alexametrics

Dibayar Kangkung, Pisang dan Terasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Bidan adalah tugas mulia. Apalagi jika ditempatkan di daerah terpencil yang jauh dari rumah sakit (RS), perannya sangat dinantikan masyarakat. Tak jarang para bidan harus naik gunung, menyeberangi sungai, melahirkan tengah malam, harus jalan jauh, pasien tidak punya uang, dibayar pakai sayuran, bahkan tidak dibayar. Perannya yang luar biasa selalu diperingati sedunia tiap 5 Mei.

30 tahun lebih, Istirochah mengabdikan hidup untuk menjadi bidan. Ia bekerja di RSUP Kariadi sekaligus membuka praktik di rumah sejak 1990. Lebih dari 8.000 bayi lahir berkat bantuannya.

Isti menceritakan, awal menjalani profesinya angka ibu melahirkan sangat besar. Setiap hari ia harus menangani belasan pasien. Bahkan satu sif jaga di rumah sakit menugaskan 11 tenaga kesehatan. Hal ini lantaran program Keluarga Berencana (KB) belum dicanangkan pemerintah secara masif.

Baca juga:  Waspadai Jalur Tengkorak, Perlu Jalur Penyelamat

Selain itu literasi kesehatan reproduksi dan gizi tergolong minim. Satu orang perempuan dapat melahirkan bayi berkali-kali dalam jarak berdekatan atau kurang dari 2 tahun. Tak lama kemudian terjadi krisis moneter. Perekonomian warga kelas menengah ke bawah semakin miris.

“Dulu banyak orang nggak punya uang, saya pernah dibayar pakai kangkung, pisang, terasi, dan lainnya,” ungkap Isti kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Salah seorang pasiennya tak mampu membayar. Ia hanya memiliki tanaman sayur kangkung di rawa-rawa halaman rumahnya. Isti pun menerima segala pemberian pasien sesuai kemampuannya.

Isti mengakui, sejak awal memilih terjun sebagai tenaga kesehatan bidan lantaran jiwa sosialnya. Ia ingin membantu masyarakat melahirkan tanpa terbebani biaya. Terlebih angka kelahiran yang tinggi kala itu.

Baca juga:  Pandemi Covid-19, IBI Sarankan KB Jangka Panjang

“Dari awal buka praktik emang mau bantu masyarakat, bukan semata-mata cari uang,” tegas Isti.

Pekerjaan sosial yang dijalaninya itu membuatnya senang sekaligus bangga dapat menolong kelahiran seseorang. Ada beberapa pasien yang sama, melahirkan berkali-kali di tempatnya.

Kelahiran satu keluarga dari anak pertama hingga kelima ditolong oleh Isti di tempat praktiknya. Bahkan anak pertamanya kini telah berkeluarga dan melahirkan di tempat Isti kembali. Dari seorang ibu sampai cucunya.

“Pokoknya mereka sudah seperti keluarga sendiri,” ucapnya.

Ia juga menghadapi banyak tantangan sepanjang perjalanan karirnya. Tahun 1990-an sering kali mendapati pasien dengan preeklamsi atau risiko tinggi kehamilan. Namun banyak di antaranya tak mau dirujuk ke rumah sakit.

Baca juga:  Insentif Tenaga Kesehatan di Dua RS Cair

Begitu pun fasilitas kesehatan hingga pengawasan pemerintah, dalam hal ini dinas kesehatan beserta kepanjangannya, belum semaju sekarang. Ia mengungkapkan pengalaman saat berlibur bersama keluarga harus mendadak pulang di perjalanan lantaran harus membantu proses lahiran.

Meski anaknya tak mengikuti jejak karirnya, keluarga sangat mendukung dan mengapresiasi pekerjaannya. Saat ini Isti juga sebagai dosen praktisi di empat perguruan tinggi di Semarang.

Lalu rutin melakukan pemeriksaan kanker serviks dan KB gratis pada hari Minggu. Ia berpesan agar masyarakat lebih memperhatikan kesehatan khususnya bagi ibu hamil dan balita. Kemudian rutin berperiksa. “Pokoknya untuk bidan-bidan, kita harus tetap semangat mendampingi masyarakat,” pungkasnya. (taf/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya