alexametrics

Usai Evakuasi Mayat, Semalaman Tidak Doyan Makan

Para Penyusun Puzzle Bukti Kejahatan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Tak ada kejahatan yang sempurna. Setiap perbuatan kriminal selalu meninggalkan jejak, meski kadang tersamar atau sulit dipahami. Petugas unit Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis) Polri bertugas untuk menyusun potongan puzzle bukti kejahatan hingga bisa dibuktikan di pengadilan.

HAMPIR setiap bertugas, Ariyanto sering berhubungan dengan mayat. Kaur Inafis Polrestabes Semarang berpangkat inspektur polisi dua (Ipda) ini menjadi yang terdepan dalam menangani lokasi penemuan mayat. Sehingga, bau anyir, amis, dan bau busuk yang menyengat sudah menjadi “makanan” setiap harinya.

“Iya, itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari, karena berkaitan erat dengan tugas saya di Inafis Polrestabes Semarang. Tugas di Inafis itu juga bagian dari kemanusiaan,” ungkap Ariyanto kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sudah sekitar 3,5 tahun ia bertugas di bagian Inafis, tepatnya sejak Desember 2018. Pekerjaan Inafis, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengetahui penyebab awal kematian ataupun kejadian sebagai bahan penyelidikan, yang nantinya untuk pengungkapan oleh anggota Satreskrim. “Jadi banyak, bermacam-macam, ada olah TKP korban tabrak kereta, temuan mayat dan sebagainya,” katanya.

 REKONSTRUKSI : Salah satu tugas anggota ident Polres Magelang Kota adalah memimpin jalannya rekonstruksi suatu perkara. (ROFIK SYARIF G P/RADAR MAGELANG)

REKONSTRUKSI : Salah satu tugas anggota ident Polres Magelang Kota adalah memimpin jalannya rekonstruksi suatu perkara.
(ROFIK SYARIF G P/RADAR MAGELANG)

Olah TKP tidak hanya kasus temuan mayat dan korban berkaitan dengan jasad manusia. Namun olah TKP yang berkaitan dengan kasus pencurian maupun perampokan.

Baca juga:  Pemprov Jateng: Sabar, Pembangunan Jatidiri Belum Rampung

Banyak kisah ketika kali pertama bertugas di Inafis. Dari tidak doyan makan hingga tidak bisa tidur.

“Awal terjun ke Inafis, melihat hal itu ya gimana, enggak tega. Pernah pertama kali pengalaman olah TKP, tertabrak kereta sampai hancur tubuhnya. Itu mengambil (tubuh) untuk dikumpulkan. Setelah itu, sehari semalam sampai gak doyan makan. Masih terbayang-bayang rasa amis, dan sebagainya,” ceritanya.

Bukan hanya melihat, tapi juga menyentuh jasad manusia yang sudah dalam kondisi meninggal berdarah-darah, membusuk, hingga dikerubuti belatung. Namun, demikian, lama-kelamaan tugas tersebut berjalan dengan lancar karena sudah terbiasa.

“Ya, karena tadi, didasari jiwa kemanusiaan saling membantu, dan sudah menjadi tugas dan kewajiban. Jadi, bau busuk menyengat, amis, anyir, dikerubuti belatung itu sudah menjadi pemandangan yang biasa,” ujar ayah dua anak ini.

Tak hanya itu, untuk menjangkau tempat kejadian, Ariyanto bersama timnya juga harus menyusuri jalan setapak, pinggir sungai hingga di tengah hutan. Seperti halnya kejadian temuan mayat di bawah Jalan Tol Semarang-Solo baru-baru ini yang telah diungkap anggota Ditreskrimum Polda Jateng.

Baca juga:  Cerita Keeper Harimau Semarang Zoo, Kangen Kalau Tak Ketemu, Sedih Jika Sakit

“Yang di tol itu perjalanan untuk menuju ke TKP sampai 3-4 km. Menyusuri jalan setapak, semak-semak. Terus ada lagi, sampai 5 km, jalan setapak menyusuri sungai, hutan di wilayah Gunungpati,” katanya.

Meskipun demikian, ia tidak pernah mengeluh. Justru hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri baginya untuk membantu kepolisian dan pengungkapan temuan kejadian ini. “Paling terkesan, olah TKP temuan mayat di bawah jalan tol kemarin. Menjadi satu tantangan supaya terungkap dan pelakunya tertangkap,” akunya.

Tugas di Inafis, bisa dikatakan 24 jam, dan harus siap manakala sewaktu-waktu mendapat pelaporan adanya kejadian. Menurutnya, hal ini tidak menjadikan permasalahan juga di kalangan keluarganya. Sebab, sudah merupakan tugas dan kewajiban.

“Istri dan anak malah mendukung, jadi tidak ada masalah. Kita juga punya tugas masing-masing, anak belajar, istri juga punya kerjaan. Tinggal kita bisa mengatur waktu dengan keluarga dan selalu menjalin komunikasi. Kalau tidak ada kerjaan ya kita standbay,” jelas putra sulung dari tiga bersaudara pasangan H. Surathal dan Hj. Asmiyah ini.

Baca juga:  Mading Ajari Siswa Bijak di Medsos

Ariyanto juga mengakui, pernah terjangkit Covid-19. Namun tidak mengetahui asal usulnya tertularnya penyakit tersebut. “Saya sempat opname, tertular dengan gejala yang berat. Belum tahu tertular oleh siapa dan di mana? Kalau indikasi evakuasi jenazah, kita juga belum tahu, karena kan juga memakai APD,” katanya.

Menjadi anggota Polri juga sudah merupakan dari bagian cita-citanya. Terbesit cita-cita tersebut sejak duduk di bangku kelas dua di STM yang sekarang menjadi SMK Negeri 4 Semarang. Setelah lulus, Ariyanto mendaftar, pada 1990.

“Daftar polisi, ya pengen menjadi bagian abdi negara. Terus daftar, sampai tiga kali. Tahun 1990, lalu tahun 1991, baru berhasil tahun 1992. Terus pendidikan di Banyubiru (Kabupaten Semarang),” jelasnya.

Setelah lulus pendidikan di Banyubiru, Ariyanto ditempatkan sebagai anggota Sabhara Polda Jateng selama satu tahun. Terus pindah di Polrestabes Semarang, juga di Sabhara. Ia sempat bertugas di Satlantas Polrestabes Semarang.

“Kemudian di SPKT sampai 10 tahun. Terus di BagOps. Alhamdulillah tahun 2018, dapat sekolah perwira di Sukabumi. Terus di Inafis sampai sekarang,” jelas pria yang tinggal di Aspol Kalisari, belakang Mapolrestabes Semarang ini. (mha/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya