alexametrics

Zaenuri Siroj: Menulis Buku Mengubah Hidup

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Roda kehidupan terus berputar. Tidak selamanya yang di atas selalu di atas dan tidak selamanya yang di bawah selalu di bawah. Guru MAN 1 Semarang Zaenuri Siroj seakan memiliki kehidupan yang berubah 180 derajat. Semua karena buku.

MENGENANG masa kecil, Zaenuri teringat, orang tuanya dulu tidak memiliki tanah untuk ditinggali. Mereka menumpang di tanah orang lain untuk membangun rumah. Rumahnya pun tak sebagus rumah pada umumnya. “Waktu itu bapak saya orang termiskin di desa. Karena tidak punya tanah, harus manggon di tanah orang lain. Istilahnya gubuk reyot karena dari bambu-bambu bolong,” ujarnya mengingat.

Prihatin dengan keadaan keluarganya yang demikian, ia bertekad dan punya semangat tinggi untuk bisa kuliah. Ia berpikir, bagaimana agar bisa mengubah nasib keluarganya. Sebagai anak sulung, Zaenuri harus bekerja keras untuk membiayai sekolahnya sendiri.

Begitu lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI), ia tak langsung meneruskan ke MTs karena minmnya biaya. Ia kemudian memutuskan untuk mondok di Pondok Pesantres Al-Hidayah, Puwodadi selama enam tahun. Ia lalu melanjutkan MTs di usia 18 tahun. Sejak Madrasah Tsanawiyah (MTs), ia sudah terbiasa narik becak di Semarang.

Baca juga:  Tidak Serta Merta Menindak Orang yang Salah

“Saya mbecak di Semarang. Dari pihak sekolah memaklumi karena untuk biaya sekolah. Tapi saya sumbut, meskipun seminggu tidak masuk, saya juara 1 di kelas terus. Saya narik becak sampai saya kuliah, karena semua biaya sendiri. Waktu itu hasilnya Rp 10-15 ribu,” ceritanya.

Meskipun lulus Madrasah Aliyah (MA) di usia yang begitu tua, 24 tahun, namun Zaenuri tak memedulikan hal itu. Ia terus bersikeras untuk bisa kuliah. Ia lantas mendaftar di Univesitas Negeri Semarang (Unnes) dan IAIN Walisongo (sekarang UIN Walisongo). Berkat kecerdasannya, ia diterima di perguruan tinggi tersebut, namun ia lebih memilih kuliah di IAIN Walisongo dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).

“Modal saya nahwu shorof. Di MTs juga ngaji kitab, juga sama mondok selama 12 tahun. Walaupun nggak mampu, namun saya bisa mengatur strategi. Saya memutuskan kuliah di IAIN Walisongo agar saya bisa melanjutkan mbecak,” ujarnya.

Baca juga:  Kerjakan Sesuatu dengan Passion

Hebatnya, ia membawa buku kemana pun ia pergi, termasuk di sela menunggu penumpang. Di bawah sinar lampu, ia sempatkan membaca pelajaran apa saja. Baginya, untuk bisa menjadi orang besar harus memiliki wawasan yang luas, apalagi menjadi guru.

Berkat keberuntungannya, ia menjadi PNS bahkan sebelum lulus kuliah. Dari awal jadi PNS hingga kini, ia bertugas di MAN 1 Semarang. Meski begitu, ia tidak sempat mengikuti wisuda karena tidak ada biaya untuk membayar. “Sebelum lulus alhamdulillah sudah jadi PNS, saya waktu itu ga ikut wisuda karena ga kuat bayar. Yang terpenting saya punya ijazah,” tutur bapak empat anak ini.

Karir sebagai penulis diawali Zaenuri pada 2003. Pada tahun tersebut Zaenuri mulai menjadi penulis buku mata pelajaran yang kemudian mengantarkannya menjadi sukses. Ia mengaku, dulu honor dari tulisannya sangat sedikit. Bahkan untuk membeli motor saja susah. Namun setelah namanya mulai naik, ia di buru banyak penerbit.

Baca juga:  Profesionalitas dan Integritas Kunci Seorang Jaksa

“Kementerian Agama Jateng mau buat pedoman MA se-Jateng. Saya dipanggil untuk menulis buku-buku agama. Waktu itu saya kebagian menulis buku mata pelajaran Alquran Hadis kelas X-XII. Kurikulumnya masih Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Karena belum ada pedoman baru, lalu Kanwil Kemenag Jateng membuat proyek buat buku dan ternyata saya bisa. Karya saya dicetak untuk dibagikan di seluruh MA se-Jawa Tengah,” tuturnya.

Dari sini, tawaran untuk menulis buku pelajaran semakin gencar datangnya. Ia menulis buku mapel MI-MA seperti Aqidah Akhlak, Sejarah Peradaban Islam, Bahasa Arab, Alquran Hadits dan Fiqh. Zaenuri juga menulis buku Ensiklopedia Islam. berisi kata dalam Alquran yang dikelompokkan menjadi Kamus Istilah Agama Islam (KIAI). Kamus tersebut berisikan istilah Islam seperti tarikh, iman, salat, wudlu, dan lain sebagainya. Ia berhasil membuat 10 jilid.

Hasil dari kerja keras berhasil diraih. Bahkan ada buku yang dibeli penerbit seharga Rp 360 juta secara tunai. Kini, sudah lebih dari 63 judul buku ia hasilkan. (ida.fadilah/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya