alexametrics

Bangkit dari Bully, Sukses Berbisnis Bakery

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hygianti Medina Putri Hapsari. Panggilannya: Putri Uti. Remaja berusia 18 tahun itu, kini sukses menjadi pengusaha bakery. Warga Gayamsari, Semarang, tersebut, menjalankan bisnisnya sejak usia 14 tahun. Melalui marketing online maupun offline.

Orang tua siapa yang tak kaget saat putri kecilnya tiba-tiba memutuskan untuk berhenti sekolah. Penyebabnya, si anak merasa jadi korban perundungan alias bully teman-teman sekolahnya.

Kepada jurnalis Jawa Pos Radar Semarang, Putri Uti menuturkan, “Papah mamah kaget dengan keputusan itu. Lebih kaget lagi, saat aku memutuskan untuk fokus belajar memasak,” tuturnya. Meski berat, akhirnya Seno Hygianto dan Siti Medina, orangtua Putri Uti “merelakan” putri ketiganya itu untuk berhenti sekolah formal. Melainkan, pilih belajar memasak.

Putri Uti mengaku di-bully karena membela seorang temannya. “Mereka (beberapa teman lain) tidak terima. Mereka balik mem-bully saya. Malah teman sekelas yang laki,-laki ada yang melakukan kekerasan, memukul saya,” kenang Putri Uti yang saat itu masih duduk di bangku kelas 3 SD.

Baca juga:  Tidak Putus Asa meski Gagal Masuk PTN

Namun, siapa sangka, Putri Uti justru memiliki passion masak yang luar biasa. “Memasak adalah passion saya, karena sering melihat mamah begitu asyik saat memasak di dapur untuk keluarga kami,” cetus Putri. Dan, Putri membuktikan keputusannya, fokus belajar memasak. Sekaligus, membuktikan bahwa ia bisa bangkit dari keterpurukan akibat di-bully.

Asyik di dapur, mencoba berbagai resep masakan, membuat kemampuan memasak Putri semakin terasah. Penuh percaya diri, setahun setelah “tenggelam” di dapur rumahnya, Putri kecil mencoba menjual hasil masakannya melalui media sosial. Hasilnya, di luar dugaan: laku keras! “Saya waktu itu fokus bikin kue kering, bakery. Ternyata, banyak yang suka dan beli, omzet sempat Rp 15 sampai Rp 20 juta sebulan,” ungkapnya.

Baca juga:  Data Tak Faktual, Hasilkan Perencanaan Tak Baik

Kesuksesan Putri, rupanya mampu menghapus kenangan buruk, bahwa ia pernah menjadi korban bully beberapa tahun silam. Putri kini bahkan meniadi salah satu sosok inspiratif korban bully yang mampu bangkit, saat menjadi peserta Master Chef Indonesia (MCI) season 8. Tiga dewan juri MCI: Chef Arnold, Chef Juna, dan Chef Renata yang mengetahui perjalanan hidup Putri, memberi motivasi.

“Tidak hanya ketiga juri, tapi teman-teman peserta MCI season 8 yang sudah saya anggap sebagai kakak, juga memberi dukungan moril yang tiada henti,” kenang remaja kelahiran 24 Desember itu.

Meski harus terhenti di babak 14 besar, namun pengalaman mengikuti ajang kompetisi memasak yang ditayangkan di salah satu TV swasta, membuat Putri semakin terbuka. Yakni, bahwa masih banyak orang yang menyayanginya. Tidak hanya keluarga dan saudara-saudaranya.

Baca juga:  Tukang Bakso yang Dipercaya Jadi Kepala Sekolah

“Yakinlah buat teman-teman yang pernah jadi korban bully dan masih trauma, masih banyak orang yang peduli dan sayang sama kita. Temukan passion-mu dan teman-teman barumu,” cetus Putri.

Bully atau perundungan memang akan selalu menyisakan trauma. Tak mudah untuk menyembuhkannya. Namun, bangkit dan berdiri, karena jalan masih panjang adalah keputusan yang harus diambil. Seperti yang dilakukan aktris Kylie Jenner, pesohor dunia yang juga model, sekaligus pebisnis berkebangsaan Amerika Serikat.

“Di mana-mana ada hal yang di-bully. Mereka yang ter-bully, kalian tidak sendiri. Kalian yang di-bully, satu-satunya pendapat yang penting adalah pendapatmu dan jangan pernah berubah,” katanya. Dan, terbukti Kylie Jenner, Lady Gaga, dan kini Putri Uti berhasil bangkit dan meraih sukses. (sls/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya