alexametrics

Tergerus Zaman, Nasib Becak Kayuh Semarang di Ujung Tanduk

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Becak merupakan moda transportasi yang dulu sangat umum dan mudah ditemui di jalanan Kota Semarang. Namun kini, seiring perkembangan zaman, keberadaan becak semakin terpinggirkan. Kalaupun ada jumlahnya tak sebanyak era 90-an.

Semakin banyak alternatif transportasi yang lebih efisien, membuat becak terlupakan. Yang paling terdampak tentu para pengayuh becak. Pak Man dan Sumarno contohnya. Kedua tukang becak tersebut harus bersaing dengan beragam transportasi kota yang saat ini semakin modern.

Pak Man sudah menjadi tukang becak selama kurang lebih 17 tahun. Sedangkan Sumarno lebih lama lagi, dia sudah menjadi tukang becak sejak tahun 1983. Mereka bercerita bahwa dulu di saat becak masih ramai peminat, mereka bisa mendapatkan kurang lebih Rp 50.000 per hari.

Baca juga:  Peziarah ke Makam KH Muntaha Alh Tak Pernah Surut

Namun di kondisi seperti sekarang ini, satu penumpang pun belum tentu bisa mereka dapatkan dalam satu hari. “Terutama setelah ada ojek online, penumpang hilang,” ujar Pak Man.

Hal itu kata Pak Man diperparah denagn situasi pandemi Covid-19 yang mengakibatkan pelanggan tetap mereka berhenti.”Dulu biasanya disuruh antar-jemput anak sekolahan atau antar-jemput orang ke gereja, biasanya dua sampai tiga orang. Tapi gara-gara korona, pelanggan saya sudah tidak ada lagi karena tidak boleh kemana-mana,” keluhnya.

Meskipun di era sekarang becak sangat sepi peminat, namun mereka juga sudah tidak memiliki pilihan lain selain mengayuh becak, “Mau cari kerjaan lain juga tidak ada,” ujar Pak Man.

Untuk sekarang, Pak Man mematok tarif Rp 10.000 untuk satu orang penumpang, sedangkan Rp 15.000 untuk dua orang penumpang.

Baca juga:  Dulu Layani Pabrik Gula, Kini Tersisa Fondasi Jembatan

Kepemiliki becak kayuh sendiri beragam. Ada yang menggunakan sistem kontrak, sewa per hari ataupun milik sendiri. Sumarno sendiri mengaku memiliki becak dengan sistem kontrak selama 2,5 tahun, sedangkan Pak Man menggunakan becak pribadi yang dibeli seharga Rp 600.000 pada sekitar tahun 2000 awal.

Mulai terpinggirnya becak juga membuat sejumlah bengkel atau pembuat becak berguguran. Jawa Pos Radar Semarang menemui pemilik bengkel becak Dua Hati, Kardono. Bahkan bengkel Dua Hati milik Kardono tsudah tidak membuka jasa servis dan membuat becak sejak dua tahun yang lalu.“Terakhir saya hanya bikin becak hias dari Jakarta sekitar enam bulan yang lalu,” bebernya.

Tutupnya bengkel Dua Hati kata Kardono tak lepas dari mahalnya harga sparepart becak. Dia mencontohkan harga velg dan per bisa memakan harga sekitar Rp 2 juta. “Harga velg becak sekarang sudah lebih mahal dari velg motor, makanya orang sudah tidak minat untuk membuat becak. Untuk sekarang, harga untuk pembuatan becak kurang lebih seharga Rp 6.000.000 dan itupun hanya mendapat untung tipis,” terangnya.

Baca juga:  Berburu Nasi Pecel Semarangan, Pasarnya Menengah Atas, Pembeli Tak Hanya dari Semarang

Pada saat bengkel Dua Hati sedang ramai pesanan, Pak Kardono juga sempat menerima pesanan becak untuk dikirim ke luar negeri, “Dulu pernah disuruh membuat becak satu kontainer dan dikirimkan ke Amerika, dan juga pernah membuat becak untuk dikirim ke Belanda untuk kegunaan pariwisata,” bebernya. (mg1/mg2/mg3/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya