alexametrics

Lebih Dekat dengan Masyarakat karena Pandemi

Kepala Puskesmas Manyaran Fina Lutfiya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hampir 12 tahun Fina Lutfiya bekerja sebagai tenaga kesehatan (nakes). Namun baru kali ini merasa sangat dekat dan lebih kenal dengan masyarakat.

Saat pandemi Covid-19 melanda, ia intens terjun ke lapangan. Melakukan penelusuran (tracing) kontak pasien Covid-19. Hal itu justru membuatnya memahami beragam karakter masyarakat.

Dua tahun Fina mengemban jabatan Kepala Puskesmas Manyaran. Membawahi 29 nakes dan 10 pegawai non-nakes. Akhir tahun lalu, dia merasa kekompakan timnya diuji. Tugasnya tentu saja bertambah. Kunjungan untuk tracing lebih intens.

Ada tiga kelurahan yang menjadi wilayah tanggung jawab puskesmasnya. Kelurahan Manyaran, Kembangarum, dan Krapyak. Interaksi yang kerap dilakukan saat kunjungan membuat timnya lebih dekat dengan masyarakat.

“Selain mengenali mereka secara dekat, kadang juga jadi tahu kisah atau masalah keluarganya saat tracing,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak sedikit fenomena di lapangan yang membuat hatinya tersentuh. Fina mengaku tak tega bila menemukan lansia yang kurang mendapat perhatian keluarganya dan harus bekerja keras menghidupi diri sendiri. Apalagi lansia yang hidup sebatang kara. Hal-hal seperti itu membuatnya memperlakukan pasien seperti keluarga.

Baca juga:  Terapkan Ilmu Pendidikan Militer dari Kanada

Alumnus Fakultas Kedokteran UMY ini, memang memiliki ketertarikan lebih pada kesehatan masyarakat. Dengan bekerja di puskesmas, ia tak hanya mengobati pasien tapi juga memahami masalah kesehatan yang dialami masyarakat setempat.

Sebabai kepala puskesmas, Fina tetap bertugas sebagai dokter umum. Tiap pagi ikut memeriksa pasien. Selama vaksinasi pun ia juga bertugas menyuntik vaksin. Fina tak keberatan dengan waktu yang dicurahkan.

“Prinsip saya, selama kita mencintai apa yang kita kerjakan dan memberikan yang terbaik, maka kita merasa nyaman dan tidak terbebani oleh pekerjaan itu,” tegasnya.

Sejak 2009 ia bekerja sebagai dokter umum. Sudah beberapa kali ia berpindah tugas. Mulai dari Puskesmas Gunung Pati, Lebdosari, Poncol, Pudak Payung hingga saat ini di Manyaran. Ia sempat bertugas di Dinas Kesehatan sebagai Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Tradisional (PKPT) sebelum menjadi kepala puskesmas.

Baca juga:  Mengabdi dengan Lego Lilo

Fina merasakan perubahan yang signifikan selama ia bekerja di puskesmas. Sekitar 10 tahun lalu menurutnya puskesmas di Semarang tak semaju sekarang. Pelayanan pun jauh berbeda. Dulu antrean hingga rekam medis harus dicatat secara manual. Saat ini semua tercatat rapi secara digital. Waktu pelayanan pun cenderung lebih cepat dan efisien.

“Sekarang Semarang punya ambulan hebat dari inisiatif Pak Hendi. Ini juga membantu kerja kami. Aksesnya mudah dan cepat saat diperlukan,” ucapnya.

Semua nakes tentu saja bekerja lebih keras selama pandemi covid-19. Namun Fina juga melihat hal baik dari wabah tersebut. Sebagai nakes, pihaknya dapat lebih mengenal masyarakat secara personal. Tak kalah penting, kesadaran masyarakat akan kesehatan sangat meningkat.

Baca juga:  Anak Petani Jadi Pemimpin Politisi

“Mereka jadi lebih hati-hati mengonsumsi makanan, pola hidup juga lebih diperhatikan. Seperti olahraga untuk menjaga imun dan pastinya soal kebersihan,” jelasnya.

Fina mengaku tugasnya di puskesmas yang cukup padat selama pandemi membuatnya tak dapat mendampingi kedua anaknya sekolah daring. Suaminya pun sama bekerja di Dinas Kesehatan di bagian sumber daya kesehatan. Sekolah memaklumi kondisinya dan bersedia memantau kedua anaknya secara personal selama pembelajaran daring.

Meski begitu, ia tetap meluangkan waktu bersama keluarga. Wisata alam sudah menjadi hobinya. Saat liburan, ia memilih pergi ke puncak, pantai, snorkling atau ke menikmati alam terbuka. Paling jauh ia dan keluarga berlibur ke Lombok.”Harapannya semua normal, nanti suatu saat bisa ke Raja Ampat bersama keluarga,” harapnya. (cr1/zal)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya