alexametrics

Batik Oey Soe Tjoen Pekalongan Hanya Layani Pesanan, Pembatik Tulis Tinggal 11 Orang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Tiga tahun lagi Batik Oey Soe Tjoen (OST) genap berusia seabad. Itulah rumah batik di Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, yang konsisten menjual batik tulis di tengah serbuan batik printing atau cap. Kini, sudah generasi ketiga. Dari dulu ratusan, kini pekerjanya tinggal belasan.

Jumat (15/7) siang  Widianti Widjaja, 46, sedang menjaga toko serba ada miliknya. Wartawan Jawa Pos Radar Semarang tak menyangka, ia adalah cucu Oey Soe Tjoen. Perempuan yang juga pemilik nama Oey Kiem Lian itu sekaligus pemegang estafet terkini dari Batik OST.

Iya, itu saya,” katanya sambil meletakkan kalkulator yang semula ia pegang.

Jika bukan pecinta batik, terlebih tulis, nama OST mungkin asing. Apalagi lokasi tokonya, mungkin tak akan tertangkap mata jika tak benar-benar niat mencari.

Lokasinya ada di Jalan Raya Kedungwuni Nomor 208. Tepat di sebelah sebuah toko serba ada. Toserba itu juga milik Widianti,  masih satu bangunan. Sama sekali tak ada tulisan “Batik Oey Soe Tjoen” di sana. Itu yang membuat wartawan koran ini juga sempat ragu-ragu mengetuk pintu. Sebab, yang tertera justru tulisan “Tradisional Batik Art”. Itu pun kecil dan tak meyakinkan untuk sebuah nama besar nan legendaris Oey Soe Tjoen yang batiknya diburu orang-orang, termasuk dari mancanegara.

“Sejak saya yang pegang, manajemen saya ubah. Kami hanya melayani batik pesanan (by order). Jadi, kalau toh misalnya ada gerai, apa yang saya jual? Tidak ada,” kata Widianti.

Batik OST berdiri sejak 1925. Didirikan oleh Oleh Oey Soe Tjoen sendiri dan dikerjakan bersama istrinya. Sejak berdiri hingga sekarang, lokasi rumah batik OST tak pernah pindah.

Menurut Widianti, kakeknya itu memang lahir dan besar dari keluarga pembatik. Oey Soe Tjoen atau Soetjondro Widjaja kemudian menjadi penjual batik yang memasarkan ke berbagai daerah di Jawa Tengah, dan menjelma menjadi pengusaha batik dengan ratusan pekerja.

“Saat itu, ada 150 pekerja. Dulu kan orang jago membatik itu banyak. Enggak seperti sekarang,” kata Widianti.

Sepeninggal Oey Soe Tjoen usaha dilanjutkan oleh salah seorang anaknya, Oey Kam Long atau Muljadi Widjaja. Itulah ayah Widianti Widjaja.

Meski sang pendiri telah tiada, namun nama Batik OST makin terkenal di era Oey Jam Long. Pada 1972 mulai mendapat pelanggan dari luar negeri, seperti Australia, Malaysia, Singapura, dan Jerman.

“Padahal ayah itu anak yang bukan dipersiapkan oleh kakek untuk meneruskan usaha. Yang dipersiapkan itu perempuan, namun meninggal,” cerita Widianti.

Pada era Oey Kam Long, jumlah pembatik mulai berkurang. Dari 150 menjadi 60-an orang. Era Widianti juga kembali berkurang, menjadi 30-an orang. Itu sisa dari era ayahnya.”Sekarang tinggal 11 orang,” kata Widianti.

Makin berkurangnya jumlah pekerja ini, kata Widianti, bukan karena makin sedikitnya pesanan batik. Rumah Batik OST hingga saat ini masih rutin menerima pesanan. Bahkan pesanan yang masuk sejak beberapa tahun lalu masih berjibun dan belum tergarap. “Ini karena pembatik tulis yang masih bertahan 11 orang itu. Bukan karena hal lain,” ujarnya.

Baca juga:  Memiliki Cita Rasa Unik, Perpaduan Sensasi Segar, Manis, dan Rasa Jamu

Pada sekitar 2005, tambah Widianti, ia memang pernah memberhentikan semua pekerja. Rumah Batik OST berhenti produksi. Sebab, kala itu tengah krisis minyak tanah yang merupakan bahan bakar untuk membatik.

“Kami butuh banyak minyak tanah, tapi masih krisis, kalau saya paksa beli, nanti kami dituduh penimbun. Saya tidak mau,” ucapnya.

Namun tak sampai sebulan, Widianti berubah pikiran. Ia memikirkan nasib pekerjanya. Ia merasa terlalu egois jika ambil sikap menghentikan produksi. Akhirnya, ia panggil pekerja-pekerja untuk kembali produksi.

“Tapi sistemnya saya ganti. Mereka tidak kerja ke sini, kerjanya di rumah. Mereka beli minyak tanah sendiri. Sebab, saya tetap tidak mau dituduh penimbun dalam kondisi krisis begitu,” jelasnya.

Tiga tahun lagi, Rumah Batik OST berusia 100 tahun. Widianti tak tahu bagaimana nasib rumah batik warisan kakek dan ayahnya itu ke depan. Ia mengatakan dengan tegas, tak punya pewaris berikutnya. Anak-anaknya hingga kini belum ada yang siap melanjutkan.

“Kalau ditanya sayang, ya sayang sekali kalau berhenti. Tapi satu sisi, saya tak bisa memaksa anak saya untuk bergelut di batik. Mereka memilih jalan sendiri,” tandasnya.

Christina Riyastuti (tengah) saat mengajari wisatawan asing membatik tulis di rumahnya. (Istimewa)

Christina Buka Pelatihan Membatik Tulis

Christina Riyastuti, salah satu perajin batik tulis di Kampung Batik, Rejomulyo, Semarang Timur yang masih bertahan. Ia tergabung dalam Paguyuban Kampung Batik yang terdiri atas 22 perajin batik. Namun pandemi Covid-19 membuat beberapa di antara mereka beralih usaha lain. Ada yang merintis usaha kuliner. Ada yang berjualan minuman tradisional jamu. “Tapi, saya tetap setiap membuat batik tulis,” kata wanita 51 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Pemilik Toko Batik Laksmi Art ini terjun di dunia batik tulis sejak 2009. Awalnya ia memberikan pelatihan membatik di Balai Kota Semarang selama satu minggu. Padahal Christina mengaku belum 100 persen menguasai batik tulis, tapi ia sudah memberanikan diri untuk membuka stand pelatihan membatik di Jalan Dr Cipto.

“Saya buka di situ sendiri lho, Mas. Saya buka stand di situ, dan saya merasa saya bisa. Lalu, saya masuk ke sekolah-sekolah untuk memberikan pelatihan membatik. Saya juga promosi dengan membagikan brosur yang juga saya titipkan ke tukang koran. Dari situ saya mendapat telepon-telepon untuk datang melatih ke rumah mereka,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Christina sendiri awalnya guru SMP. Namun ia resign karena ingin fokus mengurus anak. Setelah anak-anaknya tumbuh dewasa, ia baru terjun ke usaha batik. Selain membuka pelatihan, ia juga memproduksi kain batik tulis dan menjualnya sendiri. Ia memulai usaha sejak 2016.

Pada tahun yang sama kampungnya dijadikan kampung tematik batik yang menjadi jujugan wisatawan. Ia pun tidak lagi susah payah mencari peserta pelatihan membatik. Sekarang orang-orang yang ingin belajar batik tulis mulai pelajar hingga wisatawan berdatangan ke rumahnya.

Saat membuat batik tulis, Christina tidak menggunakan motif yang paten. Bisa motif Semarangan, Kawung, atau motif lainnya. Saat mengerjakan batik tulis dengan motif sama, hasilnya pasti tidak sama persis. “Kadang ada coretannya sedikit, kadang ada titiknya sedikit, jadi sesuai mood,” tuturnya sambil tersenyum.

Baca juga:  Siswa Ngambek Belajar karena Ingin Ketemu Guru

Menurut dia, ciri khas batik tulis adalah motifnya yang detail dan lebih rumit dari batik lainnya. Batik tulis yang diproduksi dijual antara Rp 400 ribu- Rp 1 juta, sesuai kerumitan dan jenis pewarnaannya. “Kalau untuk batik tulis yang di atas Rp 1 juta biasanya menggunakan warna alam,” ujarnya.

Di tengah maraknya batik printing yang lebih murah, menurut dia, batik tulis masih bertahan. Meski harganya terbilang cukup mahal, batik tulis memiliki pasar tersendiri, yakni kalangan menengah ke atas.

Mahalnya batik tulis lantaran proses pembuatannya yang membutuhkan waktu lebih lama. Batik tulis dibuat kurang lebih satu sampai dua bulan, bahkan ada juga yang membutuhkan waktu beberapa bulan. Pewarnaan batik tulis bisa menggunakan warna sintetis ataupun warna alam. Batik yang menggunakan warna sintetis cenderung lebih murah. Sedangkan batik tulis yang menggunakan warna alam cenderung lebih mahal.

“Ada batik tulis yang membutuhkan beberapa kali pewarnaaan dan beberapa kali canting. Bahkan ada yang sampai setahun. Kalau dijual bisa sampai Rp 10 juta per lembarnya,” katanya.

Christina mengaku terkendala bahan baku pembuatan batik tulis yang sulit didapatkan. Bahan seperti malam, warna alam, dan warna sintetis sulit didapatkan di Semarang. Ia terpaksa harus membeli bahan baku jauh dari Pekalongan. Selain bahan baku, ia juga terkendala tenaga ahli dalam pembuatan batik tulis.

Selama ini, ia hanya dibantu dua sampai tiga pembatik dari keluarga sendiri. Bahkan, Christina mengakui dirinya masih belum mahir betul ketika membuat batik tulis. “Sampai sekarang saya masih belum lancar membuat batik tulis, Mas. Ibaratnya saya masih ingin terus dan terus belajar membatik,” tambahnya.

Christina menyadari batik tulis merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Wanita asli Jogja ini merasa dirinya sebagai orang Jawa dan orang Indonesia berperan melestarikan budayanya. “Kita sebagai orang Indonesia harus nguri-uri budaya kita, apalagi batik budaya Jawa, jangan sampai apa yang kita punya diambil orang luar,” katanya sembari mengenang klaim batik oleh Malaysia.

Ia berharap dirinya memiliki penerus di dunia batik. Tapi, saat ini anak muda cenderung tidak tertarik untuk menggeluti batik. Anak muda zaman sekarang, kata dia, cenderung berorientasi pada uang yang instan.  Mereka lebih memilih pekerjaan yang mudah dan ringan dengan gaji tetap. Minimya minat anak muda terhadap batik tulis ini menimbulkan keresahan dirinya.

Karena itu, Christina mengajak kepada masyarakat untuk mengembangkan kerajinan batik tulis. Keterampilan membuat batik tulis harus segera diturunkan kepada generasi muda. Jika tidak, eksistensi batik tulis akan terancam. “Bisa jadi keberadaan batik tulis akan tergerus oleh batik cap dan batik printing. Jangan sampai batik tulis itu punah, karena ini warisan yang harus kita jaga,” tuturnya.

Warga Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang saat membatik tulis. Kini, jumlah pembatik tulis di desa ini semakin sedikit karena upah yang diterima relatif sedikit. (NURFAIK NABHAN/Jawa Pos Radar Semarang)

Upah Minim, Enggan Jadi Pembatik Tulis

Baca juga:  Berlenggak-Lenggok di Kota Lama

Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang dikenal sebagai sentra produksi batik, baik tulis maupun cap (printing). Tepatnya di Dusun Banaran dan Dusun Jlamprang.

Saiful Nuruddin, warga Dusun Jlamprang salah satu produsen khusus batik tulis yang masih bertahan. Ia tidak merasa khawatir dengan adanya toko-toko yang menjual batik murah, terutama batik cap. Menurutnya, batik itu tergantung selera dari konsumen serta kepercayaan.

Pria yang mengawali usaha produksi batik tulis pada 2010 ini tidak hanya fokus pada produksi batik tulis, melainkan juga kain handmade. “Kita kebetulan sudah memiliki beberapa mitra. Jadi, tidak hanya dijual sendiri, tapi ada pemesanan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain itu, ia juga memiliki prinsip untuk memberdayakan sumber daya alam dan warga sekitar. Misalnya, dalam hal pewarnaan batik tulis yang menggunakan pewarna alami. Untuk warna ungu indigo menggunakan tumbuhan indigo yang bergenus indigofera.

“Untuk tumbuhannya sendiri kita kerja sama dengan para petani sini, Mas. Jadi, selain menanam padi, mereka juga menanam tumbuhan tersebut. Yang nantinya kita beli untuk pewarna alami buat batik,” ujarnya.

Diakui, regenerasi pembatik tulis di Gemawang masih minim. Kendala di produksi batik tulis, menurut Saiful, yakni masalah upah. Banyak yang tidak tertarik, karena upahnya terlalu kecil. Untuk di Gemawang sendiri sebenarnya banyak yang bisa membatik tulis, namun tidak untuk dijadikan pekerjaan utama.

Nah itu yang kita perjuangkan dari tahun ke tahun. Agar pembatik bisa ada regenerasinya dan bisa melestarikannya,” katanya

Fitriyamin Tarsih dari CV Batik Gemawang mengaku lebih banyak memproduksi batik printing atau cap. Menurutnya, batik printing lebih terjangkau dari segi harga, serta proses pengerjaannya lebih cepat. “Setiap hari kami juga masih membuat batik tulis.  Tapi kan kalau batik tulis itu tidak langsung jadi,” ujarnya.

Batik Gemawang dirintis sejak 2008. Saat ini memiliki 13 karyawan warga Desa Gemawang. Mulai usia 21 hingga 60 tahun. Sentra Batik Gemawang juga kerap menjadi jujugan siswa sekolah untuk belajar membatik. Hal ini dilakukan untuk lebih memperkenalkan proses pengerjaan batik itu sendiri, serta menyalurkan ilmu agar batik bisa terus lestari.

“Pelanggan juga kita persilakan untuk melihat proses pengerjaannya, Mas. Agar mereka tahu kenapa harga batik bisa tinggi,” katanya.

Sudah banyak produk Batik Gemawang yang dipasarkan. Seperti untuk seragam ASN Kabupaten Semarang yang memiliki motif Candi Gedongsongo. Selain di Kabupaten Semarang, produk Batik Gemawang sudah tersebar di seluruh Indonesia.  “Dulu waktu awal-awal sudah pernah diekspor ke UK (United Kingdom) atau Inggris, Mas. Tapi sekarang sudah tidak, karena kita lebih ke pasar lokal,” ujarnya.

Produk Batik Gemawang juga pernah dipakai mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Selain itu, juga sudah tersebar di kalangan pemerintahan kabupaten maupun kota. Dalam sehari, pihaknya bisa membuat kurang lebih 50 lembar kain batik cap atau printing. Setiap lembar kain batik biasanya berukuran sekitar dua meter dan menggunakan kain katun.  (nra/mg19/mg20/nun/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya