alexametrics

Terapkan Ilmu Pendidikan Militer dari Kanada

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Letkol Arh Yan Eka Putra menjabat Dandim (Komandan Kodim) 0736 Batang pada akhir 2020 lalu. Dia menggantikan Letkol Inf Dwison Evianto. Pria keturunan Padang, Sumatra Barat itu, lulus Akademi Militer tahun 2002. Menyandang pangkat Letnan Dua, ia langsung ditugaskan sebagai Komandan Rayon Militer (Danramil) di Kodim Aceh Barat pada 2003.

Menjadi Danramil di usianya yang cukup muda, 22 tahun dan masih bujang, merupakan tantangan tersendiri. Apalagi, saat itu Aceh berstatus darurat militer. Mulai dari darurat militer satu, dua, dan darurat sipil saat Pemilu pertama 2004.”Koramil seperti pos satgas, benar-benar perang karena sedang darurat militer,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Semarang.

Tantangan berat itu berhasil dihadapinya. Hingga akhirnya Letkol Arh Yan mendapat tugas baru di Batalyon Arhanud 15 DBY Kodam IV Diponegoro, Kota Semarang. Ia merasa beruntung. Sebab, belum lama keluar dari Aceh, bencana tsunami melanda. Tepatnya 16 hari sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi. Ia keluar dari Aceh tanggal 10 Desember 2004. Markas Koramil-nya diterjang tsunami. Namun tidak ada korban dari anggota TNI. Korban muncul dari anggota keluarga yang berada di kampung halaman. “Pas kejadian tsunami saya sedang ambil cuti di Palembang, sebelum berangkat ke Semarang,” ucapnya.

Baca juga:  Bangkit dari Bully, Sukses Berbisnis Bakery

Usai menjalani tugas di Semarang, tahun 2011, ia pindah tugas ke Jakarta hingga 2016. Selama menitih karir, Letkol Arh Yan banyak pengalaman berharga didapat. Utamanya saat menjalani Junior Command and Staff Course, sekolah mayor gabungan selama tiga setengah bulan di Kanada. Kegiatan tersebut diikuti 24 negara. Ia lolos seleksi, dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia. Pesertanya ada 26 orang. Banyak ilmu yang didapatkan. “Saya di sana banyak mendapatkan pendidikan militer staf dan taktik,” ujarnya.

Pola pembelajaran di Kanada dianggap berbeda jauh dengan Indonesia. Kalau di Indonesia pelajar disibukkan mengejar, di sana pendidikan tidak menggunakan rangking. Tapi berjuang dengan diri sendiri. Ada standar yang harus dicapai.

“Misal, di sana itu ada mid standard (MS), di bawahnya dua standar lagi dan itu tidak lulus. Di atasnya MS ada IMS, superior, dan outstanding. Itu yang dikejar,” ujar suami dari Ratih Angga Apriani itu.

Selama menjalani pendidikan militer, Letkol Arh Yan pun berusaha semaksimal mungkin. Ada gengsi antar negara. Ia pun berhasil meraih predikat superior pertama kali di kelompoknya. Ada tujuh orang dalam satu kelompok tersebut.

Baca juga:  Tidak Tenang Sebelum Cek Lapangan

Selain rangking, ia bercerita bahwa dunia pendidikan di Indonesia juga masih disibukkan dengan plagiarisme. Sementara di Kanada kebalikannya. Plagiarisme tidak ada artinya lagi. Pelajar berjuang dengan dirinya sendiri untuk menggapai standar kompetensi. Sekolah pun sudah menyediakan laptop khusus. CD room dan lubang USB tidak bisa dicolok perangkat apa pun.

Kondisi demikian berbanding lurus dengan kondusivitas negara. Di Provinsi Nova Scotia tempatnya belajar, dalam satu tahun hanya ada satu tindak kejahatan. Sekolah dan kesehatan sudah gratis. Warga negara jika ingin menempuh pendidikan setinggi apa pun digratiskan. “Kita bertanya-tanya, kok bisa ya seperti itu. Ternyata semua punya pekerjaan dan penghidupan yang layak. Tidak memikirkan lagi yang lain-lain,” ujarnya.

Dunia pendidikan di sana menerapkan kelas kecil. Pesertanya hanya enam sampai tujuh orang, dengan dua pembimbing. Pelajaran pun lebih banyak dilakukan dengan diskusi. Dunia pendidikan dan lingkungan di sana menggunakan dua bahasa, Inggris dan Perancis. Semua buku, soal ujian, papan petunjuk, keterangan produk, dan lain sebagainya menggunakan dua bahasa.

Baca juga:  Emosi Sumber Inspirasi Puisi di WA Story

Menurutnya, melalui bahasa itu ilmu bisa banyak digali dari manapun.”Pesan buat adik-adik kita, bahasa bukan menjadi suatu yang wah lagi sekarang, memang menjadi kewajiban untuk bisa bahasa Inggris,” ujarnya.

Berbagai pengalaman dan keilmuan sangat berarti bagi hidupnya. Setelah bertugas di Jakarta, Yan Eka kembali berpindah tugas. Pada 2016, ia menjabat Kasi Intel Korem di Ambon, sebelum bertugas ke Jakarta.

Di Jakarta ia mendapatkan tugas khusus di Papua. Baru dua pekan menjalani tugas, akhir tahun 2020 ia mendapat kepercayaan untuk menjadi Dandim Batang.

Yan Eka mengaku terkesan dengan Kabupaten Batang sejak mulai bertugas. Menurutnya, kondisi geografis Batang lengkap dan unik. Hanya dalam waktu satu jam, bisa bertemu dengan dua suasana yang berbeda. Pegunungan dan pantai. “Batang ini punya banyak potensi,” kata ayah dari Muhammad Afarizi Raya Putra itu.

Dia berharap potensi tersebut bisa dikembangkan untuk menjadikan Batang lebih maju.  Tidak sekadar berkembang. Bisa terdepan di Jateng. Bersaing dengan kabupaten lain, tidak hanya sekadar menjadi pelengkap. “Apalagi dengan adanya Proyek KIT Batang,” tandasnya. (yan/zal)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya