alexametrics

Kaya Manfaat, Begini Cara Budidaya Buah Tin

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Buah tin termasuk buah yang istimewa. Namanya disebutkan dalam Alquran yakni surat At Tin. Bagi sebagian orang, buah ini langka tapi memiliki banyak manfaat.

Belum banyak yang tahu buah dari Timur Tengah ini bisa tumbuh di Indonesia. Aris Pandan adalah salah satu pembudidaya buah tin di Semarang. Warga Bulustalan Gang 5, Kelurahan Bulustalan, Semarang Selatan ini telah membudidayakan buah bernama latin Ficus carica ini selama 12 tahun.

Menurutnya buah tin memiliki banyak manfaat. Daun dan buahnya bisa digunakan untuk pengobatan. Seperti mengandung vitamin A, membantu melancarkan serta menyehatkan pencernaan, mengatasi sembelit, mengurangi risiko penyakit jantung, membantu mengendalikan berat badan, mengobati diabetes, dan lainnya.

Mengenai perawatan, Pemimpin Bank Jateng Syariah Semarang Barat ini tidak merasa kesulitan. Selagi airnya cukup dan terkena sinar matahari buah tin akan tumbuh dengan baik. “Perawatannya nggak sulit, airnya jangan kebanyakan dan harus kena sinar matahari yang cukup. Mengenai kondisi tanah saat proses tanam juga dikasih pupuk,” akunya.

Aris juga pernah mendapati tanamannya terserang hama. Daun yang awalnya hijau berubah menjadi kering dan timbul bintik-bintik putih. Ia pun menyiasati dengan disemprot obat antihama.

“Pohonnya pernah hampir mati karena terserang hama. Akhirnya saya carikan obat antihama setelah disemprot selama satu minggu daunnya sudah tumbuh subur lagi. Karena kalau dibiarkan daunnya akan kering. Buahnya juga  akan timbul bintik-bintik coklat,” jelasnya.

Berawal dari ketidaksengajaan, kini buah tin yang dibudidayakannya dapat bermanfaat bagi orang lain. Dalam sebulan pria berusia 38 tahun ini bisa menjual minimal 25 polybag. Itu pun berawal dari salah satu tamu yang penasaran dengan buah tin miliknya kemudian dibeli dengan harga Rp 250 ribu. Dari omongan orang-orang akhirnya banyak yang mereferensikan untuk membeli buah tin padanya.

“Karena saya ini kan nggak fokus ke budidaya saja. Saya juga punya pekerjaan, jadi dalam sebulan minimal 25 polybag yang terjual. Kisaran harga pun nggak tentu tergantung besar kecilnya. Minimal Rp 100 ribu dan paling tinggi kemarin sampai Rp 300 ribu,” katanya.

Tak hanya mencari bibit, masyarakat pun ada yang mencari buah tin yang sudah masak untuk dijadikan obat. Satu pohon buah tin bisa berbuah sebanyak 20 buah. Sedangkan pohon yang kecil hanya dua atau tiga buah tin. “

Muslikin juga salah satu pembudidaya buah tin. Pria yang tinggal di Dusun Pucung RT 1 RW 2 Kelurahan Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan ini memulai pada 2016 dengan memelihara 30 pohon. “Saat ini jadi banyak,” ujarnya.

Baca juga:  Gara-Gara Tanah Warisan, Ibu 64 Tahun Ini Dipolisikan Anak Kandungnya

Ia menjual bibit pohon tin melalui media sosial Facebook.  Pengirimannya melalui paket. Pelanggannya dari berbagai macam daerah, seperti Jakarta, Surabaya, Sumatera, dan Kalimantan. Ia memiliki reseller dari berbagai daerah, yakni Cilacap, Purwokerto, Lumajang, hingga Kalimantan. “Kadang-kadang (penjualan mencapai) 100 polybag,” ujarnya.

Terdapat empat varian pohon tin yang ia budidaya, seperti Green Yordan, Panace, Brown Turkey, dan Blue Giant. “Yang terendah Green Yordan dengan harga Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu. Kemudian Blue Giant dan yang teratas Brown Turkey Rp100 ribu, katanya.

Muslikin yang sehari-hari sebagai sopir ini menjadi petani di sela-sela waktunya. Ia hanya memperbanyak bibit buah agar tanaman tetap lestari. Selain itu, dirinya mempersilakan warga sekitar jika ingin meminta bibit untuk ditanam

Sementara produk olahan dari pohon tin menjadi salah satu unggulan UMKM di Kelurahan Karang Tempel, Kecamatan Semarang Tengah. Lurah Karang Tempel Suharyati menjelaskan, di wilayahnya terdapat Kelompok Wanita Tani (KWT) Ijo Sari yang diketuai oleh Warsini atau akrab disapa Bu Tejo. Bu Tejo mengembangkan UMKM teh daun tin, yang menjadi cikal bakal Kampung Tematik Teh Daun Tin. Ia berhasil memproduksi teh daun tin dan menjualnya.

Sejak menanam daun itu, Bu Tejo memiliki hobi baru mengolah daun tin menjadi teh. Setiap daun tin lima helai ke atas, kemudian dicuci dan dijemur seharian. Setelah itu dikemas seberat 30 gram untuk masing-masing kemasan.

Kampung Tematik Teh Daun Tin sebenarnya sudah diajukan sejak 2018 silam. Namun disetujui Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang pada 2019. Pelaksanaannya pada 2020. Programnya membangun gapura, green house, dan mengadakan pelatihan. “Harapannya banyak dari warga kami banyak yang gemar bertani,” katanya.

Dikembangkan dengan Cangkok atau Stek

Ada berbagai cara untuk mengembangkan pohon tin. Cangkok atau stek bisa digunakan. Sistem cangkok dipilih Muslikin, pembudidaya tin dari Dusun Pucung RT 1 RW 2 Kelurahan Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan. Menurutnya, mengembangkan tin dengan sistem cangkok sangat mudah.

Dimulai dari pengeratan batang yang dipilih untuk dicangkok. Selanjutnya bagian yang akan dicangkok dibungkus dengan media tanam. Tunggu hingga bagian cangkokan tumbuh akar. “Mungkin dua bulan kemudian dapat dipindahkan ke media lain,” ujarnya.

Baca juga:  Siap-Siap Lur, E-Tilang Mulai Berlaku 17 Maret 2021

Muslikin memulai budidaya tin dengan 30 pohon. Pohon indukan ini ditanam di kebun dengan luas 10 x 15 meter. Sempat berkembang menjadi sekitar 100 pohon indukan.

Namun pada 2021, sebagian tanah miliknya longsor dan dibeli untuk usaha industri. Tersisa sekitar 10 meter persegi saja yang masih ditanami indukan tin. Dari 100 pohon, tinggal 10 pohon yang ditanam dengan jarak 2-3 meter untuk pembibitan. “Ini masih sisa-sisa,” ujarnya. Dari 10 pohon ini, dalam satu bulan rata-rata ia bisa menghasilkan 50 bibit pohon tin.

Sistem cangkok juga dipilih Aris Pandan, warga Kelurahan Bulustalan, Semarang Selatan. Awalnya ia mencangkok pohon tin yang di tanam di kantor yayasannya. Satu bulan berlalu hasil cangkoknya sudah ditumbuhi akar yang kuat. “Saya hanya berdoa agar buah tinnya bisa tumbuh subur dan bermanfaat bagi orang lain,” katanya.

Setelah cangkoknya berhasil, Aris membawa satu polybag buah tin ke rumah. Ayah dari tiga orang anak ini menaruh polybag di depan rumahnya. Tanpa diduga, selama satu bulan dibiarkan di tanah, akar buah tin sudah menjalar kuat ke dalam tanah.

“Jadi awalnya itu nggak nglegewo (tidak memperhatikan, red). Di depan rumah itu kan ada tanah kosong. Saya hanya naruh satu polybag di sana nggak tak siram, nggak tak rawat tapi tumbuh subur. Sebelumnya ketika naruh buah tin itu saya hanya berdoa agar tanaman ini bisa tumbuh dengan baik, dan ternyata benar,” ceritanya.

Berawal dari ketidaksengajaan, kini buah tin yang dibudidayakannya dapat bermanfaat bagi orang lain. Waktu berbuah buah tin dari masa cangkok sekitar tiga bulan. Dalam sebulan pria berusia 38 tahun ini bisa menjual minimal 25 polybag.

Sedangkan Hermin Ismiyatun, warga Jalan Gergaji 1 RT 6 RW 5, Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan memilih menggunakan cara stek batang. Batang yang dipilih, langsung dipotong dan direndam sebentar dalam cairan fungisida. Tujuannya untuk mencegah timbulnya jamur pada tanaman.

“Tinggal ditancapkan di pot atau polybag yang sudah dicampur sekam, tanah, dan pupuk,” jelas Hermin yang berasal dari Kelompok Tani Mekar Tin ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Setiap ada batang pohon buah tin yang tua, dipotong kemudian distek untuk dijadikan bibit baru. Satu pohon dapat menghasilkan bibit baru untuk distek hingga 10 sampai 15 bibit. Batang pohon yang distek tidak langsung ditanam, akan tetapi diolesi lidah buaya sebagai obat penumbuh akar.

Baca juga:  Benahi Kantor Kelurahan, Perbaiki Layanan Publik

Bila batang stek diambil dari tanaman yang sudah pernah berbuah, lanjutnya, maka dalam 1-2 bulan pemilik akan memanen buahnya. Bila dari tanaman yang belum berbuah, maka baru dapat berbuah sekitar 4-6 bulan lamanya.

Selain dengan cara stek, kata Hermin, untuk menghasilkan bibit baru juga dilakukan dengan cangkok.  Namun cara ini jarang dilakukan, karena lebih mudah dengan cara stek. “Kegagalan cara stek hanya sekitar lima persen,” ujarnya.

“Bibit buah tin kemudian saya taruh di polybag. Setelah agak besar, saya ganti medianya dengan menggunakan pot agar pohon dapat berbuah,” tambahnya.

Pernah Gagal, Tapi Tak Menyerah

Hermin Ismiyatun bersama Kelompok Tani (Poktan) Mekar Tin Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan tak selalu sukses mengembangkan pohon tin. Sejak mulai mengenal tin pada 2018 silam, ia pernah dua kali gagal menjaga terus berkembang. Tapi tak membuatnya menyerah untuk terus mencoba.

“Kali pertama saya coba, sempat gagal. Setelah saya tanya ke teman, ternyata harus diolesi lidah buaya untuk perangsang tumbuhnya akar,” jelasnya.

Saat ini, pembibitan tin dihentikan sementara oleh Poktan Mekar Tin hingga musim kemarau tiba. Tanaman indukan milik mereka diserang hama. Jumlah warga yang konsisten membudidayakan buah tin juga berkurang. Tinggal lima orang saja. “Ini kan masih sering hujan, jadi sulit untuk tumbuh dengan musim sekarang,” katanya.

Selama membudidayakan buah tin, Hermin juga pernah mengalami putus asa ketika hama menyerang. “Diserang hama semacam kepik yang bertelur di bagian daun, banyak juga pohon yang akhirnya mati,” ceritanya sedih.

Namun ia tidak menyerah begitu saja. Daun yang terserang hama dipotong agar tidak menular ke daun yang lain. Hasilnya pun cukup bagus. Selang beberapa waktu, hama tidak menyerang lagi. Perawatan pohon buah tin sendiri cukup mudah, hanya mengatur kadar air agar tidak terlalu banyak. Bibit baru juga tidak boleh terkena air karena nanti akan mati.

Buah tin yang ia tanam ada tiga jenis warna, yakni merah, hijau, dan ungu. Saat ini Hermin masih mencari bibit buah berwarna kuning untuk dibudidayakan. Dua kali kegagalan yang dialaminya tak membuatnya berhenti mencoba. Hasil pembibitan tin milik Hermin sudah tersebar ke berbagai tempat. Salah satunya dibeli oleh istri wali kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi. (fgr/cr4/taf/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya