucapnya lantas tertawa.

Baca juga:  Kerja Keras Berbuah Manis

Terus belajar dan belajar menjadi hal yang wajib dilakukan Hendrix saat dimutasi. Kebetulan sosok Hendrar Prihadi menjadi figur yang sangat menginspirasi baginya dan menjadi panutan. Dari segi kebijakan, inovasi dan gaya kepemimpinan yang bisa merangkul semua kalangan.

“Harus banyak belajar dan harus bekerja dengan benar sesuai dengan SOP. Tentu ini menjadi tantangan, apalagi harus ada perbaikan dari segi SDM di Trans Semarang, baik driver, awak dan lainnya,” tambahnya.

Peraturan yang sudah ada di tubuh Trans Semarang kemudian ia sempurnakan lagi agar karyawan juga nyaman. Usaha tersebut secara tidak langsung membuat loyalitas karyawan lebih tinggi sehingga bekerja dengan hati untuk melayani masyarakat.

“Termasuk perbaikan SDM tadi, kita buka kran pengaduan untuk memperbaiki kualitas layanan masyarakat. Intinya terus belajar dan belajar,” jelas dia.

Perbaiki SDM, Tingkatkan Kualitas Layanan

Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang kini menjadi transportasi massal andalan warga Kota Semarang. Perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta inovasi untuk meningkatkan layanan, terus dilakukan layanan transportasi milik Pemkot Semarang.

Baca juga:  Emosi Sumber Inspirasi Puisi di WA Story

Plt Kepala BLU Trans Semarang Hendrix Setiawan menjadi nahkoda baru sejak akhir 2019 lalu. Ia mengaku, layanan kepada masyarakat terutama kenyamanan dan keamanan terus ditingkatkan meskipun di tengah Pandemi Covid-19 seperti saat ini.

“Keamanan dan kenyamanan penumpang serta penggunaan jalan lainnya menjadi hal yang wajib, SDM seperti driver, awak bus terus kita upgrade dan minta agar melayani masyarakat dengan sepenuh hati,” kata Hendrix kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Belum lama ini, pria berkepala plontos ini bahkan tak ragu mengandangkan armada Trans Semarang yang menggunakan ban vulkanisir. Tujuannya demi keamanan penumpang dan pengguna jalan lainnya. “Selain itu keluhan penumpang kita akomodasi, misal AC yang kurang dingin dan lainnya. Termasuk keluhan sopir di luar maintenance rutin,” tuturnya.

Selama masa pandemi ini, pemenuhan terhadap protokol kesehatan tetap dilakukan secara ketat. Wajib memakai masker,alat pengukur suhu, hand sanitizer serta tempat cuci tangan, sterilisasi bus dan halte apapun shelter tetap dilakukan. “Karyawan maupun driver kami maupun dari pihak ketiga kami berikan vitamin, suplemen dan susu untuk menjaga agar terhindar dari Covid-19,” ujar Hendrix.

Baca juga:  Pegang Tiga Kunci Mendidik Logika, Etika, Estetika

Okupansi bus dan armada feeder bahkan masih dibatasi sebesar 50 persen. Meskipun dalam PPKM level 2 di Kota Semarang ini, angkutan umum diperbolehkan mengangkut penumpang 75 persen dari kapasitas. “Kita nggak mau ambil risiko, terlebih jam padat siang dan sore bisa saja terlalu penuh. Maka penumpang tetap kami batasi 50 persen,” jelasnya.

Inovasi lainnya dimasa pandemi ini, salah satunya meluncurkan rute Feeder baru Gunungpati-Unnes-BSB dan tarif khusus Disabilitas. Berkat segala inovasi yang dilakukan di masa pagebluk Covid-19 ini, Trans Semarang tahun lalu menyabet juara III Pelayanan Sektoral Transportasi Terbaik selama pandemi ditingkat Nasional. “Dengan pembatasan yang ada, tidak membuat kami menurunkan standar pelayanan. Bahkan terus kami tingkatkan, pandemi ini bahkan kami tidak mengurangi karyawan,” katanya.

Agar bisa menyentuh semua daerah di Semarang, kajian terhadap rute baru juga dilakukan. Juga evaluasi jalur eksisting yang sudah ada tetap dilakukan. Selain itu kanal-kanal pengaduan juga dibuka selebar mungkin demi perbaikan layanan transportasi, meskipun banyak atau sedikitnya komplain bukan menjadi patokan utama untuk melakukan perbaikan layanan ataupun inovasi yang dilakukan. (den /ton)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya