alexametrics

Tukang Bakso yang Dipercaya Jadi Kepala Sekolah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Lasiman, pria kelahiran Sukoharjo 62 tahun silam ini, beranggapan untuk apa hidup, jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Maka, kiprahnya di pelbagai organisasi adalah salah satu jalannya untuk terus menebar manfaat.

Karir organisasinya dimulai dari mendirikan Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APLI), mengorgananisir Persatuan Rakyat Desa (Parade) Nusantara, ketua Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI), memimpin Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (APMISO), dan menjadi wakil ketua Asosiasi UMKM seluruh Indonesia.

Semua itu ia jalani dengan senang hati dan gembira. Ia percaya bahwa tidak ada hal yang paling berharga selain hidup bermanfaat. Kecintaanya kepada ilmu juga membawanya berhasil menempuh pendidikan sarjana, walaupun sembari berdagang bakso.

Anak bungsu dari lima bersaudara ini, mulai berdagang bakso setelah lulus SMA. Bakso gerobak di Semarang. Pelanggannya orang kantoran dan mahasiswa. Dari melihat dan berinteraksi dengan mahasiswa itulah, ia bertekad melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, meskipun harus mengambil kuliah malam.

Rutinitas paginya adalah berbelanja, memasak, dan berjualan hingga sore. Malamnya ia gunakan untuk kuliah dan belajar. Bahkan, sebelum lulus dari IKIP Veteran Semarang, ia sudah mengajar di salah satu SMK swasta. Hal itu bisa berjalan setelah bisnisnya berkembang. Bisa menyewa outlet dan membayar karyawan.

Bisnisnya semakin besar, hingga merambah menjadi pemasok daging bagi pedagang bakso, dan supermarket. Di sekolah pun, ia tak hanya menjadi guru. Ia sempat beberapa tahun dipercayai menjadi kepala SMK swasta, hingga ia pensiun 2 tahun lalu.

Selama menjadi kepala sekolah, ia memberikan gebrakan. Yaitu menggratiskan sekolah dan meningkatkan kesejahteraan guru dengan berbagai program. Salah satunya dengan penambahan uang transport dan uang makan agi pengajar di sana.

Baca juga:  Dunia Politik sebagai Panggilan Jiwa

Lalu, ketika ditanya sumber dananya dari mana? Sekolah gratis, tapi gurunya sejahtera? Ternyata, berjalannya operasional sekolah dijalankan dari pelbagai unit usaha yang dimiliki yayasan. Menurutnya, dengan mengobtimalkannya usaha itu, siswa tidak perlu membayar sekolah.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kediamannya, ia baru saja menjadi narasumber di acara webinar yang diadakan oleh IPB. Ia berperan sebagai perwakilan pedagang bakso Indonesia. Di sana ia menjelaskan mengenai pelbagai kebutuhan dalam membuat bakso dan kendala-kendalanya.

Sedangkan IPB sebagai pihak peneiti yang akan melaporkannya kepada pemerintah. Menurutnya, hal itu berangkat dari kepedulian pemerintah terhadap pasokan bahan baku bakso dan mie, demi menciptakan kebijakan pasar yang tepat.

Sebelumnya, ia juga kerap diundang untuk mengisi seminar, workshop, forum diskusi dan sebagainya. Baik untuk mewakili APMISO, maupun memberi motivasi untuk berwirausaha. Lelaki yang dulu berjualan bakso sembari berkuliah di IKIP Veteran Semarang ini, sangat bersyukur diberikan kemudahan dalam hidup.

Yang dulunya hanya memiliki satu gerobak bakso, hingga memiliki outlet. Sempat beberapa kali pindah karena digusur oleh proyek pemerintah, tidak menyurutkan semangat berdagang yang telah diwariskan keluarga. Semakin hari, ia terus melebarkan sayap usahanya. Salah satunya adalah menjadi suplier daging bagi anggota APMISO, dan supermarket di Indonesia.

Dengan kerja kerasnya, ia berhasil menyekolahkan dua anaknya hingga sarjana. Sekarang keduanya telah bekerja di kantor dan berkeluarga.

Ditemui Kapolda, Dicurigai Mengoordinir Pedagang Melakukan Aksi

Baru-baru ini santer terdengar akan ada aksi massa besar-besaran untuk memprotes perpanjangan kebijakan PPKM. Menanggapi hal itu Kapolda Jateng mengunjungi kediaman Lasiman untuk memastikan bahwa organisasi yang ia pimpin, tidak akan terlibat demonstrasi.

Baca juga:  Tak Hanya Tentara, Bela Negara Wajib Bagi Semua Warga

“Tadi pagi (belum lama ini), Kapolda ke sini. Mereka bertanya kepada saya, apakah saya ikut mengoordinir massa untuk melakukan demo? Saya jawab tidak. Saya kan juga paham, bahwa Covid itu benar-benar ada, dan sudah memakan banyak korban,” tuturnya.

Bahkan, ia bercerita juga pernah dirawat 10 hari karena virus mematikan ini. Namun, akhirnya sembuh karena semangat, serta mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama keluarga. “Untuk menjaga imun, saya rajin lari 10 putaran di lapangan. Setiap pagi,” jelasnya.

Walaupun  secara emosional UMKM tidak terima dengan aturan PPKM, selain karena menurunkan omzet, progam ini dinilai terlalu ketat. Contohnya kebijakan pukul 08.00 harus sudah tutup, padahal ada pedang yang mulai berdagang sore hari.

“Kalau kayak gitu gimana? Sore baru mulai berdagang, tapi jam 08.00 sudah disuruh tutup. Makan harus dibungkus, tidak boleh di tempat, dan lain-lain. Akhirnya banyak pedagang yang tutup. ” jelasnya.

Menurutnya, program pemerintah PPKM tetap harus dilaksanakan, namun dengan protokoler yang baik. Jadi, ia tetap tidak setuju jika beredar ajakan “Tolak PPKM”.

“Biarkan pemerintah memberikan aturan dan perintah yang baik. Masyarakat, jangan mengompori yang enggak-enggak lah,” jelasnya.

Lasimin juga berpendapat,ada dua hal yang terpenting untuk dijaga. Yang pertama adalah kesehatan, yang kedua adalah mencari rejeki. Hal ini harus diperlakukan sama.

Baik pemerintah yang menegakkan PPKM, maupun masyarakat yang berjualan harus duduk bersama. Harus saling menyadari, dan berdiskusi, saling menyadarkan sehingga PPKM berjalan lancar, Covid-19 semakin hilang, ekonomi masyarakat juga berjalan.

Baca juga:  Jiwa dan Raga Berdarah Pemasyarakatan

APMISO juga mengusulkan kepada pemerintah untuk mengendorkan peraturan, agar anggotanya tetap bisa berjualan di malam hari, tentu dengan catatan mematuhi protokol kesehatan. Menurutnya, manusia jika tidak memiliki kegiatan, semakin sakit. Sakit jasmani dan sakit rohani.

“Maka, orang itu harus punya kegiatan. Jangan diwajibkan suruh di rumah saja. Salah itu. Keliru aturan seperti itu. Seharusnya, kalaupun di rumah juga harus punya kegiatan, jadi pikiran berjalan dan hidup,” katanya.

Lasiman juga mengingatkan, dalam kondisi seperti ini kita harus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, jangan malah emosional.

“Jiwo lan rogo ki kudu nyatu, supaya sehat semua. Jadi, yang dirawat tidak hanya raga saja, tapi jiwanya juga. ” pesannya.

Ubah Kebiasaan Berjudi, Jadi Religius

Lasiman juga berupaya berupaya mengubah kebiasaan berjudi para pedagang bakso menjadi lebih religius. Berangkat dari keprihatinannya melihat teman-temannya banyak menghabiskan hasil dari berjualan hanya untuk bermain judi. Maka, APMISO pada jaman itu untuk pertama kalinya mengadakan halal bi halal.

Di sana, ia mengundang ustadz, lalu berpesan kepadanya untuk bagaimana menyadarkan pada pedagang itu agar lebih dekat dengan Tuhan dan meninggalkan perilaku tercela.

“Saya kan tidak berani menasihati. Maka dari itu, saya berinisiatif untuk mengadakan halal bi halal. Beruntunglah mereka yang saat itu langsung sadar dan menunaikan ibadah haji,” tuturnya. Tradisi halalbihalal itu masih berlangsung hingga sekarang. (cr9/zal)

 

 

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya