alexametrics

Berpindah-Pindah Tugas, Kenyang Pengalaman

Kepala Kejaksaan Negeri Kendal Ronaldwin

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Jaksa adalah segalanya.Tumpahan suka dan duka. Tempat untuk mengabdi kepada negara dengan ketulusan hati demi menegakkan hukum. Itulah arti jaksa bagi Ronaldwin, kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendal.

Ronaldwin telah 27 tahun lebih mengabdikan diri sebagai jaksa. Tepatnya sejak diangkat sebagai jaksa 1 Oktober 1993 silam. Tidak mudah ternyata, sebab harus hidup berjauhan dengan keluarga dan berpindah-pindah sesuai penempatan kerja.

Semasa muda, Ronald mengaku tidak bercita-cita menjadi seorang jaksa. Ia lebih ingin menjadi sosiolog. Kemudian masuk di Jurusan Sosiologi di Universitas Andalas (Unand). Tapi di tengah perjalanan semasa kuliah itu, orang tuanya mendorong masuk ke Fakultas Hukum.

“Karena saya ini ingin membahagiakan orang tua, ya saya ikuti saja. Akhirnya saya masuk Fakultas Hukum,” kata alumni S1 Hukum Universitas Andalas (Unand) Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) itu.

Selesai menempuh pendidikan sarjana hukum, Ronald bekerja sebagai karyawan perusahaan pelayaran kapal barang di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Tidak lama, karena ia merasa kurang cocok dengan kemampuan dan bidangnya.

“Kebetulan saat di Jakarta itu ada pengumuman tes jaksa. Lalu coba-coba untuk ikut. Malah langsung keterima. Jadi tidak sengaja, sebab saya sejak kecil tidak pernah kepikiran untuk menjadi seorang jaksa,” katanya.

Semenjak bertugas menjadi jaksa itulah, Ronald menjalani hidup dari satu kota ke kota lainnya. Hampir seluruh kota di Pulau Sumatera pernah ia singgahi. Penempatan pertama, Ronald ditugaskan di Kejari Bukittinggi, Sumbar. Kemudian di Kejari Meulaboh, Aceh Barat selama lebih kurang dua tahun.

Baca juga:  Kerja Ikhlas, Penghargaan sebagai Bonus

Lebih kurang dua tahun juga, ia menjalani tugasnya sebagai Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Sabang. Yakni di Pulau Weh pulau paling ujung barat Indonesia di Provinsi Aceh.  Lalu berlanjut sebagai Kepala Cabang Kejari Sijunjung, di Sungai Dareh, Sumbar selama tiga tahun.

Masih pindah lagi di Kota Pariaman, Sumbar sebagai Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) selama empat tahun. Lalu ia dipindahkan lagi di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumbar sebagai Kasi Tata Usaha Negara (TUN) di Asisten Datun. “Setelah itu, saya sudah mengajukan diri sebagai jaksa fungsional saja,” akunya.

Tapi takdir berkata lain, Ronald justru didorong oleh pimpinan untuk mengikuti tes asesment. Ia kembali harus menjalani tugas di Kejati Kalimantan Selatan (Kalsel) sebagai koordinator Asisten Pidum.

Tempat itu tentu lebih jauh dari kota kelahiran dan keluarganya. Ia menjalaninya selama empat tahun. Setelah itu, ia ditempatkan sebagai Kajari di Kejari Empat Lawang, Sumsel selama tiga tahun. “Baru dari Sumsel saya bertugas pertama kali di Jawa ini sebagai Kajari di Kejari Kendal di 11 Agustus lalu,” tambahnya.

Selama bertugas dan berpindah-pindah, itu Ronald mengaku memiliki cukup banyak pengalaman menarik. Bahkan ia pernah mengalami masa-masa sulit saat bertugas di Aceh (1997-2001). Saat itu banyak terjadi keributan pada masa reformasi. Banyak gerakan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Diakuinya, keributan itu juga berpengaruh pada penanganan perkara yang ia lakoni. Banyak tekanan dari berbagai pihak. “Tapi bagaimanapun saya harus profesional dan alhamdulillah bisa terselesaikan,” akunya.

Baca juga:  Kejati Jateng Awasi Proyek Rp 1,8 T

Kesulitan lainnya adalah karena berpindah-pindah tugas, membuatnya harus jauh dari keluarga. Terlebih saat anaknya sudah mulai besar sehingga tidak mungkin untuk selalu berpindah-pindah sekolah.

Tapi hal itu tidak menjadi masalah. Toh keluarga sudah bisa memahami kerjanya sebagai abdi negara. “Pindah-pindah tugas itu dialami oleh semua jaksa. Anak dan istri sudah memahaminya sehingga tidak menjadi masalah dalam keluarga,” tuturnya.

Untuk tetap menjalin kebersamaan, biasanya ia pulang sebulan sekali atau sebaliknya, anak dan istri yang mengunjunginya. “Kalau komunikasi sekarang lebih mudah, via telepon atau panggilan video,” imbuhnya.

Inovasi Kirim BB dari Kantor Pos

Meski masih baru menjabat Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendal, Ronaldwin mulai memunculkan inovasi-inovasi baru. Salah satunya melakukan reformasi zona integritas dalam konteks pelayanan di Kejari Kendal.
Pertama dalam layanan bukti pelanggaran (tilang) lalu lintas. Yakni pembayaran denda tilang melalui BRI. Masyarakat yang kena tilang tidak lagi membayar denda di Kejari Kendal. Melainkan bisa membayarnya di bank. “Jadi kami tidak lagi menerima uang. Pembayaran langsung ke bank,”  kata Ronald.

Kedua masih dalam hal tilang, Kejari Kendal menggelar kesepakatan bersama (MoU) dengan PT Pos Indonesia. Yakni untuk pembayaran serta pengiriman barang tilang. Terutama untuk SIM dan STNK. Pelanggar lalu lintas yang dari luar kota tidak perlu lagi datang ke Kendal untuk membayar denda dan mengambil barang tilangnya.

Namun bisa melalui datang ke Kantor Pos terdekat di wilayahnya untuk melakukan pembayaran. Setelah dibayar, Pos akan mengirimkan  bukti pembayarannya kepada Kantor Pos Kendal. Kemudian akan diteruskan ke Kejari Kendal melalui sistem online. Kemudian kami akan mengirimkan melalui Kantor Pos Kendal barang tilang ke alamat penerima.

Baca juga:  Dunia Politik sebagai Panggilan Jiwa

Inovasi ini diambil, melihat tingginya angka pelanggaran lalu lintas di Kendal. Terlebih mereka yang terjaring operasi lalu lintas tidak hanya berasal dari Kendal. Tapi dari berbagai luar daerah Kendal.

“Mereka yang dari luar Kendal bisa membayar di Kantor Pos di daerahnya. Setelah dibayar, kami akan mengirim barang tilang sesuai alamat penerima. Jadi lebih mudah, tidak harus datang ke Kantor Kejari Kendal lagi,” tandasnya.
Ketiga, inovasi Kejari adalah merawat barang bukti (BB) dengan baik. Hal itu tampak pada BB sepeda motor. Terbungkus rapi dengan plastik dalam kondisi bersih.

Perlakuan istimewa BB ini Ronald karena barang-barang tersebut mempunyai nilai berharga bagi pemiliknya. “Cara mendapatkan atau membeli kendaraan kami yakin tidaklah mudah. Makanya, kami merasa memiliki kewajiban untuk merawatnya,” ujarnya.

BB kendaraan sepeda motor ditata rapi dalam kondisi bersih seperti di show room. Sepeda motor terbungkus plastik begitu juga mobil ditutup bersih. “Dengan melakukan perawatan terhadap barang bukti, maka pemilik merasa aman dan nyaman karena barang mereka kami rawat dengan baik,” jelasnya.

Para pemilik ini menaruh apresiasi yang bagus, sebab mereka bisa melihat barang mereka yang dijadikan BB sewaktu-waktu. Selain itu, jika BB sudah selesai penanganan perkaranya, langsung dikembalikan ke pemilik. “Jika dekat kami antar ke rumah, jika jauh pemilik kami panggil untuk mengambil barangnya,” tandasnya. (bud/lis/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya