alexametrics

Loyalitas Tanpa Batas untuk Jawa Tengah

Krisna Wahyu Permana, S.Pd Atlet dan Pelatih PASI Jawa Tengah Bidang Lempar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hidup itu misteri. Tiap orang memiliki garis hidup tersendiri. Begitu pula yang dialami Krisna Wahyu Permana. Jalan unik mengantarkan dia menjadi atlet berprestasi dan disegani.

Krisna lahir di Blora, 1 Juni 1987. Sejak kecil ia memiliki fisik yang menonjol. Tinggi besar melebihi anak seumurannya. Hal inilah yang membuatnya menekuni olahraga basket ketika SMP. Seperti yang diketahui, pemain basket identik dengan tinggi badan yang menjulang. Dan badan tegak.

Hingga suatu hari garis nasib mulai memainkan peran. Berawal dari ketidaksengajaan, Krisna yang awalnya atlet basket justru beralih haluan. Menjadi atlet atletik lempar. Dia mengaku saat kelas dua SMP bersama temannya tengah istirahat dan melewati sekumpulan anak tengah praktik bermain tolak peluru pada jam pelajaran olahraga. Dan ia reflek menyeletuk “olahraga telek, ge opo ngono“. Mendengar hal tersebut, guru olahraga yang mendengar pun memanggilnya. Dan menyuruhnya untuk mencoba, bisa atau tidak dia memainkan olahraga yang dia hina.

“Saya disuruh lempar peluru, ternyata lemparan saya jauh. Guru tersebut kaget. Dari situ beliau melihat saya punya bakat di olahraga lempar,” ujar pelatih Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Jawa Tengah Bidang Lempar ini.

Berkat kejadian tersebut, keesokan harinya ia diminta mengikuti lomba tolak peluru tingkat daerah mewakili sekolahnya. Siapa sangka dari ketidaksengajaan ia berhasil menjadi juara. Dua minggu kemudian, ia diminta ikut lomba lagi. Namun kali ini ada peristiwa unik terjadi. Ia yang pulang hendak membawa kabar akan mengikuti lomba pada ayahnya, justru menemukan peluru besar di belakang pintu rumah. Ketika ditanya apa ada yang punya, semua orang bilang tidak ada. Akhirnya ia membersihkan peluru tersebut untuk berlatih. Kembali ia meraih juara  satu.

Alhamdulillah saya juara lagi. Mungkin mustikanya dari peluru itu ya. Tapi saya pikir-pikir sampai sekarang memang tidak menemukan jawaban siapa yang punya,” lanjutnya.

Berkat bimbingan sang ayah dan gurunya, serta berbagai pengalaman mengikuti  lomba, bakat Krisna remaja mulai terasah. Ia pun berhasil mencatat prestasi di sejumlah kejuaraan. Tidak hanya dalam lingkup Jateng. Namun juga ajang nasional seperti Kejurnas, dan PON. Serta ajang internasional seperti Sea Games. Ia pun mulai disegani oleh lawannya. Apalagi ia terkenal sebagai pemegang tradisi emas PON tolak peluru untuk Jateng. Seperti pada PON Pekanbaru 2012 dan PON Jawa Barat 2016. Belum lagi segudang medali hasil dari Kejurnas dan Sea Games.

Baca juga:  Dyah Ratna Harimurti, Fokus Lindungi Hak Perempuan, Anak dan Disabilitas

“Saya jadi atlet pelatnas hampir  tujuh tahun. Dari 2009 hingga 2015. Kalau untuk karir memasuki tahun ini ya sudah 20 tahunan. Soalnya saya mulai dari tahun 2000,” lanjutnya.

Meskipun sudah tergolong senior, ia mengaku saat ini masih terus mempersiapkan diri mengikuti PON Papua 2020. Hanya saja yang berbeda dia tidak hanya menjadi atlet. Namun juga merangkap menjadi pelatih. Ya, dengan prestasi segudang, PASI Jateng mempercayakan kepadanya untuk melatih para atlet junior. Agar dapat mengikuti jejaknya. Alhasil ia tidak lagi hanya mengincar emas untuk dirinya namun juga untuk anak asuhnya. Baginya emas adalah penting. Mengingat Jateng dari dulu terkenal dengan atlet lemparnya. Selalu langganan juara. Dan berhasil meraih emas di semua kompetisi nasional.

“Senior kita dari dulu sudah ditanamkan olahraga lempar, Jateng harus emas. Walaupun satu saja. Maka, untuk PON Papua nanti saya target anak-anak bisa meraih empat emas,” katanya.

Selama menjadi atlet dan pelatih, Krisna tidak memungkiri banyak godaan yang menghampiri. Terutama dari daerah lain yang menginginkan dirinya berpindah hati dari Jawa Tengah. Namun hingga saat ini, ia tidak pernah terpikir pun untuk meninggalkan Jateng.

“Saya yang membesarkan Jateng, tapi pas Jateng susah malah saya tinggal. Takut kualat,”lanjutnya.

Padahal ia mengaku daerah seperti DKI Jakarta dan Papua sanggup menawarkan gaji dan tunjangan jauh lebih dari Jateng. Namun ia tetap menolak. Baginya loyalitas dan dedikasi adalah harga mati. Jateng bagai rumah baginya. Ia memulai, berkembang, mencapai puncak hingga pensiun dalam karirnya, semua untuk Jawa Tengah. Dan hal inilah yang ingin ia ajarkan pada anak asuhnya. Jangan pernah tergoda materi untuk sebuah prestasi. Karena ia telah membuktikan meskipun Jateng memiliki keterbatasan, namun dari sana ia bisa berkembang. Dan terus maju hingga mencapai fase yang cemerlang.

Baca juga:  Disiplin Prokes di Relokasi Pasar Johar Perlu Ditingkatkan

“Intinya satu yang selalu saya ajarkan ke anak-anak. Jangan pernah tanyakan apa yang Jateng  berikan untuk kita. Tapi tanyakan apa yang sudah kita berikan untuk Jateng. Saya membuktikan meskipun membela Jateng di tengah keterbatasan saya masih bisa meraih emas. Sedangkan teman-teman saya yang pindah daerah justru tidak mendapatkan prestasi yang mereka harapkan,” pungkasnya.

Krisna Wahyu mulai meniti karis sebagai pelatih di PPLOP Jateng. (Istimewa)

Target Tutup Karir dengan Medali dan Rekor Baru

Meskipun sudah menjalani 20 tahun karir profesional, Krisna ternyata masih memiliki ambisi. Yakni mengalahkan rekor lemparan nasional yang hingga saat ini masih dipegang atlet Sumatra Utara keturunan India, Sukraj Singh. Dengan rekor lemparan sejauh 16,87 meter pada tahun 1999.

Sebenarnya Krisna sempat hampir menyamai rekor pada pelaksanaan Singapura Open. Namun masih gagal karena hanya mencapai jarak lemparan sejauh 16,65 meter saja.

“Kurang 0,22 meter saja. Sedikit lagi. Pertandingan di Singapura Open paling berkesan karena saya hampir bisa pecah rekor,” ujarnya.

Dia mengaku masih merasa penasaran. Dan ingin terus mencoba mengalahkan rekor tersebut. Maka, di PON Papua mendatang, ia tidak hanya pasang target emas saja. Namun juga targer pecah rekor. Jika hal tersebut tercapai, itu akan menjadi hadiah perpisahan yang manis bagi dirinya. Ia rencananya pensiun menjadi atlet setelah penyelenggaraan PON selesai.

“Yang pasti saya pingin emas. Syukur-syukur bisa pecah rekor. Doakan saja semoga saya bisa menjadi orang asli Indonesia pertama yang memegang rekor baru,” lanjutnya.

Setelah pensiun ia mengaku masih akan tetap berada di lapangan. Bukan sebagai atlet. Namun sebagai pelatih. Ia masih ingin bergelut di dunia olahraga. Karena ia mengerti di sana merupakan jiwa dan panggilan hatinya. Sehingga meskipun tidak bisa lagi menyumbang prestasi, ia bisa menciptakan prestasi. Melalui sentuhan tangannya kepada para anak didik.

Baca juga:  Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah, Hadi Santoso: Siap Jadi Genter dan Kongkonan Rakyat

“Sudah jiwa. Sehari tidak ketemu lapangan saja ada yang hampa. Makanya saya ingin terus jadi pelatih saja. Karena saya nyaman di sana” pungkasnya.

Demi Prestasi, LDR dengan Keluarga

Untuk masalah keluarga, Krisna akrab dengan istilah long distance relationship (LDR). Bagaimana tidak, kesibukannya yang tinggi di Semarang terpaksa membuatnya jarang pulang ke Pemalang. Tempat istri dan anaknya berada. Terkadang untuk mengobati rindu ia hanya dapat melakukan panggilan telepon atau video dengan istri dan sang buah hati.

“Saya baru bisa pulang dua minggu sekali. Nanti setelah empat atau lima hari di rumah balik lagi ke Semarang,” ujarnya.

Namun sang istri tidak protes. Sudah memahami risiko tersebut. Karena jauh sebelum menikah ia telah memberi tahu semua konsekuensi yang akan diterima ketika menjadi istri seorang atlet. Nurul Ajitia Hasanudin Putri, sang istri,  justru mantap dan tetap mendukung karirnya. Karena bagaimana pun semua demi kebaikan sang suami. Agar dapat terus mengembangkan karir dan berprestasi di Semarang.

“Ya gimana lagi. Dari awal saya sudah sadar untuk berprestasi tinggi harus ada yang dikorbankan. Dalam hal ini ya dengan berat hati keluarga yang harus berkorban,” lanjutnya.

Sebagai ganti waktu bertemu yang terbatas, pria 33 tahun tersebut selalu memastikan kualitas ketika bersama keluarga. Dirinya tidak ingin anak dan istrinya merasa kurang perhatian dan kasih sayang. Maka dari itu sebisa mungkin ketika pulang, ia akan memprioritaskan waktu seluruhnya kepada mereka. Dengan piknik atau sekadar menghabiskan waktu bersama.

“Karena bagaimanapun keluarga sangat berarti bagi saya. Tempat saya pulang dan melepaskan segala beban ya ada di istri dan anak saya,” imbuhnya.  (akm/lis/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya