alexametrics

Banyak Order Luar Pulau, mulai Bali, NTT, hingga Aceh

Dari Hobi Fotografi, Kini Jadi Profesi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Sejak dua tahun terakhir, banyak orang meningkatkan imunitasnya dengan olahraga. Gowes termasuk paling menonjol. Di situlah Roy Saputra tertarik untuk mengambil foto.

Meski telah berkecimpung sejak 2007 di dunia fotografi, namun Roy Saputra baru menekuni dunia fotografi bidang olahraga saat masa pandemi Covid-19. Hal ini sejalan dengan munculnya tren gowes. Hal itu selaras dengan hobinya, yakni memotret dan gowes juga.

Ia mengaku, fotografi ini awalnya memang hanya sekedar hobi. Tapi lama-lama lumayan menguntungkan. “Sementara ini, fotografi adalah hobi yang jadi rezeki. Tapi bukan fokus utama,” ucapnya.

Makanya, ia lebih banyak melayani jasa memotret di berbagai event olahraga, terutama lari dan sepeda. Bukan hanya di Kota Semarang, Roy juga melanglang buana mulai Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Aceh. “Diminta dari pihak penyelenggara untuk foto, jadi by request,” ujarnya.

Baca juga:  Punya Hobi Berbeda, Lady Sepakat Berpisah

Menurutnya, dari sekian banyak objek, memotret olahraga bersifat dinamis. Gerakannya tidak bisa di-setting atau diatur seperti ketika memotret model. “Mulai dari start, hasil foto yang didapatkan pasti beda. Penuh ekspresi, ada mimik wajah, seperti mulai capeknya kelihatan. Jadi momennya banyak,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tantangannya mesti mengikuti gerak objek. Dari titik A ke B, tergantung kegiatannya. Ia harus mengambil momen dengan menaiki sepeda motor. Terkadang, ia butuh bantuan teman untuk membonceng. Namun, kadangkala ia juga turut naik sepeda mengingat ia juga memiliki hobi gowes.

Biasanya hasil foto yang ia jepret digunakan untuk promote event selanjutnya atau hanya foto highlight. Ada juga dari sekian peserta yang minta difoto untuk kenang-kenangan. Ada pula permintaan foto untuk produk iklan. Jasa ini, ia bandrol mulai dari Rp 1,5 juta untuk sekali sesi pemotretan. Nilai tersebut untuk 10-15 foto. Namun, dalam salah satu event, ia bersama tim pernah meraup untung Rp 15 juta.

Baca juga:  Intan Fikrianingsih Andalkan Kualitas, Tak Takut Disaingi

“Semua tergantung event seperti apa, sebesar apa, atau kita harus ngambil foto semua peserta atau hanya highlight-nya saja. Apakah event-nya rutin atau sekali saja,” jawabnya.

Selama menjadi fotografer olahraga, ada suka dan dukanya. Sukanya, dengan memotret olahraga bisa kemana-mana, traveling ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Sementara dukanya, di antaranya harus beradaptasi dengan scene dan background yang bermcam-macam. Ada kendala panas dan hujan. Kadangkala track-nya jauh. Berbeda dengan di Kota Semarang, ia sudah cukup hafal dan sangat bisa menyesuaikan. “Kalau di luar pulau itu, saya survei sebelum mereka jalan, biar tahu spot yang bagus,” jelasnya.

Roy menuturkan, untuk menghasilkan foto yang apik harus mengetahui basic foto itu sendiri. Kuncinya harus menguasai dan mengoperasikan kamera yang dipakai. “Dari tombol, settingan segala macam. Pemilihan lensa harus sesuai, mau tele atau wide harus paham betul,” terangnya. (ifa/ida)

Baca juga:  Aktivis lingkungan Kecam Pelaku ‘Pembunuhan’ Pohon

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya