alexametrics

Meraup Untung dari WC Umum, Gunakan Sistem Lelang, Tiap Bulan Bayar Retribusi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Meraup keuntungan atau pundi-pundi uang dari kotoran atau WC umum ternyata cukup menggiurkan. Pasar salah satunya. Aktivitas pedagang dan pembeli yang hampir tidak pernah sepi menjanjikan keuntungan besar bagi pengelolanya.

Pasar Peterongan merupakan pasar tradisional dengan bangunan cagar budaya. Pasar ini memiliki beberapa tempat mandi dan WC umum. Salah satunya yang dikelola oleh Endang Triningsih yang tak jauh dari zona konveksi dan zona kuliner.

“Saya hanya meneruskan usaha bapak saya dulu. Sekitar 46 tahun lalu,” kata Endang Triningsih saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Pasar Peterongan.

Endang begitu ia disapa menjelaskan, sebelum pasar direvitalisasi seperti sekarang, orang tuanya memiliki lahan tak jauh dari bangunan utama pasar. Saat itulah orang tua Endang membeli lahan sendiri yang dibangun sebagai kamar mandi dan WC umum.

“Saat itu dikelola bapak saya dan rekannya. Tapi tetap wajib membayar retribusi ke pemerintah, juga bayar listrik serta air,” tutur Endang.

Revitalisasi pembangunan Pasar Cagar Budaya ini, akhirnya membuat bisnis yang digeluti orang tua Endang terdampak, sehingga harus pindah. Beruntung, setelah selesai dibangun sekitar tahun 2017-2018, akhirnya usaha yang dirintis orang tua Endang dipindah ke dalam pasar.

“Sejak pindah itu, saya yang jadi pengelolanya. Sistemnya lelang. Namun kebetulan saya ditawari duluan. Apalagi usaha ini dulunya kan punya orang tua saya. Kalau lelangnya setiap tahun diadakan, tapi ya yang ikut hanya orang lama saja,” jelasnya.

Dari segi fasilitas, dalam pantauan Jawa Pos Radar Semarang sudah mencukupi. Untuk bilik pria, ada dua kamar mandi dan WC serta tempat buang air kecil. Sementara di bilik wanita ada empat kamar mandi dan WC. Cukup bersih. Tak tercium bau tak sedap alias pesing seperti kamar mandi umum lainnya.

Maklum saja, Endang memperkejakan dua karyawan yang dibagi menjadi dua shift, yakni pagi dan siang. Tugasnya selain menjaga, juga membersihkan kamar mandi umum sehingga tetap nyaman digunakan untuk para pedagang ataupun pembeli yang datang ke Pasar Peterongan.

Baca juga:  Pedagang Tradisional Lebih Nyaman Jualan Manual

“Fasilitasnya ya seperti kamar mandi pada umumnya, bisa untuk mandi, buang air kecil, ataupun air besar. Setiap hari ada dua yang jaga, mulai pukul 01.30 dini hari sampai pukul 08.00 lalu, kemudian ganti orang sampai pasar tutup,” tuturnya.

Untuk retribusi pengguna kamar mandi dan WC umum, pedagang pasar dibanderol Rp 1.000. Sementara pengunjung umum Rp 2.000 untuk buang air kecil ataupun besar dan Rp 3.000 untuk mandi. Setiap bulan, dirinya menyetorkan retribusi ke Dinas Perdagangan sebesar Rp 1,2 juta.

“Setiap bulan bayar retribusi ke dinas. Kalau listrik bayar sendiri, air dipasok sumur artetis pasar. Kalau retribusi naik, biasanya dirapatkan dulu,” ujar Endang.

Dari segi pendapatan, Endang mengaku jika pundi-pundi rupiah yang dihasilkan perlu disyukuri. “Kalau dapatnya banyak ya petugas jaga dapat banyak, Kemarin pas Covid-19 tinggi, cukup terimbas,” pungkasnya.

Subhan dan bisnis jasa toilet serta kamar mandi yang dikelolanya. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pendapatan Tertinggi pada Hari Minggu di Bulan Ruwah

Bisnis toilet di tempat wisata religi dapat menumbuhkan ekonomi kecil. Warga sekitar pemilik lahan bisa membuat dan mengelola toilet, kamar mandi, warung kopi, maupun warung kelontong lainnya.

Bisnis toilet ini antara lain dijalankan pasangan suami isteri Subhan dan Khusnul Himmah, warga kampung Kauman Utara, Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota. Lokasi bisnis toilet itu letaknya strategis. Tepat di depan Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu.

Subhan dan isteri meneruskan usaha toilet dan kamar mandi yang dirintis orang tuanya. Ada 16 ruang yang terbagi 7 toilet dan sisanya kamar mandi. Dengan konsep, tempat penampungan air yang memanjang, seluruh ruang kamar mandi dan toilet bisa terisi air dengan baik. Sumber air cukup melimpah sehingga toilet dan kamar mandi tidak kekurangan air bersih.

“Usaha toilet dan kamar mandi ini milik mertua. Karena beliau sudah tidak ada, akhirnya kami yang meneruskan mengelola usaha ini sejak 2019,” ujarnya.

Baca juga:  Asal Minum Obat Kuat Bisa Berakibat Fatal, Begini Penjelasan Seksolog

Tempat bangunan toilet ini dulunya adalah tempat usaha ternak atau kandang ayam. Karena ternak ayam kerap di makan ular, akhirnya diganti dengan bisnis toilet, kamar mandi, dan toko kelontong

Adapun, toilet untuk BAB dan kamar mandi cukup bayar Rp 3 ribu. Sedangkan, untuk kencing Rp 2 ribu. Bisnis toilet tergolong menguntungkan. Selain bisa untuk menambah pendapatan keluarga juga bisa untuk mendukung pembiayaan pendidikan anak-anak.

“Kalau ada pemasukan biasanya untuk perawatan dan kebersihan toilet dan kamar mandi. Di antaranya untuk pembersih keramik maupun pembayaran listrik tiap bulannya,” katanya.

Menurutnya, kalau hari-hari biasa, Senin, Selasa, dan Rabu, bisa mendapat pemasukan lumayan. Jika hari ramai saat Ruwah dan bertepatan dengan hari Minggu pernah sampai Rp 1 juta. Tapi hari Minggu biasa selain Ruwah, tak sampai sebanyak itu.

“Yang utama sebetulnya adalah bagaimana warga sekitar ini bisa memberikan kemudahan dengan menyediakan fasilitas toilet dan kamar mandi untuk para peziarah. Sebab, kadang mereka kesulitan mencari toilet. Apalagi, pendatang dari jauh. Selain itu, toilet dan kamar mandi yang ada di Masjid Sunan Kalijaga kalau pagi biasanya juga dibersihkan petugas,” katanya.

Menurutnya, pernah pukul 03.00 dinihari ada peziarah yang mengetuk pintu karena butuh kamar mandi. Karena itu, penyediaan toilet bagi peziarah sangatlah penting dan dibutuhkan. “Untuk sumber air bersih tercukupi,” ujar Subhan.

Dia menambahkan, usaha toilet dan kamar mandi yang dijalankan sempat mengalami pasang surut. Apalagi, saat pandemi Covid-19 dua tahun lalu, suasana peziarah juga sepi. Sehingga berpengaruh pada pemasukan.

“Pas pandemi, baik malam Jumat Kliwon maupun bulan Ruwah juga sepi senyap. Sekarang, mulai normal kembali. Banyak peziarah yang berdatangan,” katanya.

Toilet umum di area Sendang Kalimah Thoyyibah, Nyatnyono, Ungaran, Kabupaten Semarang dikelola pengurus. (NURFAIK NABHAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Tak Patok Tarif, Sehari Kadang Raup Rp 300 Ribu

Baca juga:  Obat Kuat Marak Dijual di Toko Pinggir Jalan, Online, hingga Medsos

Makam wali Allah selalu didatangi para peziarah dari berbagai kota di Indonesia. Tentu mereka membutuhkan layanan fasilitas umum seperti toilet untuk buang air kecil, buang air besar, mandi, dan wudu.

Di Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, menjadi jujugan para peziarah. Ada dua makam wali Allah, yakni Kiai Hasan Munadi dan Kiai Hasan Dipuro. Bahkan di lokasi wisata religi itu ada Sendang Kalimah Thoyyibah.

Bersyukur pengurus makam dan sendang menyediakan fasilitas umum berupa toilet. Tapi tidak ditetapkan tarif seperti yang dikelola masyarakat umum. “Di sini tidak dipatok tarif, seikhlasnya untuk membayarnya,” ujar salah satu penjaga, Muhammad Imam.

Karena tak ada tarif resmi, banyak peziarah yang tidak membayar. Namun banyak juga yang memasukkan ke dalam kotak yang sudah disediakan di depan toilet. Nantinya, hasil dari kotak amal untuk toilet tersebut digunakan untuk biaya perawatan, pembaharuan fasilitas, dan untuk membayar transportasi para penjaga.

“Kadang satu hari dua hari waktu ramai penziarah bisa mendapatkan Rp 300 ribu-an. Tapi itu tidak tetap, selalu berubah-ubah,” katanya.

Untuk fasilitas toilet umum hanya berada di kawasan makam dan sendang saja. Mayoritas masyarakat di Nyatnyono hanya berjualan dan menyediakan tempat untuk singgah bagi para peziarah. Sekalipun terdapat toilet umum di warung warga, itu hanya untuk mengantisipasi membeludaknya para peziarah. “Itu hanya untuk jaga-jaga mas. Biliknya pun hanya satu dua saja. Tidak sebanyak yang ada di sini,” ucapnya.

Imam mengatakan, fasilitas toilet umum di wisata religi Nyatnyono lebih banyak di area makam. Terdapat tiga titik di area makam. Karena untuk jumlah peziarah pun banyak yang ada di area makam daripada di area sendang.

“Disini ramainya saat weekend dan Kamis malam atau malam Jumat Kliwon. Atau malam satu Suro. Tapi kalau hari biasa ada yang datang, hanya beberapa,” katanya.  (den/hib/nun/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya