alexametrics

Lanjutkan Amanah Leluhur untuk Membantu Orang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain bisa dilakukan siapa saja. Tidak memandang etnis, suku dan keyakinan. Semua manusia di mata Sang Khalik sama derajatnya. Itulah yang diyakini Wong Aman Gautama Wangsa selama ini.

KOH Aman, sapaan akrabnya, diamanati oleh trah leluhurnya untuk melanjutkan misi kemanusiaan. Ditemui di kediamannya di Gang Besen Kawasan Pecinan Semarang, ia hanya memakai kaos sederhana berwarna kuning. Ia mulai menjelaskan awal mula ditunjuk menjadi Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee.

Yayasan Khong Kauw Hwee berdiri pada 1935. Misi awal yayasan untuk memberantas buta huruf. “Bermula di 2009, saya dipercaya untuk meneruskan misi leluhur. Sebelum tahun 1950, belum sempat terpikirkan yayasan ini akan besar seperti sekarang,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (22/2).

Memasuki 1950, Yayasan Khong Kauw Hwee ini mulai dikenal dan berkembang. Yayasan tersebut bahkan dipromosikan dan diberi nama Kuncup Melati pada 1982 oleh Wali Kota Semarang saat itu, Soetrisno Soeharto. “Memang yayasan ini fokus ke pendidikan. Diberi nama Kuncup Melati, karena waktu itu kebanyakan muridnya adalah TK dan SD. Makna kuncup kan berarti masih kecil, belum bisa mekar,”jelasnya.

Baca juga:  Begini Cara Umat Hindu Peringati Yang Mulia Bunda Bumi  

Saat itu, anak-anak di kawasan Gang Lombok masih banyak yang berasal dari keluarga dengan status berada di bawah garis sejahtera. Mereka bias bersekolah gratis di TK dan SD Kuncup Melati yang beralamat di Gang Lombok, No 60. Baginya, tidak mudah untuk melanjutkan misi trah leluhurnya. “Saya prihatin melihat kondisi seperti itu. Ketika saya sudah diberikan kepercayaan, berarti saya mampu. Meskipun itu tidak mudah untuk membujuk orangtua mereka,”imbuhnya.

Merintis yayasan sosial tidak semudah membalikkan telapak tangan. Waktu itu, tidak mudah membujuk orang tua dan meyakinkan mereka agar anaknya bisa bersekolah. Mereka lebih memilih anaknya untuk bekerja mencari nafkah daripada bersekolah.

“Mereka beralasan bahwa lebih baik waktunya dimanfaatkan untuk bekerja dan mencari nafkah. Tidak peduli itu sekolah mau gratis atau tidak, yang penting perut keisi dan mencari nafkah lebih penting, ”kata laki-laki berusia 61 tahun tersebut.

Baca juga:  Hidup Dari Tradisi Ngepon

Namun, ia berkeyakinan bahwa semua yang dilakukan untuk masa depan anak-anak. Membantu anak-anak yang ekonominya kurang mampu. “Bersama dengan beberapa teman yang berprofesi pengusaha, saya memiliki tekad untuk membesarkan yayasan agar semakin dikenal masyarakat,”ungkapnya.

Lambat laun, para orang tua tersebut luluh berkat pendekatan yang ia lakukan. Ia menekankan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi masa depan anak. “Semuanya biaya ditanggung oleh yayasan alias gratis. Dari tingkat TK sampai SMP, alas kaki sampai ujung rambut. Topi, baju, sepatu, alat olahraga, buku, alat tulis, dan tas. Anak hanya butuh bacaan saja,” tuturnya.

Murid-murid di sekolah Kuncup Melati mayoritas warga sekitar Gang Lombok dan Purwodinatan. Dengan total siswa sebanyak 176 di semua tingkat. Setelah cukup besar, donatur pun berdatangan. “Donatur saya berjasa bagi kami. Apapun bentuk bantuannya, kami terima, kadang makanan, kadang uang. Kami senang. Kami berikan untuk semua,” katanya sembari tersenyum.

Baca juga:  Ziarahi Makam Dua Tokoh Pers

Ia sangat bersyukur meskipun harus berkorban lebih banyak. Asalkan warga kurang mampu bisa mengakses pendidikan. Meskipun banyak yang berterima kasih kepadanya, ia tidak ingin jumawa. Koh Aman lebih senang disebut aktivis atau penggiat sosial yang berguna untuk semua orang.

Saat ini, usaha untuk membesarkan yayasan Khong Kauw Hwee pantas diapresiasi. Total ada empat yayasan di bawah naungannya. Yayasan yang diampunya antara lain Tjie Lam Tjay, Kong Tik Soe, Naga Sakti, dan Pancaka. Keempatnya adalah yayasan sosial. (avi/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya