alexametrics

Terkesan Masyarakat Semarang, Khusuk dalam Berdoa dan Serius Berpuasa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Ada banyak mahasiswa asing yang mengenyam pendidikan di kampus Unissula. Ada yang dari Thailand, Libya, Malaysia, Filipina, Bangladesh, dan Belanda. Namun selama pandemi Covid-19 mereka pulang ke negara masing-masing. Tapi tahun 2019, mereka sempat merasakan Ramadan di Semarang.

Salah satunya, Kittiya Boroheem, mahasiswi asal Thailand ini sudah tiga tahun mengenyam pendidikan di Fakultas Bahasa dan Ilmu Komunikasi, Jurusan Sastra Inggris di kampus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Kittiya -sapaan akrabnya- pernah melakukan ibadah puasa di Semarang dua sampai tiga kali bersama teman Indonesia dan teman asal Thailand. “Saya sudah pernah puasa sunah dan puasa wajib dalam Ramadan pada tahun 2018 sampai 2019. Lalu pulang pada 2020 karena pandemi Covid-19,” katanya via pesam whatsapp.

Diakuinya, ia sangat terkesan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Makanan mudah ditemukan dan semuanya halal. Selain itu, puasa dilakukan bersama-sama, bahkan serius dalam salat dan berdoa. “Saya terkesan dengan ibadah bersama di Indonesia,” katanya.

Baca juga:  Layani Vaksin Usai Tarawih

Makanya ia selalu bersabar dan melewati perasaan rindu rumah. Sekarang ada banyak teknologi untuk berkomunikasi. Misalnya, video call, sehingga tidak ada masalah dalam berkomunikasi dengan keluarga. “Karena saya datang untuk melakukan perbuatan baik jauh dari rumah, tentu ini berkah dalam hidup saya,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa lain asal Libya, Ashref Khalil, mengaku dia pernah tinggal di Semarang selama 16 bulan pada tahun 2019 sampai 2020 lalu. Mahasiswa Magister Tehnik Elektro Unissula ini pernah menjalankan ibadah puasa di Indonesia pada tahun 2019. “I’m fasting one time in Semarang (saya pernah berpuasa di Semarang satu waktu),” katanya.

Selama menjalankan ibadah puasa Ramadan, ia melakukan kegiatan salat, berdoa, memohon ampunan kepada Allah SWT, membaca Alquran, dan berkeliling di Indonesia. Diakuinya, berpuasa di Indonesia lebih pendek waktunya, hanya 13 jam dalam sehari. Sedangkan di Libya ia berpuasa selama 15 jam. “Fasting in Libya now around 15 hour (puasa di Libya sekarang 15 jam),” kata pria 23 tahun ini.

Baca juga:  Dihantui Banjir Sungai Beringin

Berpuasa Ramadan jauh dari keluarga, sempat dirundung rasa sepi. Meski begitu, melakukan ibadah Ramadan di Semarang sangat spesial. Ada banyak teman dari Libya di Indonesia. “Because there are special friends there (karena di sana ada teman spesial),” jelasnya.

Hampir setiap hari, dirinya bertemu dengan teman-temannya di kafe, mal, atau di rumah temannya. “Indonesia is beautiful country, especially Semarang. Semarang, calm, rest, and nice people (Indonesia adalah negara yang indah, khususnya Semarang. Semarang tenang, damai, dan masyarakatnya ramah),” tuturnya.

Koran ini melakukan wawancara dengan Ashref yang berada di Libya melalui whatsApp. Saat ini, ia tidak melakukan ibadah puasa di Semarang, karena masih dalam masa pandemi Covid-19 harus kembali ke negaranya. Perkuliahan dilakukan secara daring.

Baca juga:  Ular Piton Baunya Mirip Kotoran Burung Blekok, Ular Pelangi Mengeluarkan Aroma Bawang Merah

Sementara itu, Wakil Rektor III Unissula, Bidang Kemahasiswaan dan Alumni dan Penerapan Nilai-nilai Islam, Muhammad Qomaruddin, menjelaskan, di Unissula terdapat UPT Kerja Sama Internasional. Unissula melakukan kerjasama internasional dengan enam negara, yakni Thailand, Libya, Malaysia, Filipina, Bangladesh, dan Belanda.

Pada 2019, mahasiswa asing melakukan Ramadan di Selmarang. Ada banyak kegiatan, mulai Tarhib Ramadan untuk menyambut Ramadan. Selain itu, terdapat buka bersama dan mengaji bersama di masjid. Namun, tahun 2020 dan 2021 sudah ada pandemi Covid-19, mereka pulang ke negara masing-masing. “Waktu itu ada delapan mahasiswa,” katanya.

Diakuinya, jika tahun depan perkuliahan bisa berjalan offline di Unissula, maka mahasiswa asing bisa menjalankan aktivitas Ramadan di Unissula lagi. “Kami beruasaha menjaga keselamatan dan kesehatan mahasiswa, makanya menganjurkan mereka pulang ke negeranya masing-masing,” katanya. (fgr/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya