alexametrics

Tidak Menggurui tapi Belajar, Belajar dan Belajar!

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Lahir dari desa dan hidup hanya sebagai anak petani, tak membuat Prof. Dr. Drs. H. Suparno, MSi. patah semangat untuk bergantung pada nasib. Berkat didikan kedua orangtua dan paman, ia mampu meraih kesuksesan hingga menduduki jabatan tertinggi sebagai Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang.

Pria kelahiran Boyolali, 3 Juli 1955, ini pernah merasakan pahitnya kehidupan. Bahkan kuliahnya diselesaikan sembari kerja.

Diceritakannya, Suparno adalah anak dari seorang petani dan ibu rumah tangga. Sedangkan ia ada enam bersaudara. Namun atas keuletan didikan orangtuanya, semua saudaranya juga sukses. Terbukti empat saudara perempuannya menjadi guru Sekolah Dasar, satu orang menjadi wirausaha, sedangkan ia menjadi dosen.

“Saya lahir daerah pengunungan di daerah Simo, Boyolali, daerahnya tandus dan kering, tapi orang tua punya komitmen agar anak-anaknya bisa sekolah tinggi. Makanya sekalipun petani anaknya minta sekolah dimanapun akan dituruti kalau untuk pendidikan,” kenang Suparno.

Namun demikian, begitu memasuki pendidikan perguruan tinggi, semua saudara-saudaranya mandiri, sekalipun ada bantuan dari orangtuanya. Seperti dirinya, ketika kuliah di FISIP Untag Semarang pada 1975, sembari kerja sebagai staf administrasi pada seorang kontraktor di Semarang. Kebetulan kontraktor itu pamannya sendiri yang juga berasal dari desanya.

Baca juga:  Klien Adalah Sahabat, Transparansi Jadi Pondasi

Selama bekerja itulah, ia mendapat didikan dan prinsip kuat yang dipegang teguh hingga sekarang. Prinsip yang ditekankan pamannya agar jangan pernah berbohong sehingga kalau membutuhkan sesuatu lebih baik bicara. Selain itu menjadi orang harus mempertahankan disiplin. “Bahkan kalau belum punya SIM ndak boleh nyetir sendiri dan prinsip itu saya tanamkan ke anak-anak saya,” jelasnya.

Bahkan pada 1981, ia yang belum lulus kuliah memberanikan diri untuk mempersunting pujaan hatinya, Sri Rejeki. Dari situ ia semakin giat bekerja. Karena kuliahnya belum selesai, ditambah menghidupi keluarga barunya. “Dapat uang saku Rp 100 ribu sebulan, tapi dulu uang kuliah saya sebulan sekitar R: 27ribu. Jadi Alhamdulilah uang sakunya bisa buat jajan, berjalannya waktu gajinya juga naik dan semua saya lakukan dengan senang,” kenangnya.

Bukan hanya itu saja, sekalipun tergolong keluarga baru, ia sudah dipercaya menjadi Ketua RT di Kelurahan Sampangan, sekarang sudah pindah Kelurahan Bendan Ngisor. Begitu lulus kuliah sekitar 1986, ia langsung melamar pegawai di Untag dan diterima sebagai dosen setahun kemudian. Profesi sebagai pendidik dilakoninya hingga saat ini ketika dipercaya menjadi rektor.

Suparno juga mendapat kehormatan di masyarakat karena dipercaya sebagai Ketua RW 4 Kelurahan Bendan Ngisor dari 2000 hingga sekarang. Baginya hidup di masyarakat harus saling hormat menghormati, saling menyayangi, menghargai dan jangan pernah membedakan umat tuhan antara satu dan lainnya. Termasuk jangan jaim atau jaga jarak.

Baca juga:  Kamus Hidupnya, Kesungguhan dan Pengabdian Bersahaja

“Rumusnya, ono rembuk yo di rembuk, ono pangan yo dipangan bareng. Termasuk sejak saya jadi dosen juga setiap hari baca berita di media, bahan buku pintar saya juga ada hasil dari baca media, dimana saya akhirnya menemukan 6 nilai moral,” jelasnya.

Karena menurutnya, untuk sukses juga tidak lepas dari menanamkan nilai-nilai moral. Di antaranya nilai kebenaran harus menjadi kebiasaan, jangan kebiasaan menjadi kebiasaan. Kemudian nilai kebaikan, karena tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.

Ada juga nilai keindahan atau bagus, selanjutnya nilai kebebasan, di mana setiap manusia punya hak kebebasan, namun tetap ada batasnya. Juga nilai kesamaan karena antara kita semua sebagai manusia ada istilah “tinitah podo jinatah bedo”. Terakhir baru mencari keadilan.“Jadi setiap manusia punya moral, ukurannya yang saya sebut itu,” ujarnya.

Baginya kalau ingin berkembang untuk menggapai sukses maka jangan menggurui orang lain, melainkan belajar, belajar dan belajar. Serta memperbanyak teman, termasuk jangan pernah berbohong pada orang lain, karena apapun ucapan perilaku tindakan muaranya adalah kepercayaan.

Baca juga:  Anak Petani Jadi Pemimpin Politisi

Tugas dan Hobi Jalan Beriringan

Olahraga bola voli merupakan hobi Prof Suparno. Bahkan dari SMP-SMA, ia dan timnya kerap diminta mewakili desa untuk bertanding di Kecamatan Simo, Boyolali. Gelar juara sering disabet. “Saya maniak main voli sejak SMP sampai SMA. Dulu saya sering juara antarsekolah, antarkecamatan,” kenangnya.

Ia juga memiliki kesibukan sebagai Ketua Takmir Masjid Baitul Ilmi 17 Untag, Semarang dan Ketua RW 4 Kelurahan Bendan Duwur. Baginya semua kesibukan dan hobi itu semua bisa dijalankan beriringan, sepanjang semua dilakukan dengan senang. Sehingga sebuah amanah yang diberikan harus dibuat senang, jangan terpaksa. Sehingga yang dahulu maka didahulukan.

Semua kesibukan itu, menurutnya, paling utama adalah melakukan komunikasi. Seperti saat bersama keluarga, ia selalu duduk bersama. Saat makan, anaknya ketika masih kecil selalu diingatkan, jangan pernah kehilangan harapan, kejujuran. Untuk itulah, cita-cita anak harus selalu didukung, jangan dipaksa. Termasuk anak jangan sampai menyakiti orangtua dan orangtua juga jangan menyakiti anak.

“Saya senang anak saya setiap waktu bisa ada untuk orang tua. Termasuk cucu bagi saya juga generasi penerus, makanya selalu selalu bersyukur dengan adanya anak,” ungkapnya. (jks/ton)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya