alexametrics

Angkutan Kota Nasibmu Kini, Biaya Bensin Rp 50 Ribu, Pendapatan Hanya Rp 20 Ribu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Angkutan kota (angkot) warna orange di Kota Semarang pernah mengalami masa kejayaannya. Namun kini mulai ditinggalkan masyarakat seiring kemudahan transportasi online, Trans Semarang yang dikelola Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, dan Trans Jateng yang dikelola Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng.

Sejumlah angkot pada Rabu (30/3) lalu, berjejer di depan Pasar Karangayu. Sebagian besar angkot tersebut kosong tanpa penumpang. Dalam kurun waktu 20 menit, hanya ada satu penumpang yang naik.

Didik Utomo, 59, pengemudi angkot mengatakan, persaingan dengan ojek online membuat peminat angkot semakin menurun. Ia hanya mengandalkan ibu-ibu pasar atau anak-anak sekolah yang setia dengan angkotnya. Rute angkot yang ia lalui adalah Pasar Karangayu sampai Terminal Penggaron.

“Ini lho Mas, dari pagi cuma dapat (untung) Rp 14.000 habis untuk beli bensin. Ini nanti nggak tahu bisa nutup setoran atau tidak,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Sebelum menjadi sopir angkot, dirinya merupakan sopir taksi. Ia memilih bertahan menjadi sopir angkot karena faktor usia. Selain itu, persaingan dengan anak-anak muda membuatnya minder untuk mencari pekerjaan lain.

Didik mengatakan, dahulu jumlah sopir angkot masih banyak, namun semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, mulai banyak yang beralih profesi. Ada yang menjadi ojek online, ada yang menjadi sopir BRT, dan ada yang memilih berjualan di rumah.

Ia mengaku, dalam sehari tak dapat menutup uang setoran. Dirinya mencari pinjaman agar mencukupi pendapatan hari itu. “Kadang kalau nggak nutup, saya sampai nyari utangan, Mas. Kalau nggak gitu, besok nggak bisa narik lagi,” bebernya

Senada dengan Didik, sopir angkot lainnya Mulyadi sangat merasakan kondisi angkot yang semakin ditinggalkan masyarakat. Padahal sebelum datang transportasi online, setiap hari bisa setor dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ditambah dengan kondisi pandemi, memperparah keadaan ekonominya.

Baca juga:  Bertekad Jadi Petani Sejak SMA, Omzet Capai Rp 250 Juta Sebulan

Ia mengaku, saat ini untuk mendapatkan penumpang semakin sulit. Tidak bisa ditebak, setiap jalan hanya ada satu atau dua penumpang saja. Jika kondisi terus seperti itu, tak cocok dengan biaya operasional bensinnya. “Pulang pergi rute itu butuh bensin Rp 50.000. Terkadang pergi saja hanya bisa mendapatakan Rp 20.000. Kan gak balik modal. Belum lagi mikir setoran,” tuturnya

Dirinya heran, selama ini kondisi angkot semakin terpinggirkan. Trayek yang mati saja harus melakukan perpanjangan, KIR mati bisa ditangkap Dishub. Selain itu pemerintah mengizinkan transportasi online beroperasi untuk mengangkut penumpang. Menurutnya, kendaraan plat hitam seharusnya tidak boleh digunakan untuk transportasi umum. “Seharusnya kan plat kuning seperti sopir dan trayek. Kok plat hitam dipakai buat ngompreng,” keluhnya.

Rusmini, 60, salah satu pedagang buah di Pasar Karangayu yang saat ini masih menggunakan jasa angkot. Baginya, angkot masih dibutuhkan untuk pulang dan pergi dengan barang dagangannya yang banyak. “Enaknya angkot itu, bisa membawa bersama barang yang banyak. Bisa sampai ke jalan menuju rumah,” ujarnya.

Soal tarif angkot, dirinya mengaku sama saja dengan yang lain. Jika naik BRT memang murah, tapi harus naik ojek untuk bisa pulang ke rumahnya, Gunungpati. Dirinya juga tak pernah menggunakan jasa transportasi online. “Seringnya memang naik angkot. Karena sudah lama dan terbiasa. Kalau yang online-online itu nggak mudeng,” pungkasnya.

Rangkul Sopir Angkot Jadi Sub Feeder

Kondisi angkot di Kota Semarang semakin hari memprihatinkan. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang pun berusaha mempertahankan dan menjamin keberlangsungan angkot yang tersisa. Salah satunya dengan menggaet angkot dalam proyek sub feeder.

Sekretaris Organda Tino Widardo mengonfirmasi, kondisi angkot di Kota Semarang saat ini memang pada fase kembang kempis. Hidup segan mati tak mau. Jumlahnya semakin berkurang dari tahun ke tahun. “Sebelum 2016 itu ada sekitar 2.500 unit. Sekarang hanya tersisa sekitar 700 unit,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang saat ditemui di kantor Organda Jalan Sendowo, Purwodinatan, Semarang Barat (31/3).

Baca juga:  Dua Pegawai DLH Kabupaten Magelang Tersangka Korupsi Dana Operasional BBM

Penyebab utamanya adalah adanya persaingan dengan transportasi online. Keberadaannya memberikan dampak yang besar pada surutnya perkembangan angkot. Bahkan, dari jumlah angkot yang berkurang, sebagian beralih ke transportasi online. Pasalnya, animo masyarakat cenderung kepada transportasi online. “Aksesibilitasnya kan lebih mudah. Bisa menjangkau lokasi pelosok, bahkan sampai depan rumahnya,” ucapnya.

Saat ini, kata dia, para sopir angkot hanya mengandalkan langganan. Kalau tidak karyawan pabrik ya ibu-ibu pasar. Terkadang juga anak sekolah. Orang-orang kantoran saat ini lebih memilih taksi online. “Pada area yang tidak dilewati aktivitas masyarakat, sopir angkot sangat sulit mendapatkan penumpang,” imbuhnya.

Meski demikian, bagaimanapun kondisi angkot saat ini tetap bertahan. Bukan perkara mudah memang. Menginjak usia senja, satu-satunya jalan adalah bertahan menjadi sopir angkot. Peluang untuk mencari pekerjaan lain sangat kecil. Karena banyak diisi oleh orang muda. Apalagi hanya memiliki kemampuan menyopir angkot.

Padahal, lanjut Tino, angkot menjadi salah satu motor penggerak di Semarang. Menjadi pioner pelayanan masyarakat dalam hal transportasi. “Jangan sampai mereka lepas dan gulung tikar apalagi punah,” harapnya.

Pihaknya telah memiliki proyek dengan Trans Semarang. Rencananya ingin membuat sub-feeder untuk angkot. Fungsi sub-feeder ini menjadi penghubung antara masyarakat yang ingin menggunakan Trans Semarang. “Yang mengelola dan pemilik sub feeder angkot nanti ya pengusaha angkot,” sambungnya.

Selama ini ia sering mendapat keluhan dari sopir angkot terkait setoran yang tidak menentu. Namun dengan adanya proyek sub feeder ini, sopir angkot akan memiliki pendapatan yang jelas dan pasti. Dengan begitu, dapat meningkatkan kualitas kesejahteraan bagi supir angkot. “Karena sub feeder ini dibiayai oleh APBD. Semoga bisa meningkatkan standar kualitas kesejahteraan supir angkot. Kita rangkul semua sopir angkot,” katanya.

Baca juga:  Bayi Jadi Anak Sepersusuan, Harus Tetap Jaga Silaturahmi

Proyek sub feeder ini, angkot akan diberi rute pinggiran kota, sehingga tak ada lagi angkot yang beroperasi melewati jalan protokol dalam kota. Jika sebelumnya masyarakat ketika ingin mengakses BRT berjalan kaki dulu mencari shelter terdekat, maka dengan adanya sub feeder cukup berjalan ke depan rumah. Angkot sub feeder akan menjemput di depan rumah.

Dishub Ingin Rangkul Semua

Sementara itu, Kabid Angkutan Umum Dishub Kota Semarang, Dede Bambang Hartono menjelaskan, pihaknya saat ini masih melakukan kajian untuk mengembangkan angkutan perkotaan dengan menggandeng organda. Terkait rencana dan permintaan organda menjadikan angkutan umum sebagai sub feeder pihaknya masih melakukan kajian lebih lanjut.

“Kami masih kaji dulu dan matangkan. Intinya Dishub tidak ingin menggusur, melainkan merangkul sehingga tidak ada yang dirugikan,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Pihaknya menjelaskan, trayek angkutan kota saat ini tetap memperlihatkan semua komponen yang ada. Misalnya angkutan kota yang sudah mati akan dihidupkan lagi dengan kajian trayek yang dilakukan Dishub Kota Semarang. “Untuk sub feeder kami dan organda berencana merangkul rekan pelaku transportasi yang sudah ada untuk bergabung,” tambahnya.

Kajian trayek juga dilakukan dengan pihak organda, misalnya mengaktifkan lagi trayek yang mati ataupun wilayah yang belum ter-cover ataupun sepi. Yang jelas, kata dia, Dishub akan menampung semua angkutan yang sudah ada, entah itu angkutan umum, taksi, ataupun Trans Semarang.

“Adanya SK Wali Kota terkait bus AKDP dan AKAP yang wajib masuk Terminal Mangkang, maka harus ada angkutan yang mengover. Kami harus fasilitasi semuanya,” pungkasnya. (cr3/cr6/den/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya