alexametrics

Perang Batin Memutus Vonis Mati

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hakim merupakan salah satu profesi yang harus mengedepankan keadilan. Kewenangannya menjadi penentu nasib sejumlah orang. Godaan sering hadir untuk mengubah pendirian. Suap misalnya.

Muhammad Ikhsan Fathoni merupakan salah satu orang yang sering mendapat predikat sebagai “wakil Tuhan”. Predikat yang disematkan pada hakim pemutus perkara di pengadilan.

Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1B Ungaran ini mengaku pernah digoda suap. Tentu tujuannya untuk mempengaruhi putusan berdasarkan keinginan pemberi suap. Nilainya pun fantastis. “Tiap hari ada saja yang kirim bingkisan ke rumah. Tapi orang rumah sudah saya pesan jangan diterima. Tunggu biar saya yang nemuin,” katanya.

Ikhsan memilih jalur bersih. Dengan tegas ia pun menolak. Sebab jika ia menerima, maka hakim dinilai rendah. Baginya profesi hakim tidak boleh dijualbelikan.

Baca juga:  Bangkit dari Bully, Sukses Berbisnis Bakery

Ia beranggapan jika banyak hakim yang mudah disuap, untuk apa negara mengembar-gemborkan keadilan. Tentu ini menjadi perusak hukum di Indonesia.

Apalagi untuk menyandang jabatan sebagai hakim, Ikhsan membutuhkan waktu yang lama dan perjuangan yang berat. “Sekolahnya saja tidak mudah. Kalau semua hakim dibeli terutama dengan orang yang bersalah, bagaimana dengan hukum negara? Bukannya naif atau munafik. Butuh uang, pasti, tapi jangan pakai jalan tikus,” lanjutnya sambil tertawa.

Pria 52 tahun ini mengatakan, hakim lebih tepatnya disebut sebagai wakil Tuhan. Sehingga ketika dirinya harus memutus perkara, penyelidikan dan bukti jadi pertimbangan utama.

Ikhsan teringat pada saat bertugas di PN Sukoharjo. Ia menangani kasus pembunuhan berantai. Korbannya enam orang. Salah satunya anggota TNI dari Kopassus. Pelakunya mengaku berprofesi sebagai dukun.

Baca juga:  Bangun Karir di BPS, Kini Pimpin BKKBN Jateng

Ketika itu, cerita Ikhsan, majelis hakim bermusyawarah. Dengan mempertimbangan berbagai barang bukti dan keterangan saksi maupun pelaku, hakim menjatuhkan vonis hukuman mati.

Batin Ikhsan yang juga asli Sukoharjo, tidak dengan mudah menerima putusan ini. Sebab ketukan palu hakim ketua akan menentukan hidup dan mati seseorang. Putusan yang merupakan wewenang Tuhan tapi ia juga ikut berperan. Semacam ada perang batin. “Hakim itu menurut saya seperti wakil Tuhan. Makanya harus bersih dan jujur. Saat kejadian kasus itu tiap malam saya salat. Itu sama dengan mencabut nyawa orang. Berat. Ya tidak mudah. Tapi memang harus begitu,” katanya.

Kasus tersebut dijadikannya pembelajaran. Menyelesaikan kasus tidak hanya menentukan bersalah atau tidak. Memahami dan mengenal kasus dari awal, menurutnya, lebih penting. Dari situ hakim akan mempelajari. Bahkan Ikhsan mengatakan, jiwa mendengarkan harus muncul. Bersabar pun juga ikut diperlukan. (ria/ton)

Baca juga:  Berani dan Jujur untuk Olahraga

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya