alexametrics

10 Tahun Tak Mudik Lebaran, Urus 35 Anak Cacat Ganda

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Mudik lebaran adalah momentum paling dinanti bagai orang-orang rantau. Terlebih, setelah berbulan-bulan bekerja. Rindu kampung halaman dan ingin berjumpa dengan keluarga selalu menggelayut. Sudah menjadi tradisi, Lebaran adalah waktu yang tepat untuk melepas rindu. Namun tidak demikian bagi para pengurus panti jompo dan panti anak-anak difabel.

Siapa sangka, momen kebersamaan itu tak bisa dirasakan oleh Aris. Salah satu pengasuh Panti Asuhan Cacat Ganda (Multiple Disabilities) Al-Rifdah asal Purwodadi. Waktu berharga yang seharusnya bertemu dengan keluarga, ia baktikan untuk mengurus anak-anak yang mengalami cacat ganda.

Panti asuhan yang terletak di Jalan Tlogomulyo nomor 35, Pedurungan Tengah, Pedurungan, Kota Semarang itu dihuni oleh 35 anak cacat ganda. Di antaranya, psikosis, autis hiperaktif, autis pasif, sindrom, trakeomalasis, buta, tunawicara, tunarungu, cerebral palsy, dan masalah rahang sehingga mengeluarkan air liur terus-menerus. Ditelantarkan. Di antara mereka ada yang ditemukan di jalanan. Bahkan bayi yang ditemukan di semak belukar. Kemudian diasuh dan dirawat oleh Yayasan Al-Rifdah.

Aris mengaku sudah sepuluh tahun tak mudik Lebaran. Setiap Lebaran, waktunya selalu digunakan untuk mengurus anak cacat ganda. Biasanya bersama dengan enam orang temannya. Kendati demikian, ia diizinkan untuk pulang ke kampung halaman tujuh hari setelah Lebaran.
“Sebenarnya ada rasa sedih. Gak bisa berkumpul dengan keluarga. Tapi masih bisa diobati dengan video call,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ibu-ibu pengasuh di Yayasan Al-Rifdah adalah wanita luar biasa. Merawat anak asuhnya seperti anak sendiri. Bersama keenam rekannya, ia harus mendampingi anak cacat ganda selama 24 jam. Mulai dari memandikan, menyebok, menyuapkan makanan, sampai mengganti popok. Sebab para penyandang multiple disabilities tidak bisa melakukan hal itu sendiri. “Bahkan ada salah satu yang tidak punya tulang belakang. Harus lima orang yang mengangkat,” imbuhnya.

Baca juga:  Puncak Arus Mudik Terlewati, Traffic Penumpang Kereta Api Masih Tinggi

Meskipun tidak bisa merayakan Lebaran di rumah, Aris bersama rekannya bisa salat Id di masjid terdekat. Masih disempatkan pula untuk membuat ketupat dan opor ayam. Supaya euforia Idul Fitri lebih terasa. Ia juga mengaku, pihak keluarga sudah rela dan tidak mempermasalahkan ketika dirinya tidak mudik.

Bagi Aris salah satu hal yang menyulitkan adalah mengatasi anak cacat ganda yang sedang sakit atau mengamuk. Biasanya berteriak keras sambil mendobrak sel besi hingga bersuara. Ia tahu betul, cara menghadapinya dengan mendiamkan dan menenangkannya dahulu. Kemudian memberikan sesuatu yang disukai. “Biasanya camilan, buah, makanan pedas, atau keripik,” terangnya.

Setiap hari kemauannya berbeda-beda. Sehingga mengharuskan Aris dan kawan-kawannya terus mempelajari kemauan anak-anak cacat ganda.

Meskipun mengalami kesulitan, terkadang anak-anak cacat ganda membuatnya tersenyum dan terhibur. Aris mengaku bahagia ketika melihat anak-anak sehat, senang, dan ceria.

Pengasuh lainnya Paula Nene mengungkapkan perilaku anak penyandang multiple disabilities tergolong labil. Ada kalanya merasakan senang, tapi tiba-tiba marah, lalu memukul temannya. Ada beberapa yang bisa berkomunikasi dan bisa menangkap maksud lawan bicara.
“Jadi yang mampu bicara, yang hanya mental retardasi. Ada juga yang tuna wicara atau tuna rungu bisa. Kalau kita panggil atau melakukan kontak dia tersenyum,” pungkasnya.

Relakan Lebaran di Panti, Demi Menjaga Tante Sang Majikan

Karena tuntutan pekerjaan, libur Lebaran tak bisa hanya bisa dinikmati bersama rekan kerja. Salah satunya adalah Masnun, perawat lansia di Panti Werda Elim Semarang yang tak dapat mudik seperti masyarakat pada umumnya.

Baca juga:  Obat Kuat Marak Dijual di Toko Pinggir Jalan, Online, hingga Medsos

Kampung halaman Masnun cukup dekat, yakni di Kota Demak. Lantaran permintaan dari majikan untuk menjaga tantenya, dirinya tak bisa pulang kampung. Apalagi sang majikan sedang menjalani pengobatan yang mengakibatkan Masnun harus merelakan Lebarannya dengan tetap menjadi perawat.

“Bos saya itu sampai nangis-nangis tidak mengizinkan saya untuk mudik Lebaran. Jadi saya merasa kasihan sama bos saya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang saat ditemui di Panti Werda Elim Semarang.

Masnun sudah menjadi perawat di Yayasan Pelkris kurang lebih tiga tahun. Yakni selepas kepergian sang suami dan baru tujuh bulan menjadi perawat di Panti Werda Elim. Sebelum menjadi perawat di Semarang, ia sempat menjadi perawat lansia di Kota Manado, bahkan pernah sampai ke Arab Saudi. Selama tiga tahun ini pula, ia tak pernah pulang untuk merayakan Lebaran di kampung halaman
“Ini sudah ketiga kalinya saya tidak mudik Lebaran, Mas. Kalau dua tahun sebelumnya, karena saya kerja di luar pulau, bahkan luar negeri. Jadi pulangnya menunggu kontrak kerja saya habis,” ujarnya

Sempat menolak ketika tahun ini akan ditempatkan di Kota Batam. Ia berusaha mencari tempat atau panti lain yang sekiranya dekat dengan kampung halaman. Hal itu hanyalah harapan. Benar ia mendapatkan tempat yang dekat dengan kota asalnya. Namun permintaan dari sang majikan membuatnya tak dapat merayakan Lebaran. Ia sempat kecewa karena tak bisa mudik. Tetapi begitu melihat kondisi majikannya, membuatnya ikhlas.

“Saya aslinya mau ditempatkan di Batam. Terus saya nolak, karena kalau dapat (kota) jauh lagi, tidak bisa mudik Lebaran. Eh pas dapat yang dekat, ternyata tetap tidak bisa mudik. Tapi tidak apa-apa, setelah hari raya semoga bisa pulang,” ujar ibu 48 tahun ini.

Baca juga:  Pasar-Pasar di Semarang Ini Justru Sepi Setelah Direvitalisasi

Ibu satu putri ini mengaku, momen berkumpul dengan anak dan keluarga menjadi hal yang membahagiakan baginya. Namun ketika tidak dapat merayakan, ia biasanya melakukan video call untuk sekadar melepas kangen. Saat Lebaran dulu, biasanya ia membuat ketupat dan lontong opor yang disantap bersama-sama dengan keluarga dan saudara-saudara yang lain.

Meski begitu, ia tak pernah pernah pulang sendiri ke kampungnya yang berada di Demak saat Lebaran. Ia biasanya menunggu untuk dijemput oleh ponakan. Sebab ia merasa takut tersesat ketika pulang seorang diri. “Saya takut, tidak bisa pulang sendiri, khawatir nanti hilang. Jadi biasanya menunggu ponakan untuk menjemput,” imbuhnya.

Selama tujuh bulan mengabdikan diri menjaga lansia, dirinya tak pernah merasa kesulitan. Meski terkadang permintaannya aneh-aneh, ia tetap sabar menjalankan tugasnya. Selain itu, teman-teman perawat lainnya juga senantiasa membantu ketika ia merasa kesulitan.

Ia hanya ditugasi untuk menjaga satu orang lansia saja. Karena ia merupakan perawat pribadi dari Yayasan Pelkris yang ditunjuk langsung oleh majikannya untuk merawat saudara dari sang majikan. Tugas yang ia lakukan sebagai perawat adalah memandikan pasien, mennyuapi, hingga mengajak ngobrol.

Panti Werda Elim terletak di Jalan dr Cipto nomor 132 Semarang. Menampung kurang lebih 53 orang lansia. Usianya berkisar antara umur 60 hingga 90 tahun. Jumlah pengurus sekitar 38 orang, 17 di antaranya adalah perawat. Setiap perawat mengurus satu hingga enam lansia. (cr3/cr6/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya