alexametrics

‘Dokter’ Spesialis Restoran

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Sebagai Konsultan Restoran, Sarah Siti Kawiryan Wiryono atau biasa disapa Nanan Wiryono sudah banyak mendandani restoran dan kafe yang hampir ambruk. Jam terbangnya sangat tinggi. Kepawaiannya di dunia kuliner juga mengantarkannya membangun WL Home Kitchen. Murid-muridnya sudah banyak yang membangun usaha sendiri. Bahkan, ada yang sukses mengikuti ajang Master Chef Junior Indonesia.

Bagaimana perjalanan anda menjadi seorang konsultan restoran?

Saya belajar selama 4-6 tahun dari orang-orang yang expert di bidangnya. Mereka koki-koki dunia. Jadi tidak hanya Indonesia tapi saya tahu teknik masak ala Cina (Tiongkok, red), atau barat. Tapi saya juga belajar skill dari nol di bidang lain pada teman-teman saya. Di antaranya, instalasi exhaust untuk setting kitchen, interior-exterior design, floor plan, perekrutan karyawan.

Konsultasi apa yang sering anda tangani?

Restoran atau kafe yang punya masalah. Saya memberikan SOP dan training untuk mereka. Saya menjadi konsultan mereka mulai dari melakukan training karyawan sampai restoran itu berjalan. Saya menyebutnya “dokter” karena saya membenahi semuanya. Praktis, selepas saya meninggalkan lokasi, mereka bisa menjalankan saran yang saya berikan. Tugas saya selesai ketika mereka sudah launching.

Siapa saja klien anda?

Baca juga:  Naikkan Intensitas, Gubernur Sukseskan Gebrak Masker

Klien saya dari investor besar di Semarang seperti Thamrin Square, Java Mall, Tugu Luwak, Soen Kok (Golden Flower Group), Hills Restoran, dan lain-lain Klien saya pebisnis senior di Semarang, termasuk pemilik Sango Indonesia di Semarang.

Saat ini banyak restoran atau kafe baru, nah bagaimana agar usaha itu tetap bertahan sementara banyak saingan?

Restoran atau kafe yang bertahan itu yang punya konsep, kalau tidak, penjualan pasti akan mati. Karena dia hanya iseng, membuat usaha karena punya uang. Maka, dibutuhkan konsistensi. Misalnya, kalau punya coffeshop ya harus paten, resepnya apa, bahannya apa. Harus ada program promo plan dalam satu bulan dengan model advertising. Menyajikan menu yang signature. Untuk pelayanan, selain customer booking, harus ada take away. Nah konsep itu kan rapi, sudah di dipersiapkan belum?

Baca juga:  Pabrik Kayu Terbakar, Butuh Lima Jam Padamkan Api

Penyebab usaha mudah gulung tikar karena apa?

Biasanya kafe atau restoran yang tutup atau bangkrut itu karena tidak memperhitungkan rugi dan laba pada saat preoperasional dan praoperasional. Mereka harus menghitung studi kelayakan. Misalnya buka restoran dan punya pekerja lima. Setiap bulan harus gaji mereka Rp 5 juta plus operasional Rp 10 juta itu. Kalau kondisi sepi, Rp 10 juta itu target sales dihitung, setiap hari harus jualan apa, setiap orang yang datang itu ditarget beli berapa. Namanya back event point (BEP). Jadi, kalau mau bertahan harus menghitung BEP berapa bulan, omsetnya bagaimana, customer optimistis berapa yang datang. Maka dari itu pengusaha itu butuh konsultan, agar tidak sembarangan.

Baca juga:  Usai Diberi Bakso, Sikat Motor Milik Pedagang

Di tengah pandemi kan banyak usaha yang bangkrut, berapa customer yang anda layani?

Dalam waktu pandemi ini masih belum buka lagi, tapi kalau ada orang mau konsultasi dengan saya melalui telepon dan online masih saya terima. Biayanya Rp 350 perjam. Untuk waktunya paling tidak sampai tahun depan. Sementara ini saya sedang menyelesaikan waiting list dengan murid saya. Mereka berasal dari berbagai kota di Indonesia, antri les sejak dua tahun lalu. Ada orang tua yang punya restoran mau dilanjutkan anaknya, jadi mereka belajar manajemen usaha. Enggak cuma belajar menambah ilmu, mengembangkan produk development, tapi juga belajar mengelola karyawan lama yang sudah direkrut. (ifa/ton/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya