alexametrics

1983 Jadi Delegasi Indonesia di Korsel, Kini Tetap Berjiwa Pramuka

Cerita Pecinta Pramuka yang Pernah Ikut Jambore Internasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Tuning Sunarningsih, kepala BPKAD merupakan pecinta pramuka sejati. Tahun 1983 ia terpilih memimpin delegasi regu Indonesia pada Jambore Asia Pasifik di Korea Selatan.

Perempuan kelahiran 1967 itu mulai aktif dalam Pramuka sejak duduk di bangku SMP 1 Ambarawa. Awalnya ia terpilih mewakili kelas, lalu mewakili sekolah. Selanjutnya menjadi delegasi kabupaten hingga provinsi.

Latar belakang ayahnya seorang ABRI cukup menginspirasi Tuning. Ia sengaja diarahkan orang tua untuk menjadi anak Pramuka agar dapat berlatih mandiri dan disiplin. Nampaknya Tuning jatuh cinta sungguhan pada pramuka.

“Pramuka zaman dulu itu mbak luar biasa survivalnya. Semuanya dibuat dengan manual, buat pawon pake batu bata, pasak kayu buat sendiri, tidur beralaskan tikar, kalau hujan ya kebasahan, pokoknya benar-benar melebur dengan alam,” ungkapnya penuh antusias kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dalam perjalanannya, ia telah mengikuti Jambore Nasional sebanyak tiga kali. Sejak masih Pramuka Penggalang hingga Pramuka Penegak saat duduk di bangku SMA.

Dia ceritakan pengalaman paling berharga saat ia mewakili Indonesia di ajang Pramuka Internasional. Kala itu menjadi delegasi yang dikirim ke luar negeri terbilang spektakuler. Melihat latar sekolahnya berada di daerah yang cukup terpinggirkan, Tuning tak menyangka dapat terpilih. “Yang lainnya dari kota-kota besar, Semarang, Solo, dsb,” imbuhnya.

Indonesia hanya mengirim satu regu pada Jambore Asia Pasifik. Jateng terpilih mewakili Indonesia lantaran menduduki posisi prestasi tertinggi di tingkat nasional. Sebanyak 10 orang peserta berasal dari Jateng. “Ternyata saya dipilih jadi ketua lagi memimpin delegasi Indonesia,” terang Tuning.

Pada kesempatan berharga itu ia berjumpa dengan delegasi peserta lebih dari 100 negara. Tuning mendapat banyak teman baru. Ia juga sangat bangga dapat tampil menunjukkan kreativitas dan budaya Indonesia di mata dunia. Setiap kegiatan bendera merah putih selalu melekat pada anggota Pramuka Indonesia itu.

Bagi Tuning Pramuka mengajarkan kepemimpinan, keterampilan, kedisiplinan, dan kemandirian. Sampai sekarang ia masih memegang semangat dan disiplin Pramuka dalam hidupnya. “Lagu Pramuka di sini senang di sana senang itu sesuai dengan firman Tuhan bahwa gembira adalah obat,” ungkapnya.

Baca juga:  Menikmati Hamparan Terasering di Kaki Gunung Sumbing

Jiwa Pramuka membuat Tuning merasa terus bersemangat menjalani hidup dengan penuh gembira. Ia harap, generasi muda tetap aktif mengikuti Pramuka, sekalipun tidak menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah.

Sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi mandiri dan tahan banting saat menjumpai kenyataan dan kesulitan di kehidupan yang sesungguhnya. Lalu melatih jiwa korsa dengan gotong royong sesame anggota regu.

Zerlina Prima Putri Adisti saat mewakili Indonesia pada jambore dunia ke-24 di West Virginia, Amerika Serikat, pada 2019 lalu. (Istimewa)

Masih Berkomunikasi Aktif dengan Teman Luar Negeri

Mengikuti Jambore dunia pada tahun 2019 menjadi pengalaman berharga bagi Zerlina Prima Putri Adisti. Bahkan kini teman Pramuka dari berbagai negara masih terus menjaga komunikasi.

Zerlina Prima Putri Adisti mengikuti Pramuka sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Perempuan kelahiran 2003 ini sangat aktif dengan berbagai kegiatan Pramuka. Mulai dari baris-berbaris, tali-temali, perkemahan hingga jambore.

Jambore terakhir yang diikuti perempuan Klaten ini adalah jambore dunia ke-24 di West Virginia, Amerika Serikat, pada 2019 lalu. Jambore tersebut diikuti oleh 80 peserta dari Indonesia dan sekitar 45.000 dari 165 negara di dunia.

Kegiatan disana total 12 hari, sejak 22 Juli 2019–2 Agustus 2019. Namun sebelumnya, di Jakarta diadakan pemusatan kontingen selama lima hari. Bahkan, sebelum pulang ke Indonesia, regu Jambore Indonesia sempat mengujungi Washington DC dua hari.

“Sebelum berangkat ke Amerika saya berpamitan kepada Bapak Gubernur Ganjar Pranowo dan Ibu Siti Atikoh. Saya juga mengunjungi Istana Merdeka untuk pelepasan kontingen yang dilakukan oleh Bapak Presiden Joko Widodo,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang kemarin (9/8).

Zerlina saat mengikuti jambore dunia di Amerika Serikat, mendapatkan beragam pengalaman. Ia mendapatkan pelajaran tentang kemandirian, disiplin, kerja sama, kerja keras, kekeluargaan, dan persaudaraan. Ia dan teman-temannya selalu bersama menyelesaikan masalah yang terjadi. Tidak hanya fisik, tapu juga dilatih mental.

Baca juga:  Gelar Pengajian, Minta Restu Orang Tua Sebelum Coblosan

Berbeda dengan jambore biasa. Ikut jambore dunia, Zerlina merasakan hidup di alam bebas dengan peralatan sederhana dan makanan seadanya, mengenal alam secara langsung, membuat berbagai jenis peta, mengenal budaya daerah negara lain, dan melatih sikap.

Wanita yang memiliki hobi jogging ini hingga kini masih berhubungan baik dengan teman-teman luar negeri yang ikut Jambore ke-24 di Amerika tersebut.  “Masih, ketika disana kami saling bertukar username Instagram. Sampai saat ini kami masih berkomunikasi dengan baik,” tambahnya.

Purtri dari Sri Wiyanti ini berharap, ke depannya banyak anak milenial yang ikut kegiatan Pramuka dan bisa mengikuti Jambore tingkat internasional. Kegiatannya sangat relevan hingga saat ini. “Ajaran-ajaran baik dan positif di dalam Pramuka masih relevan untuk remaja sekarang ataupun generasi berikutnya,” tuturnya.

Luhur Dimas Pambudi kini menjadi bendahara Kwarda Jateng. (Istimewa)

Hiraukan Ledekan Sudah Tua Masih Ikut Pramuka

Luhur Dimas Pambudi masih setia dengan kegiatan Pramuka. Meski umurnya sudah 55 tahun. Bahkan dirinya kerap dijadikan lelucon. Namun keluarganya tetap memberikan dukungan.

Sejak tahun 1978, Luhur Dimas Pambudi sudah mengikuti Pramuka. Kala itu ia menjadi penggalang. Setahun setelahnya, ia sudah berani terjun mengikuti lomba tingkat IV atau tingkat Kwartil Daerah (Kwarda) dan Jambore di Baturaden, Kabupaten Banyumas.

Pada tahun 1981, ia kemudian mengikuti Jambore Nasional (Jamnas). Meski begitu, sebelumnya ia harus melewati seleksi seperti uji kompetensi pengetahuan kepramukaan, PBB, hingga menguasai semaphore. Di event itu pula, ia sangat terkesan karena dipercaya menjadi petugas upacara dalam pembukaan jambore. “Ya jadi kenangan tersendiri bagi saya, cukup luar biasa,” ucapnya malu.

Pengalamannya yang semakin luas membawanya tergabung dalam Jambore Dunia pada tahun 1983 di Canada, Amerika Serikat. Di event internasional ini, tidak terlalu banyak uji kompetensi seperti saat jambore nasional.

“Jambore dunia lebih mengutamakan bahasa internasional supaya mudah dalam berkomunikasi, sehingga dapat mengikuti kegiatan,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Semarang.

Dijelaskannya, Pramuka di luar negeri sangat berbeda dengan di Indonesia. Di sana, bisa ikut Pramuka dengan rasa suka rela. Selama 2 minggu, pramuka di luar negeri lebih banyak praktik ketimbang teori. Seperti petualang mencari jejak hingga berkuda. “Lebih variatif untuk menggali potensi. Jadi tidak melulu berdasarkan teori. Itu lebih seru,” ungkapnya.

Baca juga:  Merawat Jiwa-Jiwa yang Sakit di Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo

Meski begitu, model Pramuka seperti itu kurang cocok diterapkan di Indonesia. Pramuka di Indonesia merupakan kewajiban dari sekolah. Dalam kata lain, dipaksa untuk rela, bukan suka rela. Jika di Canada, orang yang ikut Pramuka ya benar-benar mencintai Pramuka, tidak terpaksa.

Kendati demikian, nilai minusnya adalah attitude yang kurang. Berbeda dengan Indonesia yang lebih memiliki sopan santun. “Karena di kita meski merupakan kewajiban, namun ditekankan untuk menjadikan mereka berkarakter baik,” tambahnya.

Dimas -sapaan akrabnya- menambahkan, selama mengikuti Pramuka ia mendapat banyak pengalaman, terutama bagaimana berorganisasi dan berinteraksi. Rasa sukanya kepada Pramuka hingga kini tak bisa dijelaskan. Intinya di sana senang di sini senang. Mengalir begitu saja hingga membuatnya menjadi Bendahara Kwarda Jawa Tengah. Meski dipandang lucu karena sudah berusia 55 tahun, namun masih andil dalam Pramuka. Ia bersyukur keluarganya sangat mendukung.

“Pramuka kan identik dengan siswa, sementara saya sudah tua. Jadi terkadang jadi lelucon. Kalau anak dan istri sangat mendukung. Terkadang ikut juga kalau ada kegiatan,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Dimas, Pramuka zaman sekarang dan dulu sangat berbeda. Karena faktor zaman, situasi, dan pandangan yang berbeda. Terutama kurangnya dukungan pemerintah dan lingkungan terhadap Pramuka. “Sekarang kekhawatirannya lebih banyak, jadi harus ekstra hati-hati dalam setiap kegiatan,” imbuhnya.

Namun, di Kwarda Jateng dukungan pemerintah yang dipimpin Atikoh Ganjar Pranowo sangat bagus. Hal ini tampak dari pemberian anggaran kepada kwarcab senilai Rp 100 juta per tahun untuk berkegiatan. (taf/ifa/mg16/mg17/mg18/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya