alexametrics

Budidaya Maggot Kurangi Setengah Ton Sampah Sehari

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang bersama UPT TPA Jatibarang mengembangkan budidaya maggot. Dalam sehari maggot dapat mengurangi setengah ton sampah organik.

Budidaya belatung maggot itu dilakukan di sepetak ruang sebelah kiri TPA Jatibarang. Ada 16 petak budidaya maggot berbahan besi bekas berukuran satu kali setengah meter. Kotak tersebut dipakai untuk tempat pembesaran maggot. Di setiap biopond terdapat berbagai ukuran maggot, mulai dari yang kecil, tanggung, dan besar. Semuanya dipisah menurut ukuran.

Di sebelah kanan ruangan ada jaring-jaring hijau yang digunakan untuk menyimpan lalat Black Soldier Fly (BSF) setelah penetasan. Lalat tersebut akan mati dalam waktu tujuh hari. Setelah melakukan reproduksi, lalat jantan akan mati. Sedangkan lalat betina akan bertelur dan kemudian ikut mati.

Setiap hari pengelola TPA Jatibarang akan bergantian memberi makanan untuk maggot. Makanan berasal dari sampah organik yang masuk di TPA Jatibarang. Baik itu buah-buahan ataupun tempe busuk yang berasal dari industri rumahan. Makanan diberikan tiga kali dalam sehari.

Terlihat Supri, salah satu pengelola, sedang memberikan makanan tempe busuk. Makanan tersebut diletakkan di biopond dan langsung diserbu oleh kawanan maggot. Para maggot bergeliat dan berdesak-desakan untuk memperolah makanan.

Baca juga:  Dorong Kreativitas Konten Kreator Jateng

Kepala UPT TPA Jatibarang Wahyu Heryawan mengatakan awal mula budidaya maggot karena melihat potensi sampah yang masuk ke TPA Jatibarang. Sebagian besar merupakan sampah organik. Oleh karena itu, budidaya maggot dirasa dapat mengurangi penumpukan sampah yang masuk ke TPA.

“Sampah yang masuk di TPA ini 60 persen termasuk sampah organik, sedangkan 40 persen lainnya sampah anorganik,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Wahyu sapaan akrabnya menambahkan, belatung yang dipelihara disini jenisnya berbeda dengan yang lainnya. Belatung ini dari telur lalat BSF atau yang biasa disebut maggot. Bentuknya kecil, kering, tidak berbau, tidak butuh makan, dan minum. Lalat BSF ini dalam perkembangbiakannya hanya membutuhkan sinar matahari.

Sebetulnya ada banyak manfaat dari maggot, yang bisa didapatkan. Selain dapat mengurangi sampah, maggot dapat digunakan sebagai pakan ternak. Seperti ikan, burung, ayam, mentok, lele, dan hewan ternak lainnya.

“Kurang lebih sudah dua tahun membudidayakan maggot ini. Sekarang bisa mengurangi sampah 500 kilogram. Berbeda saat awal dulu hanya 100 kilogram sampah dalam sehari yang bisa dimakan maggot,” akunya.

Manfaat lainnya maggot mempunyai kandungan protein tinggi. Hal ini karena makanan utamanya berasal dari buah-buahan dan sayur-sayuran. Kandungannya mencapai 47 persen.

Baca juga:  Pembangunan Rutan Semarang Masuki Proses Lelang Tahap Kedua

Wahyu mengatakan, tidak merasa kesulitan dalam membudidayakan maggot. Tantangan terbesarnya adalah ketersediaan bahan makanan. Maggot merupakan hewan yang unik. Belatung ini tidak berhenti mengunyah selama 24 jam serta mampu memakan makanan dua kali lipat dari bobot tubuhnya. Saat diberikan makanan sampai lima kali dalam sehari pun pasti akan dilahap habis. Jadi tidak salah jika maggot menjadi tukang bersih-bersih sampah organik. Namun saat maggot tidak diberi makan selama dua hari, mereka akan keluar dan pergi dari biopond.

Dijelaskan siklus hidup maggot yang tidak menyisakan limbah sama sekali ini tergolong unik. Dibutuhkan waktu 21 hari dari tahap menetas hingga berubah berkulit hitam. Tiga hari untuk bibit telur menjadi bayi maggot. Lima hari kemudian bayi maggot bisa mengunyah makanan sisa sampah organik. Lalu saat maggot berusia 21 hari, mereka akan capek sendiri mengunyah makan. Maggot pun akan berubah warna menjadi hitam. Ia akan menyendiri dan keluar dari biopond dan menjatuhkan diri ke wadah yang sudah disiapkan di bawahnya. Maggot inilah yang kemudian menjadi lalat BSF. Kotoran dan kulit yang ditinggalkan inilah yang kemudian dinamakan bekas maggot (kasgot) yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

Baca juga:  Disiplin Prokes, Ratusan Umat Hindu Khusyuk Peringati Galungan

Menurutnya budidaya maggot ini perlu diterapkan di semua TPA dan TPS. Karena banyak manfaat yang didapatkan. “Dengan perkembangbiakan yang sangat cepat, cara berternak maggot sangat gampang, gak merepotkan, justru punya nilai ekonomis yang tinggi,” katanya.

Diakuinya banyak warga Semarang yang ikut belajar budidaya maggot. Sebagai sarana pendukungnya, Wahyu kerap memberikan telur maggot secara cuma-cuma kepada warga yang belajar. Dengan cara itulah, ia ingin mengubah minset masyarakat Semarang mengenai pentingnya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungannya sebelum mengarah ke segi bisnis.

“Bagi warga yang ingin budidaya, kita menyediakan benihnya. Maggotnya juga bisa diambil. Berapapun akan kita kasih secara gratis,” tambah Wahyu.

Dengan ini banyak warga yang datang untuk belajar. Mereka pun membawa benih maggot dari TPA Jatibarang. Karena di pasaran harga satu kilogram maggot mencapai Rp 7000. Sedangkan di TPA Jatibarang tidak dikenakan biaya.

“Di TPS Tambaklorok itu sudah berhasil. Salah satu dosen di Unika juga pernah belajar di sini. Sekarang ia biasa memberdayakan masyarakat untuk budidaya maggot di lingkungannya,” pungkasnya. (kap/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya