alexametrics

Bantu Mendesain Fasos dan Tempat Ibadah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bagi Natalia Gouw, menjadi arsitek tak melulu soal materi. Tapi, keahliannya, justru sebagian ia sumbangkan untuk membantu mendesain fasilitas sosial (fasos) dan tempat ibadah-tempat ibadah bagi mereka yang membutuhkan. Radar Semarang berkesempatan berbincang dengan arsitek muda ini di kantornya, di Jalan Letjen S. Parman. Di firmanya, ia menjabat sebagai Direktur Yayasan dan PT. Artchitect.

Awal mula Anda tertarik dunia arsirektur dari siapa?

Sejak SMP, saya sebenarnya belum tahu apa itu profesi arsitek. Nah, suatu hari, saat melihat-lihat pameran perumahan, saya lihat ada banyak miniatur perumahan yang dipajang. Dari situlah, awal mula ketertarikan dan keingintahuan saya pada dunia arsitektur mulai muncul.

Lantas, bagaimana sepak terjang Anda di dunia arsitektur hingga bisa sampai pada titik sekarang ini?

Sejak tahun 2015, saat kuliah di Unika Soegijapranata, saya sudah mulai terjun ke lapangan. Entah dalam project untuk membantu dosen maupun project renovasi rumah sederhana. Nah, dari situ saya memulai berkoneksi. Dipercaya untuk project pembangunan rumah tinggal, kafe, sekolah, perumahan, mix-use building sampai fasilitas peribadatan. Pada saat bersamaan, saya juga aktif mengikuti sayembara. Puji Tuhan, beberapa kali terpilih menjadi pemenang. Antara lain, desain Gedung Medik Sentral RSUP Dr. Kariadi, Gedung Serbaguna Universitas Diponegoro, Gereja Kristen Jayapura, dan Panti Wreda di Kota Semarang.

Baca juga:  Edukasi Berbahasa yang Baik dan Benar Lewat Hal-Hal Kecil

Bagi Anda, memaknai capaian itu semua seperti apa?

Puji Tuhan, firma Artchitect yang saya rintis mulai dikenal. Hingga pada suatu hari, ada pihak dari sebuah fasilitas sosial yang mengontak saya. Mereka bertanya, apakah saya bisa membantu memberi solusi untuk mendesain project mereka yang sedang berjalan, namun terhambat karena belum ada desainnya dan biaya pembangunannya membengkak, karena tidak ada perencanaan sejak awal. Sejak saat itulah, kami dengan senang hati, membantu pihak-pihak yang membutuhkan bantuan arsitek. Berlanjut sampai sekarang.

Mengapa Anda terpanggil untuk membantu mendesain fasilitas sosial dan peribadatan?

Selama kita memiliki kesempatan. Juga kemampuan untuk meringankan beban sesama dan bisa menciptakan sebuah tempat yang lebih baik dengan desain yang sesuai sehingga dapat berfungsi baik dan dicintai penggunanya, maka di situlah sesungguhnya keterampilan kita dapat berguna bagi sesama.

Baca juga:  Pengen Peran Antagonis

Apa suka duka Anda menjadi arsitek?

Lebih banyak sukanya. Karena setiap saat, kita bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Kita juga belajar untuk memahami aktivitas keseharian mereka. Lantas, kita mendesainkan sebuah “ruang” bagi mereka untuk tinggal, bekerja, dan beraktivitas. Nah, jika project itu selesai dan penghuni mulai menempati serta bisa beraktivitas dengan penuh semangat, karena ruang yang kita ciptakan dapat memenuhi keseluruhan aktivitas penghuni dengan baik, maka di situlah kepuasan menjadi seorang arsitek tercapai.

Harapan Anda ke depana bagi perkembangan dunia arsitektur dan Artchitect?

Harapan saya, agar peran dan fungsi seorang arsitek dapat dipahami dan sampai ke seluruh kalangan masyarakat. Karena yang terjadi saat ini, masih terdapat jarak antara masyarakat dan arsitek. Untuk Artchitect sendiri, tentu saya berharap bisa menjadi jembatan penghubung dari kesenjangan yang ada saat ini. Saya berharap, semoga ada rekan arsitek-arsitek lain untuk kita bersama-sama, dengan keterampilan yang bisa kita dilakukan, membantu masyarakat dapat merasakan fungsi arsitek secara luas. Karena dengan desain yang baik dan dapat berfungsi bagi masyarakat luas, maka dari situlah kebiasaan masyarakat dapat terbentuk. Karena erat kaitannya, kebiasaan yang baik dapat tercipta karena adanya desain lingkungan yang baik pula. (*/isk)

Baca juga:  Ketagihan Berolahraga

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya