alexametrics

Gegara Medan Ekstrim, Bayi Sudah Keburu Lahir Duluan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, ADALAH Any Sulistyaningsih berangkat memenuhi panggilan. Ada ibu-ibu akan melahirkan. Gegara medan jalan yang ekstrim, ia terlambat. Sampai lokasi, bayi sudah lahir. Peristiwa itu mengendap di ingatan Any, meski sudah puluhan tahun yang lalu.

Iya, tentu saja Any sedikit merasa bersalah atas kejadian itu. Tapi siapa pula yang akan menyalahkannya jika yang dihadapi memang kondisi alam? Medan menuju lokasi memang ekstrim. Jalanan naik-turun, melewati lereng, dan jalan berbatu.

“Itu kejadian saat kali pertama saya jadi bidan. Ditempatkan di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Tepatnya di Desa Gumelem. Tahun 1993 silam,” tutur wanita yang kini berusia 48 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ditempatkan di wilayah pegunungan Kabupaten Pekalongan itu, kata Any, memang momok. Stigmanya, bagi para bidan baru kala itu, Petungkriyono ialah wilayah penempatan buangan. Boleh dibilang, mendapat penempatan di wilayah itu adalah mimpi buruk.

Baca juga:  Jelang Tutup Tahun, Kontraktor Kebut Proyek

“Kala itu listrik belum masuk wilayah itu. Masih pakai lampu minyak. Jangan bayangkan pula jalannya bagus seperti sekarang,” ucap wanita yang kini masih menjabat Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Pekalongan ini.

Meski begitu, yang ada di pikiran Any kala itu adalah tetap menjaga dedikasinya. Peristiwa sampai lokasi bayi sudah lahir itu menjadi salah satu monumen dalam benaknya. Any tetap menunaikan tugas dan tanggung jawabnya meski sedikit terlambat. Sebab ternyata plasenta bayi itu tak bisa lepas. Sang ibu butuh pertolongan.

Tapi herannya, lanjut Any, ibu itu tak mengalami pendarahan luar biasa. Dugaan Any, itu karena rata-rata fisik orang Petungkriyono memang kuat-kuat. Sebab sehari-hari jalan naik-turun pulang-pergi ke ladang. “Tapi tekanan darah si ibu ini rendah. Saking tak bisa lupa, saya bahkan masih ingat tekanan darahnya. Yakni 80/60,” tuturnya.

Baca juga:  Pembangkit Listrik Tenaga Surya Makin Diminati

Akibat plasenta yang tak bisa lepas, si ibu harus dirujuk ke rumah sakit. Saat itulah Any membuktikan dedikasinya. Ia memberikan pertolongan pertama. Memasang infus dan sebagainya. Warga sekitar membuatkan tandu untuk si ibu dengan barang seadanya. Sebab tak mungkin ibu itu harus berjalan turun melalui jalan bertebing.

“Ambulans sudah stand by di bawah. Tapi subhanallah, ibu itu bersikeras tak mau ditandu. Ia jalan kaki sampai bawah. Maka saya di sampingnya memegang infus,” ujarnya.

Sampai ambulans, tekanan darah ibu itu masih stagnan. Any terheran-heran. Menemani ibu itu sampai ke RSUD Kraton yang berlokasi di Kota Pekalongan. “Waktu itu belum ada RSUD Kajen. Bayangkan jauhnya seperti apa. Tapi Alhamdulillah semua baik-baik saja dan selamat,” ucapnya.

Baca juga:  Butuh Banyak Tenaga Medis, Rekrutmen Perawat dan Bidan Dipercepat

Cerita itu bukan satu-satunya yang paling Any ingat. Pernah malam-malam Any dijemput tukang ojek untuk menangani balita diare. Jalan menuju lokasi baru saja ada longsor. Karena jalan licin dan berbahaya, Any dan tukang ojek terpaksa memarkir motor lalu jalan kaki. Any dituntun tukang ojek itu saat menyebrangi bekas longsoran.

“Itu malam-malam. Saya berdua di tempat sepi begitu dengan tukang ojek itu. Tapi saya tidak kepikiran akan diapa-apakan. Baru kepikiran setelah beberapa tahun kemudian, kenapa saya waktu itu mau dan berani ya? Mungkin karena yang ada di pikiran saya, itu sudah tugas saya memenuhi panggilan,” tandas tenaga kesehatan yang kini bertugas di Puskesmas Kajen II ini. (nra/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya