alexametrics

Waspadai Jalur Tengkorak, Perlu Jalur Penyelamat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Sejumlah jalan turunan di Jateng dikenal sebagai jalur tengkorak. Di tempat ini kerap terjadi kecelakaan. Baik rem blong maupun kendaraan berat yang tidak kuat menanjak hingga nggelondor menimpa pengguna jalan lainnya. Bahkan, tak sedikit yang sampai menelan korban jiwa.

Jalan turunan Silayur, Kecamatan Ngaliyan, termasuk jalur tengkorak. Di lokasi tersebut kerap terjadi kecelakaan. Tidak hanya korban luka, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Rata-rata kejadian di lokasi tersebut disebabkan kendaraan mengalami rem blong.

“Rata-rata rem blong. Biasanya itu kendaraan-kendaraan besar. Truk trailer dan kontainer gitu. Melaju dari arah atas (Mijen/BSB), turun, gak tahu kenapa tiba-tiba mengalami rem blong,” ungkap Muslikin, warga sekitar kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (27/3).

Menurut pria yang menjadi “Pak Ogah” ini, peristiwa lakalantas tidak hanya di jalan menurun. Tetapi juga dari arah bawah (Ngaliyan) lantaran kendaraan tak kuat menanjak.

“Arus kendaraan di sini padat. Kalau kecelakaan biasanya beruntun,”katanya.

Peristiwa kecelakaan terbaru terjadi Rabu (9/3) pagi lalu. Sebuah truk kontainer bermuatan mebel seberat 10 ton mengalami kecelakaan tunggal. Truk tidak kuat melintas di tanjakan Silayur. Hingga menyebabkan truk nggelondor ke belakang, dan berhenti melintang di tengah jalan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Sebelumnya, pada Kamis (9/12/2021) tahun lalu, sebuah truk trailer warna oranye terlibat kecelakaan dengan truk yang melaju dari arah BSB menuju Ngaliyan mengalami rem blong. Truk baru berhenti setelah menabrak pantat truk molen yang melintas searah di seberang RS Permata Medika. Tidak ada korban jiwa. Tapi sopir truk trailer terjepit kabin.

“Pernah sekali saya melihat ada truk dari atas mengalami rem blong sampai depan RS Permata Medika. Untungnya truk nabrak bokong truk molen. Jadi, gak sampai nabrak kendaraan lain, dan tidak ada korban jiwa,” bebernya.

Kecelakaan beruntun pernah terjadi di turunan Silayur. Tabrakan beruntun melibatkan truk tronton dan empat kendaraan, Kamis (25/2/2021) malam. Dalam kejadian ini, seorang meninggal. Penyebabnya, lantaran truk tronton diduga mengalami rem blong.  ‘Iya, itu juga parah. Kendaraan kalau dari atas kan kencang. Yang dari bawah juga kencang,” jelasnya.

Baca juga:  Berburu Nasi Pecel Semarangan, Pasarnya Menengah Atas, Pembeli Tak Hanya dari Semarang

Selain Silayur, turunan Jalan Abdul Rahman Saleh, Manyaran juga tergolong rawan kecelakaan. “Penyebab utama rem blong. Kebanyakan dialami mobil-mobil tua. Kejadian terakhir satu mingguan lalu, dari arah selatan meluncur truk, kemudian terguling di tikungan itu. Hampir masuk ke rumah warga. Untung tidak ada korban,” kata pedagang, Poniman.

Jalan turunan Manyaran  itu kondisinya menurun dan berkelok. Jalan menurun itu selepas rumah dinas wali kota Semarang hingga SPBU Manyaran. Tikungan paling tajam di dekat SMP Negeri 19 Semarang.

“Tikungan SMPN 19 itu sering terjadi kecelakan. Kurang lebih lima kejadian. Tapi sekarang jarang. Ya kalau motor kecil-kecil ya sering. Pengendara sepeda motor paling anak-anak mabuk,” jelasnya.

Menurutnya, kejadian paling besar terjadi melibatkan enam kendaraan, tepatnya di samping swalayan Ramai Manyaran, Rabu (10/1/2017) sore. Kecelakaan ini menyebabkan dua orang meninggal.

“Yang kejadian besar itu truk tronton mengalami rem blong. Nabrak motor dan mobil. Ada yang meninggal. Setelah kejadian ini, ada larangan truk besar jarang masuk ke sini. Tapi sekarang sudah ada lagi truk besar masuk ke sini,” bebernya.

Menurutnya, kendaraan besar tersebut keluar dari kawasan Industri di Kecamatan Ngaliyan. Sebelum ada kawasan tersebut, lokasi jalan ini tidak pernah dilintasi kendaraan berat.

“Rata-rata truk besar dari Kawasan Industri Gatot Subroto, yang bagian selatan lewatnya sini. Biasanya kalau dari kawasan ya setelah bongkaran, jam 3 sampai 4 sore,” katanya.

Jalan menurun lainnya yang menjadi jalur tengkorak adalah kawasan Sigar Bencah, Bulusan, Tembalang dan turun Watugong hingga Terminal Banyumanik. Sudah tak terhitung kecelakaan terjadi di jalur ini. Rata-rata penyebabnya adalah rem kendaraan yang mengalami blong.

Jalur Kledung-Kertek

Jalan Nasional Sindoro-Sumbing juga terkenal sebagai salah satu jalan yang paling rawan kecelakaan kendaraan di Wonosobo. Memiliki jalur turunan sepanjang 9 kilometer, jalan tersebut sering disebut sebagai jalur tengkorak.

Baca juga:  Obati Stres dengan Berwisata

Penyebutan nama tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, hingga saat ini sudah puluhan kecelakaan yang terjadi di jalur tersebut. Nahasnya, dalam setiap kecelakaan yang terjadi, bisa dipastikan akan membawa korban jiwa.

Seperti peristiwa yang baru terjadi pada Jumat (25/3) pekan lalu. Kecelakaan tunggal terjadi setelah truk pengangkut pupuk mengalami rem blong dan masuk ke jurang sedalam 20 meter. Sopir dan kernet truk asal Kabupaten Rembang itu dinyatakan meninggal di tempat.

Dari data yang disampaikan  Polres Wonosobo menyebutkan, dalam tiga bulan di tahun 2022 ini, sudah ada tiga kecelakaan yang terjadi. Empat orang meninggal dan beberapa orang harus dilarikan ke rumah sakit.

Kasalantas Polres Wonosobo AKP Sugito membenarkan jika jalur Kledung-Kertek ini merupakan salah satu jalur utama yang paling rawan terjadi kecelakaan. Utamanya karena ada jalur sepanjang 9 kilometer yang menuruni lereng Gunung Sindoro dan Sumbing.

Kecelakaan tersebut, menurutnya, sering melibatkan kendaraan bertonase besar. Lantaran mengalami masalah pada rem yang tiba-tiba tak berfungsi saat menuruni jalur tengkorak itu. Sehingga sopir hilang kendali, dan menyebabkan kecelakaan berulang terjadi di wilayah itu.

“Hasil catatan kami, kecelakaan yang sering terjadi itu karena memang kondisi sopir yang baru kali pertama ke Wonosobo. Sopir dari luar kota dan kurang paham medan yang dilalui,” terang AKP Sugito saat dikonfirmasi baru-baru ini.

Menurut Sugito, bagi sopir yang sudah berpengalaman melalui jalur tersebut pasti sudah paham dengan apa yang harus dilakukan. Biasanya para sopir akan berhenti terlebih dahulu di rest area yang di sediakan di perbatasan Kledung, Temanggung.

“Itu dilakukan agar kendaraan bisa istirahat terlebih dahulu. Sekaligus melihat kendaraan yang dibawanya sedang bermasalah atau tidak. Makanya seringkali ada laka itu terjadi pada sopir yang baru pertama datang,”ujarnya.

Padahal, menurutnya, di sepanjang jalur tersebut sedikitnya sudah ada dua rest area dan satu jalur penyelamat. Serta ratusan imbauan untuk mengurangi kecepatan saat akan menuruni lokasi itu.

Baca juga:  Museum Bubakan Dilengkapi Polder, Sclupture, dan Jembatan Kaca

Selain imbauan, upaya pembenahan untuk mengatasi persoalan tersebut. Mulai memasang garis batas, memasang kembali lampu penerangan, membenahi jalur penyelamat dan melebarkan jalan. Sayangnya, hal itu tidak berdampak signifikan. Angka kecelakaan di wilayah itu tetap saja tinggi.

Di akhir 2021 lalu, mulai dari KNKT, Bina Marga Provinsi Jateng, Dinas Perhubungan, hingga pihak kepolisian sudah turun untuk mengecek langsung kondisi jalan tersebut. Namun sepertinya hal itu tidak berubah banyak. Wacana untuk menyediakan jalur penyelamat kembali atau penyediaan jalur alternatif baru sekadar wacana saja.

“Sebenarnya area chek point di wilayah itu perlu dilakukan kembali seperti dulu. Dan saya kira itu efektif dilakukan untuk jangka pendek,” ujar Syaifurrohman, warga Dusun Dalangan, Desa Prumbanan, Kecamatan Kertek.

Bukan tanpa alasan. Pada 2019 lalu, area chek point ini pernah dilalukan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Disperkimhub. Yakni, dengan menyuruh semua kendaraan bertonase besar berhenti. Kemudian di cek kondisi fisik sopir dan kesehatan kendaraan melalui Early Warning System (EWS).

Namun sayangnya hal itu tidak berlangsung lama. Hanya kurang lebih tiga bulan pemasangan EWS dilakukan. Dan  nyaris tak ada kejadian laka melibatkan kendaraan tonase besar di daerah tersebut.

“Saya nggak tahu secara pasti mengapa ini kemudian dihentikan. Padahal menurut saya, itu cukup bagus untuk mengurangi risiko kecelakaan,” ungkapnya.

Selain itu, menurutnya, di kawasan tersebut masih perlu jalur penyelamat kembali. Sebab, dengan melihat panjangnya turunan itu, paling tidak dibutuhkan minimal dua jalur penyelamat.

“Penyediaan jalur penyelamat yang hanya satu itu belum efektif untuk menghindari kecelakaan yang sering terjadi di wilayah itu,” katanya.

Terlepas dari hal mistis yang menyertai rentetan panjang kecelakaan di sana, Rohman mengaku jika langkah solutif yang nyata sangat dibutuhkan. Sehingga risiko dari kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar bisa dikurangi. (mha/git/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya